Langsung ke konten utama

Marah

Belakangan, gue banyak banget menjadikan rasa yang gue alami menjadi sebuah rasa marah.

Terlalu banyak hal yang makin gue cari tau justru gue makin gak ngerti, itu bisa bikin gue marah. 

Banyak ketemu orang di publik space, ngeliat mereka ngelakuin sesuatu atau denger mereka ngomongin sesuatu yang menurut gue salah, menggangu, atau ya katrok aja gitu, bisa banget bikin gue marah.

Juga, menyoal hidup gue sendiri, banyak banget didominasi rasa marah, dari soal tetangga yang muter lagu kenceng malem-malem, sampek kucing yang berak di kasur, bangsat lah semuanya.

Di sisi lain kadang gue ngerasa teramat selfish terhadap diri gue sendiri, bahkan kadang gue marah dan gak bisa kasih garis demarkasi kepada seseorang yang tadinya gue idoalin atau minimal gue suka. 

Gue bisa dan sering banget follow unfollow orang-orang di sosmed dengan bias dan tanpa dasar yang jelas gitu, kemarahan gue membawa ke satu titik kegoblokan, yaitu gabisa bedain personal seseorang dan sesuatu yang dia hasilkan atau dia buat. Hal itu ngebuat gue jadi kayak orang yang gak punya social skill tapi dikasih social tools.

Bahkan ketika lagi nulis ini, ada kemarahan di kepala gue.

Bangsatlah, gue gatau apa yang terjadi, gimana cara buat handle ini, gue cuma pengen marah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akrab Dengan Keasingan

Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?  Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda. Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya. Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian. Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...