Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa?
Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika.
Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan.
Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu.
Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya.
Akhirnya saya berpikir, mungkin dia sudah terlalu muak untuk memulai hubungan baru dengan pendekatan tipikal yang amat membosankan, mungkin juga dia terlalu menyayangkan usia hubungannya yang sudah selama cicilan KPR.
Kali lain, saya berbincang dengan teman sekolah yang hubungannya sudah memasuki tahun ketiga pacaran, pertimbangannya banyak, tapi yang jelas, dia ingin menyudahi. Penjelasannya sungguh aneh dan menolak untuk saya terima, dia bilang masih mempertahankan hanya karena sayang dengan semua momen dan waktu yang telah diluangkan serta dibangun, aneh kan.
Kali ini, datang dari saya sendiri, saya pernah menjalani hubungan hanya dalam kurun waktu seminggu, betul, lebih singkat dari durasi libur anak sekolah atau jumlah akumulatif cuti tahunan karyawan. Cerita lain, saya juga pernah berada dalam hubungan yang usianya hanya beberapa bulan, tapi brengseknya justru membutuhkan waktu berdamai dan menerima setidaknya 2 tahun.
Apa jangan-jangan kausalitas hubungan itu memang tak selalu berjalan semestinya, ada hubungan yang dipupuk pelan dengan waktu lama, ketika gagal dan berkesudahan tak mesti ciptakan sedih berkepanjangan. Lalu, yang hanya intensif berkabar dua Minggu dan tak berlanjut justru muram dan menolak berdamai selama bertahun-tahun. Bagi saya, hal-hal barusan sangat indefinitif.
Pada titik ini saya percaya, hubungan berjangka panjang hanya bisa dilakukan mereka yang dengan penuh kesadaran memilih pengorbanan berjangka panjang.
Berkorban pada ego, kompromi, bahkan menepikan atau meninggalkan dirinya sendiri. Hal-hal yang saya kira memang diperlukan, tapi belum mau saya lakukan.
Bukannya merasa sok keren, tapi ya sudahlah, tulisan ini dari awal juga sudah punya intensi sok keren sekaligus sotoy.
Saya tidak tahu akan berapa kali lagi melewati fase perkenalan, kagum dan berujung kegagalan, saya tidak tahu.
Kemungkinannya, antara saya yang memang skeptis memandang hubungan, atau mungkin hanya belum menemukan, satu yang membuat saya yakin dan berhenti mencari.
Komentar