Langsung ke konten utama

KKN di desa penari : Potensi eksplorasi yang tidak maksimal.

Sub judul di atas rasanya adalah satu kalimat tepat untuk menggambarkan bagaimana film KKN di desa penari secara utuh. 


Saya paham bahwa keputusan tim penulis untuk tetap menjaga keaslian cerita dan tidak keluar jalur dari thread aslinya adalah keputusan benar, sayangnya adaptasi thread yang diharapakan akan memunculkan ruang-ruang eksploratif baru entah dari segi cerita, karakter, atau bahkan visual dari Badarawuhi dan koloninya tidak terjadi, teramat disayangkan.


Bagi penonton yang sudah merampungkan thread nya akan merasa bahwa menonton filmnya sama seperti dituntun membaca thread nya kembali, hanya saja dengan suguhan visual, saking samanya film dengan thread, iyakan?!


Jika ada yang memenangkan saya secara personal dari film ini, adalah aspek sinematografi dan departemen art serta production design. Memuaskan sekali, setidaknya bagi saya pribadi. Transisi shot nya dinamis, walau di beberapa scene ada beberapa pengulangan shot yang terasa sekali, entah ingin menunjukkan kesederhanaan shot atau justru terkungkung dalam zona nyaman 'shot bagus'. Menyoal art dan production design, film KKN berhasil menghidupkan suasana ganjil dan mistis dari desa, walau ada satu kejanggalan di salah satu scene yang masih saya bahas dan membuat kesal setelah filmnya selesai, clue : Motor mogok.


Dari 6 main cast yang ada? Siapa yang menurutmu berhasil memberikan nyawa pada karakternya? Saya pribadi terpana dengan pencapaian akting yang dilakukan oleh Tissa Biani dan Adinda Thomas, terlebih Tissa, lewat Nur, tampak sekali eskalasi emosi yang tersampaikan dengan baik sekali, mulai takut, kesal, juga bingung terhadap situasi yang teman-teman dan yang dirinya sendiri alami, Tissa believable untuk menghidupkan Nur, begitupun Adinda, ketakutan yang dialami Widya tampak jujur sampai-sampai saya memunculkan sedikit empati padanya.


Secara keseluruhan, ini sajian horor yang sebenernya gak serem serem amat jika dinilai dari bagaimana visual Jin/iblis/hantu atau apapun lah itu namanya, saya lebih sepakat menyebut film KKN menyenangkan dinikmati sambil sesekali menegangkan karena disuguhi jumpscare, walaupun formulanya terasa agak monoton saking banyaknya jumpscare yang ditampilkan, tidak membawa plot maju, hanya disuguhi jumpscare saja, padahal kekosongan yang ada bisa diisi lewat hal-hal lain jika tim penulis berani lebih mengeksplorasi cerita dan karakter.


Penilaian saya sangat mungkin subjektif, tapi perolehan penonton yang membludak jelas satu hal objektif, sinema Indonesia bangkit dari geliat pandemi.


Akhir kata, saya dimenangkan oleh tarian Nur, luar biasa, magis.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

20an

Barangkali, hidup emang sengaja menempatkan manusia pada tiap-tiap masa usia untuk dinikmati secara pol-polan, mau seneng seneng, sedih, chaos, brutal, juga main aman sepanjang masa, barangkali, memang selalu ada masanya bagi setiap hal, masa merasa menjadi gerombolan bermain paling asik diantara generasi atau kelompok lainnya, masa merasa harus mendobrak stigma juga menabrak aturan main, juga banyak lain lah yang kita sama-sama tau juga alami kan. Coba kroscek mundur, yang terbiasa selalu ramai bersama akan disuguhi situasi dalam kesendirian dan sepi, yang biasanya selalu ada backup plan tiba-tiba saja stagnan di momen yang membuat kita membatin "Bangsat, dulu kayaknya momen kayak gini bisa dilewati dengan gampang deh, punya plan b c d juga bisa improve sana-sini meskipun kemungkinannya kecil, tapi kenapa sekarang jadi berat dan beda banget". Banyak yang berubah juga berganti, ada yang bertahan tapi juga banyak sekali yang pergi. Masa-masa kayak gini sih emang anjing banget,...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...