Cerita ini sudah pernah saya publikasikan di Instagram @fahmiisme, melalui blog ini, saya ingin mencoba menyadur dan bertutur sedikit lebih panjang, selamat membaca!
Beberapa malam lalu, secara impulsif saya ingin cari gudeg setelah seorang teman mengirimkan foto sedang makan apa ya namanya, entah lontong sayur atau apalah itu berkuah kuning, niatnya cari kudapan semacam itu juga, namun karena sudah kelewat malam dan banyak tempat makan yang tutup ditambah referensi saya soal gastronomi juga tak terlalu banyak, jadilah saya berburu gudeg yang saya anggap cukup mirip dengan makanan yang saat itu saya belum tau namanya, belakangan saya tau bahwa itu adalah nasi kare, yang sialnya setelah saya coba cari-cari juga tidak membuahkan hasil.
Secara pribadi, gudeg makanan yang sangat jarang saya makan, menurut lidah saya yang jauh dari kata baik dalam menilai makanan, itu terlalu manis untuk jadi kudapan berat. Tapi entah, impulsif memang, berbekal kesotoyan tinggi saya menyusuri jalanan kota yang saya yakini banyak penjual gudeg di sepanjang pedestrian, ketemu, 20 meter sebelum lampu merah tugu Jogja.
Selesai makan, saya tak ingin cepat beranjak, ketika batang rokok kedua baru saya bakar, datang suami istri yang saya asumsikan berusaha akhir 50an atau awal 60an, yang juga saya yakini, mereka turis, entah dari mana, otak saya tidak cukup mahir untuk bisa memetakan seseorang dari logat maupun fisik, hanya yakin bahwa mereka turis.
Mereka duduk persis di depan saya, sang suami tak langsung duduk, dia mengeluarkan tisu yang saya yakin jadi salah satu benda yang sering dibawanya kemana-mana, setelahnya dia menata kursi dan meja secara presisi dan mulai membersihkan kursi yang akan diduduki istrinya.
Di lain sisi, ekor mata saya melihat sekaligus saya mencuri dengar obrolan sang istri yang sedang memesan gudeg. Secara spesifik, dia memberi catatan khusus kepada penjual untuk gudeg yang akan dimakan sang suami, tanpa sambal, tambah nasi, tidak pakai kuah, entah soal selera atau faktor kesehatan saya tidak tahu pasti.
Setelah keduanya duduk di satu meja, saya tetap mencuri dengar obrolan mereka, "oh, ternyata mereka sedang menghadiri pernikahan famili di Jogja, anak-anaknya tidak ada yang ikut karena bekerja dan kuliah di kota lain," batin saya, sambil sok cuek tapi mendengarkan.
Sang suami membukakan botol minum istrinya, juga membersihkan kursi yang akhirnya dipakai duduk, sang istri secara detail memberikan catatan khusus pada makanan sang suami, entah, apakah masing-masing mereka sedang mencoba memahami apa sekiranya love language yang ideal untuk hubungan mereka, act of service? word of affirmation? quality time? atau apapun lah itu, atau, barangkali ini spektrum yang lebih kompleks dari itu, mungkin yang saya lihat malam itu bukan love language? Just love.
Komentar