Langsung ke konten utama

Freedom of speech : Kebijakan prematur dan banyaknya tai

Sampai pada saat nulis ini, gue masih bersikukuh pada teori bahwa freedom of speech itu gak absolut dan sebenar-benarnya bebas, ada batas disana, batasnya adalah hak dan ketersinggungan orang lain. Iyaa, batasan itu ada, tapi abu-abu banget. Contoh paling sederhananya lo bisa mengucapkan satu kalimat yang sama kepada dua orang yang berbeda, dan mungkin lo akan dapet dua respon yang berbeda, satu orang biasa aja, satunya tersinggung dan marah-marah, padahal kalimatnya sama. 
Jadi ketersinggungan itu batasnya abu-abu, dan bingung juga standard siapa yang mau dipakai buat dijadiin patokan. 

Masalahnya, kebijakan dan otoritas yang mengatur Freedom of speech itu sendiri juga bias, kalo kita ngomongin hak sebagai manusia. logikanya ya kita sangat punya hak untuk menggunakan hak freedom of speech kita. Kalo kita ngomongin konteks sebagai warga negara pun hak tersebut tetep masih ada, karena gak ada dan gak seharusnya pemerintahan dan negara itu anti kritik. 

Pada akhirnya makin kesini gue sendiri mulai susah menggunakan hak freedom of speech gue dalam ranah publik, kenapa? Karena ekarang banyak orang yang gampang tersinggung dan setiap kata yang lo ucapin punya potensi untuk ditafsirkan sebagai hal yang menyinggung. Tanpa tabayyun, tanpa tanya terlebih dahulu, tanpa memahami konteks, orang sekarang banyak ngerasa harus berkomentar dan menanggapi semua hal, bahkan dalam konteks yang sebenarnya dia gak ngerti. Atau sederhananya yang penting bacot dulu, urusan ngerti apa yang dibahas mah belakangan, padahal kalo dipikir itu kan teori dan praktek yang gabisa dibenarkan. 

Selain batasan ketersinggungan orang lain dan kebijakan yang prematur, freedom of speech sendiri juga teramat multitafsir secara konteks. Apa iya freedom of speech harus by data dan fakta? Apa iya harus bersifat membangun? Apa iya harus dengan kalimat yang terstruktur dan literatur yang kredibel? Apa iya hanya boleh datang dari intelektual? Dan banyak pertanyaan lain. 

Menurut gue, enggak. Dalam konteks ini, terlepas dari batasan tadi, freedom of speech adalah hak semua orang. Gak peduli apa latarbelakang pendidikan lo, jenis kelamin lo, kita semua punya hak atas kebebasan berpendapat. Walaupun disisi lain gue juga rada sebel ketika semua orang menggunakan hak freedom of speech nya, ketika semua orang ngomong, ngerasa saling dan paling bener, pada kayak taiii.

Dan ini yang harus kita sama-sama sadari, bahwa seringkali freedom of speech itu kaitannya sama kritik, entah kepada orang atau instansi, entah pejabat pemerintahan atau kebijakan negara. 

Lalu ada sebuah pertanyaan yang muncul, yaitu ketika seseorang gak punya kapabilitas untuk kritik dan dia bisanya menghina, apa itu gak boleh?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...