Semakin dewasa, gue ngerasa semakin banyak hal yang sebelumnya biasa aja dan gak terlalu substansial sebelumnya dalam hidup jadi terkesan kompleks dan substansial abis. Banyak hal yang harus lo kompromi, harus lo gapapa in, harus lo iyain semakin lo dewasa, padahal itu mungkin bertentangan dengan prinsip hidup yang lo pegang dan jalani. Pilihannya, ya lo terima, iya iya aja, biar semuanya jadi baik-baik aja. Gak ada konflik, gak perlu ngotot-ngototan argumen, gak perlu silat lidah, karena makin dewasa juga makin males ngeluarin effort buat hal hal yang sebenernya gak perlu perlu amat didebat, lo tuh gak harus selalu menang kok, perlu juga sesekali kalah dan ngalah, itu gapapa.
Pertanyaan selanjutnya adalah, makin lo memaklumi dan kompromi dengan banyak hal yang gak sesuai apakah berarti lo gak boleh marah? gak boleh konfrontatif? gak boleh vokal? yaa boleh aja kali, bisa gila lo kalo terlalu mendem banyak masalah dan gak pernah lo keluarin. Gue percaya setiap orang sebenernya punya dark voice dalam dirinya masing-masing, tentang bangsatnya sistem, tentang prematurnya kebijakan, tentang anehnya kultur, atau tentang noraknya trend, kita semua tuh punya dark voice dan punya keinginan buat nyampein itu sebenernya. Tapi gak semua orang mau dan mampu, karena ada aturan dan society yang membatasi hak kita, disisi lain juga dari kitanya mending nahan daripada nanti ada masalah atau ada yang protes sama apa yang kita omongin, karena salahnya kebanyakan orang adalah ngomong dulu baru mikir, bukan sebaliknya, dan itu goblokkk.
Kalo lo mau marah, mau ngomel karena sesuatu hal yang memang jelas-jelas salah, itu gapapa. Bukan berarti lo marah berarti lo asshole, tapi kemarahan adalah sebuah kewajaran, lo boleh marah, lo berhak marah, berhak banget, tapi dengan catatan, jangan jadiin kemarahan sebagai satu satunya jalan keluar dari setiap hal, ada wahana lain dalam diri lo selain kemarahan, lo eksplorasi dan cari itu di dalam diri lo.
Komentar