Langsung ke konten utama

Arsip rasa

Ketika memulai tulisan ini, saya coba menarik mundur dan memunculkan kembali perasaan paling sakit yang pernah saya rasakan, kehilangan.

Berminggu-minggu atau beberapa bulan belakangan ini bahkan, rasanya saya tidak benar-benar mampu mendefinisikan sedemikian banyak rasa yang saya lewati, semuanya hampir terasa hampa, saya tak benar-benar bisa merasakan bagaimana rasa bahagia juga sedih setidaknya 3 bulan terakhir, padahal saya merasa itu sesuatu yang perlu.

Semuanya terasa seolah baik-baik saja padahal jelas ini bukan sesuatu yang baik.

Saya sampai di satu titik ketakutan bagaimana jika ternyata saya mati rasa di beberapa spektrum tertentu. 

Melihat video-video dari orang yang filantropi dengan memberikan sumbangan kepada para fakir juga tak sampai hati memunculkan empati dalam diri saya, pun ketika melihat momen-momen kebahagiaan yang berseliweran di sosmed, biasa saja.

Pertanyaan muncul berdatangan, bagaimana jika ternyata memang mati rasa, bagaimana jika ternyata memang perlu mengarsipkan rasa atas hal-hal yang dialami, penolakan, diselingkuhi, ditipu, disepelekan, dapat undian berhadiah, dapat rezeki mendadak, bagaimana jika ternyata memang hal-hal itu tidak saja perlu dirayakan, tapi juga perlu diarsipkan.

Perayaan juga bukan selalu tentang bahagia, semua rasa sepertinya layak dirayakan, tentang kesedihan, kehilangan, penolakan, kebencian, kemarahan, semua rasa.

Kadang, yang teramat susah adalah menerima kenyataan bahwa kita tetap harus merayakan juga mengarsipkan rasa yang tak terbiasa atau bahkan tak pernah terbayangkan rasanya seperti apa.

Selamat, bertarung dengan diri sendiri dalam mengarsipkan juga merayakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20an

Barangkali, hidup emang sengaja menempatkan manusia pada tiap-tiap masa usia untuk dinikmati secara pol-polan, mau seneng seneng, sedih, chaos, brutal, juga main aman sepanjang masa, barangkali, memang selalu ada masanya bagi setiap hal, masa merasa menjadi gerombolan bermain paling asik diantara generasi atau kelompok lainnya, masa merasa harus mendobrak stigma juga menabrak aturan main, juga banyak lain lah yang kita sama-sama tau juga alami kan. Coba kroscek mundur, yang terbiasa selalu ramai bersama akan disuguhi situasi dalam kesendirian dan sepi, yang biasanya selalu ada backup plan tiba-tiba saja stagnan di momen yang membuat kita membatin "Bangsat, dulu kayaknya momen kayak gini bisa dilewati dengan gampang deh, punya plan b c d juga bisa improve sana-sini meskipun kemungkinannya kecil, tapi kenapa sekarang jadi berat dan beda banget". Banyak yang berubah juga berganti, ada yang bertahan tapi juga banyak sekali yang pergi. Masa-masa kayak gini sih emang anjing banget,...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...