Langsung ke konten utama

Kalo mau marah, marah aja kali

Semakin dewasa, gue ngerasa semakin banyak hal yang sebelumnya biasa aja dan gak terlalu substansial sebelumnya dalam hidup jadi terkesan kompleks dan substansial abis. Banyak hal yang harus lo kompromi, harus lo gapapa in, harus lo iyain semakin lo dewasa, padahal itu mungkin bertentangan dengan prinsip hidup yang lo pegang dan jalani. Pilihannya, ya lo terima, iya iya aja, biar semuanya jadi baik-baik aja. Gak ada konflik, gak perlu ngotot-ngototan argumen, gak perlu silat lidah, karena makin dewasa juga makin males ngeluarin effort buat hal hal yang sebenernya gak perlu perlu amat didebat, lo tuh gak harus selalu menang kok, perlu juga sesekali kalah dan ngalah, itu gapapa.

Pertanyaan selanjutnya adalah, makin lo memaklumi dan kompromi dengan banyak hal yang gak sesuai apakah berarti lo gak boleh marah? gak boleh konfrontatif? gak boleh vokal? yaa boleh aja kali, bisa gila lo kalo terlalu mendem banyak masalah dan gak pernah lo keluarin. Gue percaya setiap orang sebenernya punya dark voice dalam dirinya masing-masing, tentang bangsatnya sistem, tentang prematurnya kebijakan, tentang anehnya kultur, atau tentang noraknya trend, kita semua tuh punya dark voice dan punya keinginan buat nyampein itu sebenernya. Tapi gak semua orang mau dan mampu, karena ada aturan dan society yang membatasi hak kita, disisi lain juga dari kitanya mending nahan daripada nanti ada masalah atau ada yang protes sama apa yang kita omongin, karena salahnya kebanyakan orang adalah ngomong dulu baru mikir, bukan sebaliknya, dan itu goblokkk.

Kalo lo mau marah, mau ngomel karena sesuatu hal yang memang jelas-jelas salah, itu gapapa. Bukan berarti lo marah berarti lo asshole, tapi kemarahan adalah sebuah kewajaran, lo boleh marah, lo berhak marah, berhak banget, tapi dengan catatan, jangan jadiin kemarahan sebagai satu satunya jalan keluar dari setiap hal, ada wahana lain dalam diri lo selain kemarahan, lo eksplorasi dan cari itu di dalam diri lo.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...