Ketika memulai tulisan ini, saya coba menarik mundur dan memunculkan kembali perasaan paling sakit yang pernah saya rasakan, kehilangan.
Berminggu-minggu atau beberapa bulan belakangan ini bahkan, rasanya saya tidak benar-benar mampu mendefinisikan sedemikian banyak rasa yang saya lewati, semuanya hampir terasa hampa, saya tak benar-benar bisa merasakan bagaimana rasa bahagia juga sedih setidaknya 3 bulan terakhir, padahal saya merasa itu sesuatu yang perlu.
Semuanya terasa seolah baik-baik saja padahal jelas ini bukan sesuatu yang baik.
Saya sampai di satu titik ketakutan bagaimana jika ternyata saya mati rasa di beberapa spektrum tertentu.
Melihat video-video dari orang yang filantropi dengan memberikan sumbangan kepada para fakir juga tak sampai hati memunculkan empati dalam diri saya, pun ketika melihat momen-momen kebahagiaan yang berseliweran di sosmed, biasa saja.
Pertanyaan muncul berdatangan, bagaimana jika ternyata memang mati rasa, bagaimana jika ternyata memang perlu mengarsipkan rasa atas hal-hal yang dialami, penolakan, diselingkuhi, ditipu, disepelekan, dapat undian berhadiah, dapat rezeki mendadak, bagaimana jika ternyata memang hal-hal itu tidak saja perlu dirayakan, tapi juga perlu diarsipkan.
Perayaan juga bukan selalu tentang bahagia, semua rasa sepertinya layak dirayakan, tentang kesedihan, kehilangan, penolakan, kebencian, kemarahan, semua rasa.
Kadang, yang teramat susah adalah menerima kenyataan bahwa kita tetap harus merayakan juga mengarsipkan rasa yang tak terbiasa atau bahkan tak pernah terbayangkan rasanya seperti apa.
Selamat, bertarung dengan diri sendiri dalam mengarsipkan juga merayakan.
Komentar