Susah ya jadi
warga Negara yang baik? Dari hal sederhana semacam
membuang sampah pada tempatnya atau menegur orang yang buang sampah sembarangan
malah dianggap pencitraan dan sok paling bener, atau ke praktik yang lebih
kompleks semacam bahwa mengerjakan tes atau ujian sesuai prosedur dan jujur
dianggap kuno dan tidak mengikuti trend kebanyakan, bahkan
sedari awal kalimat di tulisan ini sudah mengandung multitafsir dan
menjadi bias dengan konteks kata “baik”.
Baik menurut standart siapa? Kenapa harus standart itu yang dipakai? Kenapa standart yang dipakai menjadi indikator dan tolak ukur? Serta banyak pertanyaan lainnya.
Jadi sebenarnya harus seperti apa? Menjadi patuh pada akhirnya dianggap kolot atau konservatif sementara ketika mulai terbuka dengan hal yang berbau modernisasi dicap liberal atau diserang dengan narasi tidak nasionalis, serba salah kan?
Juga masih
teramat banyak hal yang berpotensi membelenggu kebebasan seseorang dalam
pencarian jati diri menjadi warga Negara, punya visi untuk berubah dan
berkembang dianggap separatis, kecintaan berlebihan dituding chauvinis, menganut
otoritas dan prinsip sendiri dicap fasis, jadi bila dipikir lebih dalam mahal
sekali rasanya harga yang harus dibayar untuk menjadi warga Negara.
Dengan banyak
sekali kontekstual yang teramat politis, di lain sisi saya masih percaya dan
tidak sebenar-benarnya kehilangan harapan juga asa pada Negara ini.
Saya percaya
masih ada sisi baik, masih ada harapan juga kesempatan, selalu ada.
Hari ini, Negara
ini merayakan usia 75.
Ada banyak aspek
yang harus dibenahi, dikembangkan, juga dihilangkan.
Untuk mewujudkan
hal-hal diatas, mahal sekali harga yang harus dibayar, pengetahuan, kepercayaan,
pikiran, uang, keyakinan, kompromi, toleransi, kejujuran, keadilan, banyak hal.
Dibutuhkan tidak
hanya generasi penerus bangsa untuk mewujudkannya, tapi juga generasi pembenar
dan pembaik bangsa.
Jadi sebenarnya harus seperti apa? Menjadi patuh pada akhirnya dianggap kolot atau konservatif sementara ketika mulai terbuka dengan hal yang berbau modernisasi dicap liberal atau diserang dengan narasi tidak nasionalis, serba salah kan?
Indonesia tidak disiapkan
untuk 76, 100, 200, atau 500 tahun saja, jadi harus mulai mempersiapkan dan
melakukan pembenahan, hukum, politik, pendidikan, kebijakan publik, sistem,
infrastruktur, banyak, banyak sekali.
Pembenar dan pembaik, semoga lahir, bertumbuh, dan berwabah.
Komentar