Langsung ke konten utama

Political correctness

Sebenarnya saya pribadi tidak cukup meyakini apa padanan dan terminologi yang paling sesuai untuk bisa mendefinisikan apa itu political correctness atau politically correct, sederhananya itu adalah sebuah tatanan dan norma tidak tertulis yang dijadikan semacam benchmark dalam tata kehidupan, mengatur bagaimana seharusnya seseorang berbicara, bersikap, bahkan mungkin berpikir, semua diminta untuk patuh pada keteraturan tersebut, untuk menghindari pelanggaran atau kerugian bagi anggota kelompok tertentu, sayangnya, justru lebih banyak menimbulkan multi persepsi argumen dibandingkan keteraturan itu sendiri

politically correct yang bertujuan mengatur serta menertibkan, kesannya justru membelenggu dan membatasi, membatasi ruang dialog, membelenggu kebebasan nalar kritik dan kritis, selain itu, pertanyaan besarnya juga adalah, politcally correct ini menggunakan standard yang entah milik siapa dan dengan dasar apa, lantas apakah karena standard nya dipakai lalu bisa bebas dan tanpa batas

Saya sendiri coba menarik benang merah dari pembahasan ini, politically correct ini pada akhirnya menimbulkan sesuatu yang bias

Kebenaran yang relatif dan tidak bisa di validasi, aturan yang tak cukup punya dasar, juga makna politically correct itu sendiri

Apa iya, kebenaran politis adalah urgensi yang paling utama sehingga dijadikan benchmark dalam tata kehidupan?

Bayangkan, jika semua hal harus berlandaskan politically correct, berapa banyak kata-kata yang berpotensi dibatasi atau dilarang diucapkan, hanya karena dianggap tidak masuk klasifikasi politically correct

Bayangkan lagi, pihak-pihak yang menyusun juga mempunyai wewenang atas bagaimana politically correct itu seharusnya diaplikasikan, justru tidak cukup memiliki referensi yang memadai dan relevan, dasarnya hanya asas ketidaksukaan dan kesukaan, betapa menyeramkan dan menyedihkannya

Ahh, Fucked up politically correct, fucked up.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akrab Dengan Keasingan

Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?  Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda. Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya. Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian. Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah...

Cara Bijak Bersosial Media

Zaman sekarang kebebasan dalam bersosial media sudah sangat luar biasa dan tak terbendung, semua orang bebas dan berhak berkomentar serta menyumbang opini mereka masing-masing tanpa adanya filter atau aturan teknis yang mengikat, jika dalam hal ini berkomentar dan beropini secara bebas diartikan sebagai " tukang nyinyir dan tukang ikut campur urusan orang " maka kesannya jadi negatif sekali, tapi tak bisa dipungkiri faktanya juga demikian.  Sekarang orang begitu mudahnya mencibir, mencela, mencaci/menghina di sosial media, Perbedaan visi ribut, Perbedaan pandangan, adu argumen siapa yang lebih benar dengan nada nada menjatuhkan dan meremehkan, Merasa seolah pendapat mereka yang paling benar dan mengkerdilkan pendapat yang lain, Tak usahlah perkara perkara besar semacam perbedaan pandangan politik atau perbedaan agama, Hal hal kecil dan sepele aja bisa ngebuat kita ribut dan adu mulut, sesederhana siapa yang lebih hebat antara messi atau ronaldo, atau sesederhana : apa yang...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...