Langsung ke konten utama

Indonesia Harganya Berapa?

Susah ya jadi warga Negara yang baik? Dari hal sederhana semacam membuang sampah pada tempatnya atau menegur orang yang buang sampah sembarangan malah dianggap pencitraan dan sok paling bener, atau ke praktik yang lebih kompleks semacam bahwa mengerjakan tes atau ujian sesuai prosedur dan jujur dianggap kuno dan tidak mengikuti trend kebanyakan, bahkan sedari awal kalimat di tulisan ini sudah mengandung multitafsir dan menjadi  bias dengan konteks kata “baik”. Baik menurut standart siapa? Kenapa harus standart itu yang dipakai? Kenapa standart yang dipakai menjadi indikator dan tolak ukur? Serta banyak pertanyaan lainnya.

Jadi sebenarnya harus seperti apa? Menjadi patuh pada akhirnya dianggap kolot atau konservatif sementara ketika mulai terbuka dengan hal yang berbau modernisasi dicap liberal atau diserang dengan narasi tidak nasionalis, serba salah kan?

Juga masih teramat banyak hal yang berpotensi membelenggu kebebasan seseorang dalam pencarian jati diri menjadi warga Negara, punya visi untuk berubah dan berkembang dianggap separatis, kecintaan berlebihan dituding chauvinis, menganut otoritas dan prinsip sendiri dicap fasis, jadi bila dipikir lebih dalam mahal sekali rasanya harga yang harus dibayar untuk menjadi warga Negara.

Dengan banyak sekali kontekstual yang teramat politis, di lain sisi saya masih percaya dan tidak sebenar-benarnya kehilangan harapan juga asa pada Negara ini.

Saya percaya masih ada sisi baik, masih ada harapan juga kesempatan, selalu ada.

Hari ini, Negara ini merayakan usia 75.

Ada banyak aspek yang harus dibenahi, dikembangkan, juga dihilangkan. 

Indonesia tidak disiapkan untuk 76, 100, 200, atau 500 tahun saja, jadi harus mulai mempersiapkan dan melakukan pembenahan, hukum, politik, pendidikan, kebijakan publik, sistem, infrastruktur, banyak, banyak sekali.

Untuk mewujudkan hal-hal diatas, mahal sekali harga yang harus dibayar, pengetahuan, kepercayaan, pikiran, uang, keyakinan, kompromi, toleransi, kejujuran, keadilan, banyak hal.

Dibutuhkan tidak hanya generasi penerus bangsa untuk mewujudkannya, tapi juga generasi pembenar dan pembaik bangsa.

Pembenar dan pembaik, semoga lahir, bertumbuh, dan berwabah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...

Bangun, Bajingan

Ya, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Rasanya saya sudah dimenangkan oleh film ini sejak scene pertama barangkali, yang membuat saya berujar what the fuck, yang nyatanya jadi kalimat repetisi yang sering saya ulangi di scene scene ke belakangnya. Sejujurnya, saya bingung harus darimana mengulas dan menilai film ini, ini film yang benar-benar brengsek, luar biasa liar, eksotis nan erotis, gelap namun juga berkilauan di banyak layer, skenario dan cast nya solid dan kokoh bukan main. Menyoal production designer dan art director, artistik dan dunia yang dibangun di film ini adalah mahakarya, luar biasa indah dengan suguhan 80-90an sampai-sampai saya bisa merasa hidup di jaman yang bahkan belum tau rasanya hidup. Saya disuguhi banyak sekali rasa dalam film ini, kegetiran, kengerian, haru pilu tentu, juga kepuasan yang berlebih. Luar biasa, salah satu film yang rasanya akan susah keluar dari ingatan kepala saya. Film ini membawa sedemikian banyak isu penting dan dikuliti hingga spek...