Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah?
Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin
Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan
Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang
Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa
Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa
Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah
Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan
Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, hanya harus mengusahakan, dan ku ingat kamu pun setuju
Kali lain kamu juga memberi penegasan, dua orang yang bertemu karena hatinya sama-sama patah bisa jadi juga tidak salah
Kali ini, aku mau memastikan, bahwa dua hati patah ini butuh berbenah, bukan masing-masing, tapi bersama
Soal ini, ku harap rasa kita sama
Komentar