Langsung ke konten utama

Membunuh mimpi

Seringkali, yang terjadi, seringkali juga, yang dilakukan tanpa sadar, atau bahkan dengan kesadaran penuh. Setiap orang adalah pembunuh bagi mimpinya masing-masing. Tentu, bukan orang lain, bukan semesta, bukan juga situasi, tapi ya memang diri sendiri saja.

Saya baru saja melakukanya, Saya membunuh salah satu mimpi untuk memperluas jangkauan pembaca tulisan saya, dan tentu, saya melakukannya penuh kesadaran. 

Sebagai seorang yang kerap menulis, ada dan besar sekali keinginan untuk tulisan saya dibaca, sebanyak-banyaknya orang pun tak mengapa, hanya saja, saya masih terlalu naif dan belum bisa mengesampingan ego dalam diri saya. 

Saya menginkan tulisan saya dibaca banyak orang, namun saya juga sangat mengedepankan konsep idealisme, bahwa saya mau menulis apa yang memang ingin saya tulis, tanpa filter, tanpa kurasi, tanpa pola, bebas saja, semau saya.

Di situasi ini, perang batin terjadi, antara harus tetap idealis demi memberi makan ego, atau kompromi dan mencoba realistis. Kompromi bahwa mungkin saya tidak akan menjadi diri saya seutuhnya karena harus mau kompromi dengan keinginan membaca, atau tetap idealis menulis sesuai yang saya inginkan namun tidak cukup relevan dengan pembaca. Entah saya ada di blok mana, intensi saya sedari awal ketika mengawali blog ini memang untuk mengeluarkan apa-apa saja yang ada di kepala, tanpa filter, aturan, juga saran.

Sejauh ini saya cukup senang, dengan kolam yang kecil tapi bisa saya kuasai, sungguh takut rasanya jika pada akhirnya saya beralih ke kolam yang lebih besar, ada hal-hal yang mungkin terjadi dan bertentangan dengan prinsip dan batin saya.

Toh, saya sungguh tidak apa-apa, menuliskan sesuatu untuk 1 orang namun dengan suka cita dan kelapangan hati, daripada harus memberi makan 100 orang tapi saya tidak puas.

Dan, ini hanya konseptual yang saya pegang saat ini, bukan suatu yang permanen juga, bisa saja, bisa sekali, saya kompromi atas semua hal.

Juga, bisa sekali, saya menjelajahi mimpi-mimpi yang tidak pernah saya harapkan sebelumnya.

Sehingga, nantinya saya tidak akan lagi membunuh mimpi saya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...