Langsung ke konten utama

Postingan

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...
Postingan terbaru

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...

Membiasakan Keasingan

Apa ya kemungkinan terburuk dari orang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?  Keasingan pada objek, ruang, orang, momen hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, saya percaya sejatinya kita semua dekat dengan keasingan.  Tapi, saya sendiri yang sudah berulang kali berada dalam situasi sama, juga masih pandir dalam mengelola perasaan pada keasingan. Aneh rasanya, berkunjung ke rumah makan yang sama, dengan pilihan meja dan menu serupa, tapi dengan orang yang berbeda.  Atau, keanehan lain karena harus memulai obrolan super canggung dengan orang yang tadinya tidak pernah lepas jadi pendengar sekaligus pencerita setiap hari, setiap waktu. Bagi saya, hal-hal tersebut selalu terasa aneh untuk dirasakan, untuk dijalani. Namun, saya juga meyakini dengan pasti hal-hal serupa memang perlu ada dan akan selalu ada. Pada titik ini, saya merasa membiasakan diri pada keasingan hanya bisa dilakukan oleh dua jenis manusia. Mereka yang sepenuhnya menggunak...

Lebaran dan Antusias yang Bergeser

Saya tadinya sempat sepakat, semakin dewasa seseorang, entah bagaimana dan kenapa lebaran jadi entitas yang makin biasa saja dan kehilangan marwah sekaligus kemegahannya. Dalam budaya timur, setidaknya lingkungan dan budaya saya, bertambahnya usia seseorang dari fase anak menuju remaja sampai akhirnya menjadi dewasa penuh, berarti juga kehilangan pundi-pundi THR dari sanak famili, itu juga yang terjadi pada saya.  Tapi, apa iya itu yang membuat saya kehilangan antusias menyambut lebaran? Atau karena ketika dewasa, saya tidak lagi punya waktu dan momen untuk melakukan serangkaian kegiatan selama ramadan dan lebaran, tersebutlah buka bersama, main petasan, jalan-jalan pagi, atau antusias berbelanja baju baru dan kue lebaran. Atau, memang dasarnya saya saja yang makin dewasa ternyata juga makin jauh dari agama, entahlah. Saya cukup lama denial dan tidak mau menerima fakta bahwa saya harus merelakan diri tidak bisa terlibat di banyak acara buka bersama, sahur on the road, memainkan mer...

Cinta dan Kalkulasi

Ada yang bilang, seseorang hanya jatuh cinta satu kali dalam hidupnya, sisanya hanya melanjutkan hidup. Ada juga yang bilang, cinta itu seperti hantu, semua orang membicarakannya, tapi tidak semua orang mempercayainya. Kali lain, ada lagi yang bilang, cinta itu sesederhana saya untuk kamu, dan kamu untuk saya, selesai. Apapun itu, saya mengilhami dengan penuh kesoktahuan tingkat tinggi bahwa cinta memang entitas maha kompleks dan rumit.  Saya tidak percaya bahwa saya hanya jatuh cinta satu kali seumur hidup, namun juga tidak yakin bahwa saya bisa berkali-kali merasakan cinta dengan gairah, ambisi dan rasa yang sama besarnya. Apa yang membuat seseorang jatuh cinta? Karena persamaan playlist? Persamaan preferensi liburan? Persamaan genre film? Buku favorit? Makanan kesukaan? Atau, karena obrolan yang nyaman dan sefrekuensi? Atau atau, karena memang dia orangnya?  Saya juga tidak sepenuhnya yakin, perasaan yang terjadi ketika saya menjalin dan menjalani hubungan dengan seseorang ...

Menyelami Kepala Wregas Bhanuteja Lewat Budi Pekerti

Sekali lagi Wregas Bhanuteja membuktikan bahwa ia memang sutradara yang patut diperhitungkan dan layak mendapat atensi lebih. Budi Pekerti jadi salah satu medium yang menegaskan kepiawaian Wregas dalam bertutur, brengsek memang, ia benar-benar ulung. Saya puas secara personal karena Budi Pekerti berhasil menunaikan tugas utamanya sebagai karya yang bagus dan tidak terlena dengan pesan moral krusial.  Sebagaimana pun besar dan krusial pesan yang dibawa, saya selalu berpegang teguh kekaryaan dan kualitas film harus berada pada satu atau beberapa lapisan lebih baik di atasnya, dan Budi Pekerti berhasil untuk itu. Skenarionya solid dan kaya, bisa dipahami bahwa skenario ini melewati proses panjang dan ditulis secara mendalam dengan kecintaan yang juga besar. Lalu, diinterpretasikan dengan jajaran pemain yang juga sangat luwes dan terpercaya. Ketika menonton saya benar-benar larut dalam intrik keluarga bu Prani, saya tidak sedang melihat Sha Ine Febriyanti, Dwi Sasono, Prilly Latuconsin...

Merespon Duka

Saya selalu penasaran, juga menyimpan sebuah pertanyaan tanpa jawab setidaknya 3 tahun belakangan, benar-benar 3 tahun, sebenarnya sampai mana limitasi perasaan manusia bisa diuji? Pertanyaan itu datang tak lama setelah Ibu meninggal 2020 lalu, saya yang tadinya merasa selalu punya safe place atas setiap kesalahan juga kegagalan dalam hidup, secara serta merta runtuh dengan mudahnya. Pada titik itu, saya mencapai rasa sedih dan marah yang teramat, saya kira, saya sudah sampai di limitasi rasa duka terjauh yang bisa saya rasakan juga keluarkan. Tak sampai dua tahun setelah kepergian Ibu, nenek saya berpulang, dan benar saja, rasa sedihnya tak sedahsyat kehilangan Ibu, saya berkontemplasi, apakah iya limitasi terjauh saya dalam mengungkapkan juga meluapkan rasa sudah lebih dulu tumpah ruah saat melepaskan mendiang Ibu. Atau, justru ada bagian-bagian dalam diri saya yang entah bagaimana caranya dan bagaimana mendeskripsikannya mengalami perubahan, sederhananya belakangan saya menyebutnya ...

Antologi pt 1

SERASA Awalnya, Kukira kita adalah medium yang beriring, yang mengekalkan tanpa mengelakkan Kukira kita serupa kata yang tersusun menjadi kalimat pujangga, ternyata hanya sekumpulan huruf abstrak tak bermakna Kukira kita adalah dua yang sengaja dipersatukan, ternyata hanya dua yang berusaha dipaksakan Kukira kita dua dengan rasa yang sama besar, ternyata hanya rasa sepi yang menyamar Kukira, aku terlalu terlalu banyak mengira hal baik tentang kita Percayalah, sudah ku usahakan semampuku, juga ku iringi dengan banyak rasa Sampai akhirnya, aku sadari, semesta tak selalu berbaik hati pada setiap insan yang jatuh hati Semoga baik bagimu, juga ku Semoga lega bagiku, juga mu Semoga kau tetap tau Aku pernah jatuh padamu, dalam sekali MUNGKIN KITA PERLU Barangkali kita butuh jeda sejenak Dari semua bising, tanya dan ragu Mungkin juga perlu kembali menata Rasa dan kata-kata Siratan dan pilihan Mungkin kita perlu terima Bahwa tak perlu ada kesempatan kedua Mungkin kita perlu kembali Pada keasing...

Parade Ruang

Aku kembali menyusuri ruang-ruang yang ternyata berujung Ruang yang tadinya tak berani ku bayangkan sampai akhirnya enggan ku tinggalkan  Ku temui banyak riang, juga beberapa rasa yang masih tak terdefinisi  Ruang itu pekat, berkat cahaya yang kilaunya lekat Ruang itu selalu menghadirkan ruang-ruang baru pada setiap ketidakhadiran, juga pada setiap kesukaran Yang ku panjat, ruang itu bertumbuh Menjadi medium yang tidak saja baik, namun juga kekal  Yang ku mau, ruang itu berseri Menjelma jadi medium terbaik untuk menetap Yang ku enggan, ruang itu berganti Dengan nyawa dan rasa baru yang memaksa Memaksa yang belum saatnya untuk cepat Memaksa yang redup untuk benderang Biarkan saja ruang itu bertumbuh juga bertujuan sebagaimana harusnya, dengan sinaran surya yang menyilaukan atau sorotan bulan yang menenangkan  Apapun itu, nanti, bagaimana, dan mengapa Aku enggan berganti.

Sepiring Nasi Kare dan Bahasa Cinta

Cerita ini sudah pernah saya publikasikan di Instagram @fahmiisme, melalui blog ini, saya ingin mencoba menyadur dan bertutur sedikit lebih panjang, selamat membaca! Beberapa malam lalu, secara impulsif saya ingin cari gudeg setelah seorang teman mengirimkan foto sedang makan apa ya namanya, entah lontong sayur atau apalah itu berkuah kuning, niatnya cari kudapan semacam itu juga, namun karena sudah kelewat malam dan banyak tempat makan yang tutup ditambah referensi saya soal gastronomi juga tak terlalu banyak, jadilah saya berburu gudeg yang saya anggap cukup mirip dengan makanan yang saat itu saya belum tau namanya, belakangan saya tau bahwa itu adalah nasi kare, yang sialnya setelah saya coba cari-cari juga tidak membuahkan hasil. Secara pribadi, gudeg makanan yang sangat jarang saya makan, menurut lidah saya yang jauh dari kata baik dalam menilai makanan, itu terlalu manis untuk jadi kudapan berat. Tapi entah, impulsif memang, berbekal kesotoyan tinggi saya menyusuri jalanan kota y...

Jeda, Pisah dan Terselip

Seperti yang ku ucapkan dulu beberapa menit sebelum berpamitan, aku kembali di peron yang sama seperti 3 tahun silam saat kamu antar. Ternyata stasiun tak terlalu banyak berubah ya, WC belakang dekat parkiran motor tetap kotor dengan bau khas nya, bahkan sekarang tambah bau dan bersahutan dengan suara jangkrik serta kodok selepas hujan sore tadi.  Aku mematung beberapa saat, mengamati sekitar sembari berpikir keras mengumpulkan ragam memori yang pernah terjadi di stasiun ini.  Aku memutuskan pergi, mencari tempat yang bisa leluasa untuk meluruskan kaki sembari merokok dan memantau tarif ojek online, aku sengaja tak memberi kabar untuk minta dijemput, aku yang biasanya tak suka dengan kejutan kali ini sedikit ingin mengejutkan. Ternyata juga, Angkringan mbah Mo dekat pertigaan stasiun masih buka ya, aku sempatkan mampir sebentar, mbah Mo makin tua ya, katarak nya juga makin parah. Dia tak seberapa ingat denganku walaupun sudah kuceritakan hal-hal yang sekiranya bisa mengingatka...

Satria Dewa : Gatotkaca

Gue bingung harus mulai darimana, intinya gue happy nonton Gatotkaca, film pembuka yang asik dari Satria Dewa Universe.  Gue ngerasa Gatotkaca punya potensi yang sebenernya bisa dieksplor dan dieksekusi lebih baik lagi, mengingat budget produksi mencapai 24m gue ngerasa keseluruhan aspek filmnya harusnya bisa lebih, gue jelasin apa-apa aja yang terasa minor dari sudut pandang gue sebagai penonton, yang pertama dan utama tentu aspek fighting yang intensitas munculnya padet di sepanjang jalannya film, gue awalnya cukup berekspektasi tinggi karena ada nama-nama macam Yayan Ruhian, Cecep Arif Rahman, dan Max Metino yang selain jadi aktor juga bisa jadi koreografer fighting. Gak ada yang salah dengan scene fighting ketiganya, cuma pr besarnya adalah beban fighting bukan cuma di mereka, tapi ya ensemble cast, dan gue ngerasa beberapa pemain kurang luwes atau kurang pd buat eksekusi scene fighting, keliatan dari gimana mereka bergerak, dan makin keliatan lagi dari transisi shot fighting y...

Hil yang Mustahal

Tentu, saya bukan seorang yang tumbuh atau bahkan lahir dengan guyonan khas Srimulat, guyonan nya memang khas, kalimat yang hingga kini masih sering terdengar "guyonan Srimulat" entah grup Srimulat sendiri yang memprakarsai guyonan yang kini masih sering digunakan atau mereka sekadar mempopulerkan. Pun, saya merasa tidak memiliki kedekatan sentimentil atau perasaan suka yang teramat karena era jaya mereka memang jauh sebelum saya lahir, saya hanya tau beberapa nama besar dari pentolan grupnya lewat talk show masa kini yang mengungkit kejayaan grup tersebut. Menyoal filmnya, Srimulat : Hil yang Mustahal, saya datang tanpa ekspektasi tinggi, dan ternyata cukup memuaskan. Saya tidak kenal Srimulat, tidak juga merasa dekat dengan gaya berkomedi mereka, tapi puas sekali menonton filmnya, harus saya akui bahwa tawa yang keluar dari saya dan mayoritas penonton lain bukan tawa meledak-ledak, tapi tawa kami padat, dan sering. Chemistry Bio One dan Elang El Gibran lewat Gepeng dan Basu...

KKN di desa penari : Potensi eksplorasi yang tidak maksimal.

Sub judul di atas rasanya adalah satu kalimat tepat untuk menggambarkan bagaimana film KKN di desa penari secara utuh.  Saya paham bahwa keputusan tim penulis untuk tetap menjaga keaslian cerita dan tidak keluar jalur dari thread aslinya adalah keputusan benar, sayangnya adaptasi thread yang diharapakan akan memunculkan ruang-ruang eksploratif baru entah dari segi cerita, karakter, atau bahkan visual dari Badarawuhi dan koloninya tidak terjadi, teramat disayangkan. Bagi penonton yang sudah merampungkan thread nya akan merasa bahwa menonton filmnya sama seperti dituntun membaca thread nya kembali, hanya saja dengan suguhan visual, saking samanya film dengan thread, iyakan?! Jika ada yang memenangkan saya secara personal dari film ini, adalah aspek sinematografi dan departemen art serta production design. Memuaskan sekali, setidaknya bagi saya pribadi. Transisi shot nya dinamis, walau di beberapa scene ada beberapa pengulangan shot yang terasa sekali, entah ingin menunjukkan kesederh...

Selesai

Aku menyesali bahwa kita tidak pernah benar-benar selesai Aku menyesali kita enggan untuk berpindah, berpindah pada ruang yang jauh lebih melegakan masing-masing kita Ruang yang kita jajaki dengan sepenuhnya keterbukaan hati masing-masing setelah kita terpaksa sama-sama Sama-sama meninggalkan yang cukup untuk yang sepertinya lebih banyak, meninggalkan yang nyaman untuk yang barangkali lebih menyenangkan, meninggalkan yang satu untuk yang terlihat bisa menjadi padu, ternyata, aku menyesal Aku menyesali dengan sangat Meninggalkan semuanya Meninggalkan kita Meninggalkan diriku pada hubungan yang tidak selesai  Aku tidak sampai hati mengharap kau menyesal atas hal yang sama denganku, tapi aku sungguh merapal semoga kau sekali saja setidaknya, menyesal dengan rasa yang sama Rasa yang kupikir akan reda seiring waktu berjalan, ternyata medium waktu tak cukup bisa menghentikan rasaku Entah dengan medium apa aku bisa lupa, atau setidaknya reda, atau barangkali aku memang benar-benar enggan ...

Jatuh

Kiranya, kita adalah medium yang beriring, yang mengekalkan tanpa mengelakkan Ku usahakan semampuku, ku iringi dengan banyak rasa Sampai akhirnya, aku sadari, semesta tak selalu berbaik hati pada setiap insan yang jatuh hati Kukira kita serupa kata yang tersusun menjadi kalimat pujangga, ternyata hanya sekumpulan huruf abstrak tak bermakna Kukira kita medium yang sengaja dipertemukan, ternyata hanya dua yang berusaha dipaksakan Kukira kita dua dengan rasa yang sama besar, ternyata hanya sepi yang menyamar Kukira, aku terlalu terlalu banyak mengira hal baik tentang kita Semoga baik bagimu, juga ku Semoga lega bagiku, juga mu Semoga kau tetap tau Aku pernah jatuh padamu, dalam sekali

Lo juga?

Gue belakangan ngerasa banyak banget buang-buang waktu, bukan buang-buang waktu buat ngelakuin hal yang gak penting, tapi buang-buang waktu buat gak ngelakuin apa-apa bahkan. Rasanya kayak gak ada tujuan yang mau gue kejar, padahal jelas-jelas keliatan depan mata, rasanya juga kayak gak ada motivasi buat ngelakuin sesuatu, padahal juga lagi gak bermasalah sama sesuatu. Brengsek banget, bermalam-malam gue ngabisin waktu buat mikir, sebenernya gue kenapa sih, apa sih yang sebenernya gue mau, pertanyaan yang gue anggap simpel ternyata belom juga nemu jawaban yang bikin gue lega, atau seenggaknya bikin gue berhenti kontemplasi. Gue sih capek ya sebenernya, kesel juga sama diri sendiri. Gue gak mau terlalu mendramatisir ini jadi sesuatu yang terus-terusan ngusik di kepala, tapi gue juga belum tau cara escape nya.  Ada yang bilang sih, katanya udah harusnya berhenti lari dari sesuatu yang kita anggap gak nyaman, barangkali bener, gue harusnya udah mulai belajar buat berhenti lari dari se...

Magisnya Penyalin Cahaya

Ingat dan catat namanya, Raphael Wregas Bhanuteja. Saya sudah teramat antusias dengan proyek ini sejak pertama kali diumumkan bahwa Wregas akan menggarap film panjang pertamanya, bahkan ketika judul film, genre, pemain dan semua kompleksitasnya belum terkuak, sama sekali belum ada petunjuk, tapi saya meyakini dengan sangat bahwa ini akan jadi sebuah karya yang penting berbekal menilik karya-karya film pendek Wregas sebelumnya, dan antusiasme juga penantian saya akhirnya berbalas sajian 130 menit yang benar-benar memikat nan mengikat. Sesaat setelah menonton, saya akhirnya benar-benar bisa mengilhami ungkapan bahwa film tidak saja sekadar, tapi jauh lebih dari itu, jauh lebih kompleks, medium bernama film nyatanya bisa ditarik ke spektrum yang sangat jauh, dan saya menginterpretasikan Penyalin Cahaya sebagai bentuk perlawanan serta pernyataan sikap. Penyalin Cahaya, sebuah film yang bagi saya hampir sempurna secara keseluruhan, skenario dan development masing-masing karakter sungguh san...

Bangun, Bajingan

Ya, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Rasanya saya sudah dimenangkan oleh film ini sejak scene pertama barangkali, yang membuat saya berujar what the fuck, yang nyatanya jadi kalimat repetisi yang sering saya ulangi di scene scene ke belakangnya. Sejujurnya, saya bingung harus darimana mengulas dan menilai film ini, ini film yang benar-benar brengsek, luar biasa liar, eksotis nan erotis, gelap namun juga berkilauan di banyak layer, skenario dan cast nya solid dan kokoh bukan main. Menyoal production designer dan art director, artistik dan dunia yang dibangun di film ini adalah mahakarya, luar biasa indah dengan suguhan 80-90an sampai-sampai saya bisa merasa hidup di jaman yang bahkan belum tau rasanya hidup. Saya disuguhi banyak sekali rasa dalam film ini, kegetiran, kengerian, haru pilu tentu, juga kepuasan yang berlebih. Luar biasa, salah satu film yang rasanya akan susah keluar dari ingatan kepala saya. Film ini membawa sedemikian banyak isu penting dan dikuliti hingga spek...

Losmen Bu Broto

Putri Marino invasion. Mari kita mulai dari situ. Tak berlebihan rasanya jika saya bilang kualitas akting Putri Marino sebagai Mbak Pur luar biasa meyakinkan secara meta maupun emosi, saya berhasil dibawa ke realita fiksi dalam dunia yang dialami mbak Pur tentang seberapa miris dan memilukan kisah asmaranya yang ternyata berdampak sedemikian signifikan sepanjang film, kemarahan dan kesedihannya barang tentu adalah sesuatu yang banyak dieksploitasi secara verbal maupun metafor di banyak scene, tapi saya menyoroti satu hal, matanya, sungguh sangat menyiratkan banyak pesan yang lebih kuat dari sekadar tangis atau kemarahan yang dia keluarkan. Bagi saya, mbak Pur adalah kebanyakan dari kita, yang lebih banyak memendam rasa dibandingkan mengutarakan, yang lebih baik menghindari daripada melawan, pada akhirnya itu hanya jadi bom waktu yang akan meledak tanpa tanding, berbeda dengan adiknya, Sri, yang cukup fluktuatif dalam mengeluarkan emosi yang dirasakannya, tawa tangis redam perlawanan si...

Arsip rasa

Ketika memulai tulisan ini, saya coba menarik mundur dan memunculkan kembali perasaan paling sakit yang pernah saya rasakan, kehilangan. Berminggu-minggu atau beberapa bulan belakangan ini bahkan, rasanya saya tidak benar-benar mampu mendefinisikan sedemikian banyak rasa yang saya lewati, semuanya hampir terasa hampa, saya tak benar-benar bisa merasakan bagaimana rasa bahagia juga sedih setidaknya 3 bulan terakhir, padahal saya merasa itu sesuatu yang perlu. Semuanya terasa seolah baik-baik saja padahal jelas ini bukan sesuatu yang baik. Saya sampai di satu titik ketakutan bagaimana jika ternyata saya mati rasa di beberapa spektrum tertentu.  Melihat video-video dari orang yang filantropi dengan memberikan sumbangan kepada para fakir juga tak sampai hati memunculkan empati dalam diri saya, pun ketika melihat momen-momen kebahagiaan yang berseliweran di sosmed, biasa saja. Pertanyaan muncul berdatangan, bagaimana jika ternyata memang mati rasa, bagaimana jika ternyata memang perlu m...

20an

Barangkali, hidup emang sengaja menempatkan manusia pada tiap-tiap masa usia untuk dinikmati secara pol-polan, mau seneng seneng, sedih, chaos, brutal, juga main aman sepanjang masa, barangkali, memang selalu ada masanya bagi setiap hal, masa merasa menjadi gerombolan bermain paling asik diantara generasi atau kelompok lainnya, masa merasa harus mendobrak stigma juga menabrak aturan main, juga banyak lain lah yang kita sama-sama tau juga alami kan. Coba kroscek mundur, yang terbiasa selalu ramai bersama akan disuguhi situasi dalam kesendirian dan sepi, yang biasanya selalu ada backup plan tiba-tiba saja stagnan di momen yang membuat kita membatin "Bangsat, dulu kayaknya momen kayak gini bisa dilewati dengan gampang deh, punya plan b c d juga bisa improve sana-sini meskipun kemungkinannya kecil, tapi kenapa sekarang jadi berat dan beda banget". Banyak yang berubah juga berganti, ada yang bertahan tapi juga banyak sekali yang pergi. Masa-masa kayak gini sih emang anjing banget,...

N

Bagaimana jika ternyata, aku tidak saja bisa menerima dirimu dengan versi terbaikmu, namun juga versi terburuk yang bahkan kau sendiri sungguh membencinya Aku tegaskan, aku pun sungguh bukan sebaik-baiknya insan, malah mungkin saja tidak baik, entah, bagiku terlalu naif rasanya mendeskripsikan diri sendiri  Rasanya, aku juga perlu tegaskan, kau tak harus memainkan peran menjadi sebaik-baiknya insan, cukup, biasa saja, apa adanya Tentu, memanjat doa, membuat dosa, kau berhak sekali melakukannya, pun denganku Aku takut terlalu cepat mengambil kesimpulan dari perjalanan yang entah masih seberapa panjang, seberapa jauh, seberapa besar Yang jelas ku doakan dan ku pinta, harusnya kita, kita, sama-sama mempersiapkan juga bersiap atas hal-hal yang tidak terencana Bagaimanapun nanti Aku inginkan kita menjadi kita dan tetap menjadi kita Entah, ada campur tangan semesta atau apapun, aku tak mau terlalu perduli Bagiku aku sudah menemukan dirimu, dan aku akan berhenti

Marah

Belakangan, gue banyak banget menjadikan rasa yang gue alami menjadi sebuah rasa marah. Terlalu banyak hal yang makin gue cari tau justru gue makin gak ngerti, itu bisa bikin gue marah.  Banyak ketemu orang di publik space, ngeliat mereka ngelakuin sesuatu atau denger mereka ngomongin sesuatu yang menurut gue salah, menggangu, atau ya katrok aja gitu, bisa banget bikin gue marah. Juga, menyoal hidup gue sendiri, banyak banget didominasi rasa marah, dari soal tetangga yang muter lagu kenceng malem-malem, sampek kucing yang berak di kasur, bangsat lah semuanya. Di sisi lain kadang gue ngerasa teramat selfish terhadap diri gue sendiri, bahkan kadang gue marah dan gak bisa kasih garis demarkasi kepada seseorang yang tadinya gue idoalin atau minimal gue suka.  Gue bisa dan sering banget follow unfollow orang-orang di sosmed dengan bias dan tanpa dasar yang jelas gitu, kemarahan gue membawa ke satu titik kegoblokan, yaitu gabisa bedain personal seseorang dan sesuatu yang dia hasilka...

Hidup dan Analogi

Jadi, sebenernya hidup tuh kayak apa? Tujuannya apa dan yang dikejar juga apa? Pas udah mulai dewasa, baru ngerti kan sama dunia yang sebenarnya tuh kayak gimana, ternyata gak seindah cerita dongeng atau rekaan bahagia masa kecil, iyaa, kita semua cukup lama terkurung dalam ilusi perfect life yang sebenernya penuh delusional.  Ternyata, hidup bisa getir banget dan minta di anjing-anjingin, kayak roller coaster aja gitu, ya gak sih?, naik turun, sekalinya naik seneng banget banget karena bisa dapet angin dan space nafas banyak, juga bisa liat view yang oke, di titik teratas pun bisa jadi spot foto yang estetis. Tapi, sekalinya turun, juga curam dan nyeremin banget, bikin teriak teriak kadang juga bikin gak berani ngeliat keadaanya. Atau, hidup sebenernya tuh kayak sebuah perlombaan, yaa, perlombaan yang sebenernya gak pengen lo ikutin tapi mesti. rasanya kayak tiba-tiba aja gitu lo jadi peserta di track lomba, gak ada persiapan apalagi rencana. Kalo mau puter balik startnya udah jau...

Membunuh mimpi

Seringkali, yang terjadi, seringkali juga, yang dilakukan tanpa sadar, atau bahkan dengan kesadaran penuh. Setiap orang adalah pembunuh bagi mimpinya masing-masing. Tentu, bukan orang lain, bukan semesta, bukan juga situasi, tapi ya memang diri sendiri saja. Saya baru saja melakukanya, Saya membunuh salah satu mimpi untuk memperluas jangkauan pembaca tulisan saya, dan tentu, saya melakukannya penuh kesadaran.  Sebagai seorang yang kerap menulis, ada dan besar sekali keinginan untuk tulisan saya dibaca, sebanyak-banyaknya orang pun tak mengapa, hanya saja, saya masih terlalu naif dan belum bisa mengesampingan ego dalam diri saya.  Saya menginkan tulisan saya dibaca banyak orang, namun saya juga sangat mengedepankan konsep idealisme, bahwa saya mau menulis apa yang memang ingin saya tulis, tanpa filter, tanpa kurasi, tanpa pola, bebas saja, semau saya. Di situasi ini, perang batin terjadi, antara harus tetap idealis demi memberi makan ego, atau kompromi dan mencoba realistis. Ko...

Sudah

Aku menyendiri  Dengan beragam tanya tanpa jawab Dengan beragam pilu tanpa tawar Dengan beragam penat tanpa jeda Dengan beragam tangis tanpa seka Ini semua, karenanya Yang pernah berdua Yang pernah bahagia Yang pernah memadu Yang pernah merindu Namun, sirna semua sudah  Kini hanya sisakan kenang, dan mungkin sedikit senang Padanya, entah bagaimana caranya, entah kenapa Pernah dalam sekali ku jatuhkan hati Tanpa ragu dan pikir dua kali Bagiku, dia adalah pelengkap dari yang kurang Penyelesai dari yang buntu Penawar dari yang getir Penenang dari yang gaduh Bagiku, dia selalu bagian diriku Hingga kini, dan aku tidak mau menyudahi.

Story of Kale

Film ini adalah prekuel salah satu karakter dari universe NKCTHI, Kale. Let's do, to the point. Angga Sasongko sebagai sutradara rasanya cukup berhasil menarik mundur dan memulai rasa sakit pada diri Kale sebelum bertemu Awan, bagaimana proses sebelum Kale memiliki prinsip bahwa kebahagiaan setiap orang adalah tanggungjawab masing-masing, sebuah kalimat yang terus menempel di kepala saya ketika pertama kali menonton NKCTHI.  Dalam prekuel ini, Kale dihidupkan sebagai seorang sweet talker yang penuh buaian, di sisi lain, juga sesekali dibumbui ketidakstabilan emosi dan agak meledak-ledak, bagus, tapi entah kenapa rasanya ada yang kurang. Saya yang memposisikan diri sebagai penonton, merasa kurang dengan kedalaman cerita dan rasa itu sendiri, prekuel ini unggul dari aspek skenario, dengan kalimat-kalimat yang mungkin setelah kalian menonton bisa dijadikan quote di wallpaper hp atau tembok kamar. Tapi, skenario saja rasanya juga tidak cukup menutup kompleksitas yang ada, sungguh, sepa...

Political correctness

Sebenarnya saya pribadi tidak cukup meyakini apa padanan dan terminologi yang paling sesuai untuk bisa mendefinisikan apa itu political correctness atau politically correct, sederhananya itu adalah sebuah tatanan dan norma tidak tertulis yang dijadikan semacam benchmark dalam tata kehidupan, mengatur bagaimana seharusnya seseorang berbicara, bersikap, bahkan mungkin berpikir, semua diminta untuk patuh pada keteraturan tersebut, untuk menghindari pelanggaran atau kerugian bagi anggota kelompok tertentu, sayangnya, justru lebih banyak menimbulkan multi persepsi argumen dibandingkan keteraturan itu sendiri politically correct yang bertujuan mengatur serta menertibkan, kesannya justru membelenggu dan membatasi, membatasi ruang dialog, membelenggu kebebasan nalar kritik dan kritis, selain itu, pertanyaan besarnya juga adalah, politcally correct ini menggunakan standard yang entah milik siapa dan dengan dasar apa, lantas apakah karena standard nya dipakai lalu bisa bebas dan tanpa batas ...

Tai Banget Yaa

Gak tau ya, sampai mana limitasi perasaan manusia bisa diuji, bisa bertahan, bisa tetap waras dengan semua hal yang kalo dipikir kadang sebenernya gak manusiawi banget, tapi kalo dipikir lagi, sampai mana juga limitasi manusia di tahap manusiawi itu sendiri? gak jelas juga. Tulisan ini adalah sedikit dari sekian pikiran liar yang ada di kepala, saya tak tahu medium yang paling tepat untuk mengungkapkan, entah melalui lukisan, coretan, atau coba saya diskusikan untuk mencari titik temu, nyatanya saya tetap tidak menemukan kesimpulan terbaik. Saya lelah sekali, dengan apa yang ada di kepala saya sendiri. Terlalu banyak hal yang tidak saya mengerti, terlalu banyak ruang yang tidak mampu saya singgahi, terlalu banyak rasa yang tidak dapat saya rasakan, rasanya, saya serasa mati rasa untuk merasa. Walaupun, saya percaya bahwa hidup ini memang dekat dengan hal-hal yang tidak kita mengerti, malah malah ketidaktahuan kita justru mendominasi dan mengikiskan hal yang sebelumnya amat prinsipil ba...

Theater of Mind

Kadang, di situasi tertentu saya berkontemplasi cukup lama dan dalam sekali, saya coba menyusun pikiran-pikiran liar di kepala dan mencoba menjadikannya kerangka utuh, yang walaupun seringkali tidak mendapatkan konklusi yang memuaskan dari kontemplasi yang saya lakukan, paling tidak dapat mengajak otak saya berputar dan semakin mengenali diri saya sendiri. Tentu, ada kalanya berpikir teramat melelahkan, memuakkan, juga menjengkelkan. Saya tak tau sejak kapan tepatnya, di kepala saya selalu ada dark voice dan semacam alter mind yang terus-terusan menabrak logika saya yang selama ini saya anggap logika waras, ketika saya memikirkan satu hal, otak saya menjadikannya dua cabang bahkan lebih, tentu, banyak perspektif yang muncul, tapi percayalah, itu menyiksa. Semacam ada banyak sekali suara di kepala sendiri yang bahkan kita tidak sepenuhnya yakin atas semua suara yang ada, susah dan bias sekali mencari kebenaran yang mutlak di kepala sendiri. Namun, di sisi lain saya juga merasa mendapat ...

Inginku

Inginku, kita bersama dan senantiasa menjaga satu dan lainnya Inginku, kita menua dengan berbagai kenangan gila masa muda Inginku, kita terbahak-bahak menertawakan betapa bodohnya seisi dunia Inginku, banyak, tentu dirimu adalah salah satu yang termasuk dan tanpa perlu ada kompromi dengan apapun dan siapapun Jikapun ternyata semesta punya rencana diluar apa yang ku damba, tak mengapa Akan kupastikan aku menentang dengan lantang, tentu, itu sepadan dengan apa yang ku perjuangkan, dirimu Iyaa, aku akan mengusahakan semuanya Tentu untuk satu nama Mungkin terdengar heroik dan luar biasa, namun sebagian lain justru menganggap picik dan nestapa Aku tak peduli dengan bagaimana dunia akan bereaksi, aku mau kamu, selalu mau Tapi Ternyata Ini bukan cuma tentang apa yang aku mau, apa yang aku ingin, dan bahkan, bukan cuma tentang aku

Serasa

Iyaa, hubungan ini terkesan berat dan teramat buru-buru Mungkin kita saling tak menduga, sama-sama belum sepenuhnya percaya, atau merasa belum seharusnya Begini, kita coba terlebih dahulu Bukan untukmu, juga bukan untukku Kita coba beri waktu untuk hubungan ini Kita coba beri kompromi untuk saling Kita coba beri kesempatan untuk percaya Kita coba beri ruang untuk memahami Kita coba beri rasa untuk bersabar Kita coba beri proses untuk bertahap Kita coba beri kuat untuk bertahan Mari, berdua sama-sama Jika ternyata tetap tidak bisa, sungguh tak mengapa, aku sangat bisa menerima Bahwa, memang tidak seharusnya dan tidak perlu dipaksakan untuk harus Tidak perlu dipaksakan untuk tetap Tidak perlu dipaksakan untuk saling Tidak perlu dipaksakan untuk seiring Tidak Tidak perlu dipaksakan

Bisa ya

Gue gambling banget harus gimana Rasanya kayak tiba-tiba aja gitu jadi peserta di perlombaan yang gak pengen gue ikutan Start mulainya udah jauh banget, tapi garis finish juga belom keliatan nih Kalo nyerah disini jangan-jangan dua belokan lagi sampek Kalo lanjut terus jangan-jangan masih puluhan tikungan lagi Ya tuhan, gue capek banget Orang-orang kayaknya pada enak banget, bisa aja gitu lurus lempeng tanpa beban Orang-orang kayaknya santai banget, jalan aja gitu nikmati semuanya Orang-orang kayaknya happy banget, banyak aja gitu yang support di belakang Orang-orang kayaknya seru banget, beragam warna aja gitu yang dilewati Orang-orang kayaknya, eh bentar bentar Gue bilang kayaknya Gue kan gatau ya yang sebenernya Kayaknya gue deh yang terlalu overthinking sama semuanya, iya deh kayaknya Pasti banyak yang jalannya lebih berat, pasti banyak yang situasinya lebih susah, pasti banyak yang tanggungannya lebih gede, pasti banyak yang gak mau nyerah cuma karena capek Udah ah, atur nafas dan...

Temu

Mari meramu semua keraguan Menjadikannya satu Balut dengan kepercayaan Dan rayakan dengan temu Maukah, sekali lagi Berdua saja, berjanji untuk tidak saling berpaling Bersama, sama-sama menguatkan dengan kuat Aku yakini, kali ini setulus hati Jika tidak, juga tak mengapa Aku akan tetap menunggu Sampai kau siap memulai kembali Sampai kau yakin dan membuang semua ragu Sampai kau berani mengambil resiko sakit hati Sampai kau percaya aku mampu setia Sampai kau memilih bahwa aku yang kau kasih Sampai kau kembali pada satu nama Sampai pada saat itu terjadi Aku akan tetap menunggu Temu

Iya kan

Bagaimana pun, tidak semua hasil selalu lewati proses yang sama, tidak dengan situasi yang selalu senang, tidak pada kondisi yang pasti tenang. Mungkin banyak luka lara, rubuh runtuh, kelam kejam. Sepertinya, hidup memang demikian, dan juga harusnya berjalan demikian, serupa ruang-ruang yang tidak serupa, berbagai medium warna yang selalu konsisten untuk berubah ubah. Pada ruang ruang tersebut, kita dekat dengan perpindahan, kebisingan lalu keasingan, kesenangan dan mungkin kesengsaraan. Tetap saja, tidak akan pernah sama antara satu dua dan lainnya. Rasanya, satu satunya cara terbaik yang bisa selalu dilakukan makhluk bernama manusia adalah berkompromi. Pada situasi yang terjadi, pada ego diri sendiri, dan pada kompromi itu sendiri. Kita mungkin lelah, ingin pasrah atau berserah dan memilih kalah. Tapi kita juga bisa kuat, dikuatkan dan menguatkan. Dari semua paradoks yang tak terjawab, dan semua asumsi yang kontemplatif. Kita seharusnya berkesimpulan utuh pada satu kepercayaan, diri ...

Tujuan Hidup

Pernah mikir gak sebenarnya tujuan hidup tuh buat apa? buat nyenengin orang lain? buat nyenengin diri sendiri? atau justru hidup adalah ajang persaingan dengan orang lain?  Gue ngerasa semakin dewasa justru banyak bitter truth dalam hidup yang terungkap dan mulai harus diterima secara realistis, pait emang, tapi ya gitu adanya. Analoginya nih ya, hidup tuh semacam perlombaan yang lo sebenarnya gak pengen ikutin, tapi mesti. Kadang lo cuma pengen jalanin hidup lo secara santai dan nikmatin semua momen momen kecil di sekitar lo, tapi karena banyak temen lo yang kelewat ambisius dan anggep hidup sebenar-benarnya persaingan, hingga lo secara tidak sadar memilih melupakan kebahagiaan dan hal-hal yang sebelumnya lo nikmatin karena lo ngerasa juga harus compete sama dia, harus bisa bersaing buat sampai finish. Padahal ya, start orang beda-beda, track yang dilalui beragam, tujuannya pun beda juga, jadi ya sebenernya lo gak harus compete, lo gak harus apa-apa cepet kok, yang penting lo nikm...

Indonesia Harganya Berapa?

Susah ya jadi warga Negara yang baik? Dari hal sederhana semacam membuang sampah pada tempatnya atau menegur orang yang buang sampah sembarangan malah dianggap pencitraan dan sok paling bener, atau ke praktik yang lebih kompleks semacam bahwa mengerjakan tes atau ujian sesuai prosedur dan jujur dianggap kuno dan tidak mengikuti trend kebanyakan , bahkan sedari awal kalimat di tulisan ini sudah mengandung multitafsir dan menjadi  bias dengan konteks kata “baik”. Baik menurut standart siapa? Kenapa harus standart itu yang dipakai? Kenapa standart yang dipakai menjadi indikator dan tolak ukur? Serta banyak pertanyaan lainnya. Jadi sebenarnya harus seperti apa ? Menjadi patuh pada akhirnya dianggap kolot atau konservatif sementara ketika mulai terbuka dengan hal yang berbau modernisasi dicap liberal atau diserang dengan narasi tidak nasionalis, serba salah kan? Juga masih teramat banyak hal yang berpotensi membelenggu kebebasan seseorang dalam pencarian jati diri menjadi warga Nega...

Kalo mau marah, marah aja kali

Semakin dewasa, gue ngerasa semakin banyak hal yang sebelumnya biasa aja dan gak terlalu substansial sebelumnya dalam hidup jadi terkesan kompleks dan substansial abis. Banyak hal yang harus lo kompromi, harus lo gapapa in, harus lo iyain semakin lo dewasa, padahal itu mungkin bertentangan dengan prinsip hidup yang lo pegang dan jalani. Pilihannya, ya lo terima, iya iya aja, biar semuanya jadi baik-baik aja. Gak ada konflik, gak perlu ngotot-ngototan argumen, gak perlu silat lidah, karena makin dewasa juga makin males ngeluarin effort buat hal hal yang sebenernya gak perlu perlu amat didebat, lo tuh gak harus selalu menang kok, perlu juga sesekali kalah dan ngalah, itu gapapa. Pertanyaan selanjutnya adalah, makin lo memaklumi dan kompromi dengan banyak hal yang gak sesuai apakah berarti lo gak boleh marah? gak boleh konfrontatif? gak boleh vokal? yaa boleh aja kali, bisa gila lo kalo terlalu mendem banyak masalah dan gak pernah lo keluarin. Gue percaya setiap orang sebenernya puny...

Mungkin Kita

Barangkali kita butuh jeda sejenak Dari semua bising, tanya dan ragu Mungkin juga perlu kembali menata Rasa dan kata kata Siratan dan pilihan Mungkin kita perlu terima Bahwa tak perlu ada kesempatan kedua Mungkin kita perlu kembali Pada keasingan masing masing Mungkin kita perlu tersadar Pada harapan yang lama pudar Mungkin kita perlu percaya Pada takdir yang tak sesuai rencana Mungkin kita perlu merasa Pada rasa yang telah sirna Mungkin kita perlu mengamini Pada hati yang tak lagi tersakiti Mungkin kita perlu merayakan Pada jujur yang lama tertahan Mungkin kita perlu mengingat Bahwa tak ada satupun yang perlu diingat

Renjana

Renjana Temukan dalam jumpa Padukan akan rasa Rekatkan dengan doa Satukan pada Hagia Renjana Jelaskan yang tersirat Agar sama-sama saling Uraikan yang tertutup Tuntun pada keterbukaan Renjana Dalam termenung Menyusuri petang menjumpai kekal Dalam terpaku Memantra doa mengepal rasa Renjana Dominasi dengan suka Iringi dengan canda Sekali sisipkan duka Agar tak lupa pinta doa Renjana Tidak saja kali ini Aku bermain hati Pada dirinya Dengan sebenar-benarnya Renjana Aku menginginkannya Hanya dirinya Tanpa lain dan tapi Tanpa ragu dan syarat Renjana Lekatkan Dekatkan Pekatkan Satukan Renjana Rencana Kali ini, kuharap selaras dengan hati dan nurani

Memoar : Babak satu

Kita pernah teramat saling Berbahagia juga bersuka Namun juga pernah sama-sama paling Menyakiti juga mengingkari Bagaimanapun, kita pernah berjanji Saling membutuhkan Saling memahami Saling menerima Tetapi, kita juga pernah sama-sama Melepaskan Tidak peduli Berpaling Sekarang, kita harusnya tau Bahwa masing-masing telah menjadi asing Mungkinkah, kelak kembali merebak Sepasang dan menyayang Mencoba memahami sekali lagi Mencoba menerima kali kedua Babak satu

Freedom of speech : Kebijakan prematur dan banyaknya tai

Sampai pada saat nulis ini, gue masih bersikukuh pada teori bahwa freedom of speech itu gak absolut dan sebenar-benarnya bebas, ada batas disana, batasnya adalah hak dan ketersinggungan orang lain. Iyaa, batasan itu ada, tapi abu-abu banget. Contoh paling sederhananya lo bisa mengucapkan satu kalimat yang sama kepada dua orang yang berbeda, dan mungkin lo akan dapet dua respon yang berbeda, satu orang biasa aja, satunya tersinggung dan marah-marah, padahal kalimatnya sama.  Jadi ketersinggungan itu batasnya abu-abu, dan bingung juga standard siapa yang mau dipakai buat dijadiin patokan.  Masalahnya, kebijakan dan otoritas yang mengatur Freedom of speech itu sendiri juga bias, kalo kita ngomongin hak sebagai manusia. logikanya ya kita sangat punya hak untuk menggunakan hak freedom of speech kita. Kalo kita ngomongin konteks sebagai warga negara pun hak tersebut tetep masih ada, karena gak ada dan gak seharusnya pemerintahan dan negara itu anti kritik.  Pada akhi...

Setapak Sejejak

Dua ratus meter lagi Tak jauh setelah perempatan, sebelah kiri Tempat dimana, kita bersua Saling bertukar nama, dan memulai semuanya Itu, sekira lima tahun yang lewat Kita masih sama sama malu Dan belum mampu saling menatap Namun tidak dengan ragu Dari hari itu, kita sama percaya Untuk saling membahagia Juga, kita mengikat janji Untuk tidak saling menyakiti Ternyata, kita sama salah Sama ingkar Sama sama Tidak saling membahagia Dan, sampai hati menyakiti Tak mengapa, itu sudah lewat Kini, kita sama bertumbuh Dan, hari ini Aku kembali mengingat Sebuah tempat, yang tak seharusnya kuingat Dengan tidak baik baik saja Sekali lagi, sekali ini Kuberi penawaran Untuk kembali Setapak Juga Sejejak

Untitled

Sepertinya saya sudah berpindah terlalu jauh, atau malah stagnan terlalu lama. Tulisan ini adalah buah pikiran yang pada akhirnya berhasil saya selesaikan setelah berulang kali, berganti hari, mengendap dan membuat saya kian kontemplatif. Saya masih tak cukup bisa mengerti apa yang saya mau Apa yang hati saya ingin tuju Apa yang otak saya hendak pikir Apa yang raga saya ingin gapai Ada terlalu banyak suara Bising dan teramat mengganggu Benar benar tak terkendali dan kehendaki Suara itu berubah tanpa perintah Bergemuruh kian riuh Saya Sayangnya Masih tetap tidak mengerti Setidaknya, selama 20 tahun ini

Abu-Abu

Melewati batas-batas terjauh dalam hidup Menanti jawaban dari semua persoalan Dihinggapi rasa kesal dan penuh murka Dihantui perasaan sesal dan berduka Disudutkan dengan pilihan tak terelakkan Dihadapkan pada situasi terburuk tak berkesudahan Tidak terbentuk, justru terpuruk Tidak membaik, justru tercabik Bimbang dan gelisah Rapuh dan menengadah Mencari Jawab Merapal harap Tidak hitam, bukan juga putih Abu-Abu Hanya Abu-Abu Tak paham lagi definisi benar dan salah Tak tau lagi harus berhenti atau tetap melangkah Kesal Sesal Diambang batas Dan tetap saja Abu-Abu

Covid-19 : Dikotomi Minor dan Mayor

Pandemi covid-19 ini jelas bukan situasi yang menyenangkan, malah malah menyebalkan. Entah bagaimana caranya virus ini menyebar sedemikian cepat? kenapa bisa terjadi ? siapa yang harus bertanggung jawab ? mana vaksin dan penawarnya ? dan berbagai pertanyaan lain menyeruak tanpa jawab. Sekira hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan virus ini menyebar dan menjadi momok yang menakutkan di berbagai wilayah di hampir semua negara sampai statusnya berubah menjadi pandemi, lebih besar dari sekadar epidemi.  Indonesia tak terkecuali, negara yang sedang berusaha menuju maju dari berkembang ini mencatat kasus positif covid-19 yang tak bisa dikatakan sedikit, dari berbagai kalangan, usia, jenis kelamin dan cara penyebaran.  Harus diakui pandemi ini berdampak dalam banyak sekali aspek. Tersebutlah pendidikan, berbagai institusi pendidikan negeri maupun swasta mengambil langkah serentak, meliburkan atau menyelesaikan proses belajar mengajar lebih awal, sekira mulai maret dan sampai ...