Langsung ke konten utama

Sudah

Aku menyendiri 

Dengan beragam tanya tanpa jawab

Dengan beragam pilu tanpa tawar

Dengan beragam penat tanpa jeda

Dengan beragam tangis tanpa seka


Ini semua, karenanya

Yang pernah berdua

Yang pernah bahagia

Yang pernah memadu

Yang pernah merindu


Namun, sirna semua sudah 

Kini hanya sisakan kenang, dan mungkin sedikit senang


Padanya, entah bagaimana caranya, entah kenapa

Pernah dalam sekali ku jatuhkan hati

Tanpa ragu dan pikir dua kali


Bagiku, dia adalah pelengkap dari yang kurang

Penyelesai dari yang buntu

Penawar dari yang getir

Penenang dari yang gaduh


Bagiku, dia selalu bagian diriku

Hingga kini, dan aku tidak mau menyudahi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akrab Dengan Keasingan

Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?  Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda. Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya. Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian. Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah...

Cara Bijak Bersosial Media

Zaman sekarang kebebasan dalam bersosial media sudah sangat luar biasa dan tak terbendung, semua orang bebas dan berhak berkomentar serta menyumbang opini mereka masing-masing tanpa adanya filter atau aturan teknis yang mengikat, jika dalam hal ini berkomentar dan beropini secara bebas diartikan sebagai " tukang nyinyir dan tukang ikut campur urusan orang " maka kesannya jadi negatif sekali, tapi tak bisa dipungkiri faktanya juga demikian.  Sekarang orang begitu mudahnya mencibir, mencela, mencaci/menghina di sosial media, Perbedaan visi ribut, Perbedaan pandangan, adu argumen siapa yang lebih benar dengan nada nada menjatuhkan dan meremehkan, Merasa seolah pendapat mereka yang paling benar dan mengkerdilkan pendapat yang lain, Tak usahlah perkara perkara besar semacam perbedaan pandangan politik atau perbedaan agama, Hal hal kecil dan sepele aja bisa ngebuat kita ribut dan adu mulut, sesederhana siapa yang lebih hebat antara messi atau ronaldo, atau sesederhana : apa yang...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...