Langsung ke konten utama

Cinta dan Kalkulasi

Ada yang bilang, seseorang hanya jatuh cinta satu kali dalam hidupnya, sisanya hanya melanjutkan hidup.

Ada juga yang bilang, cinta itu seperti hantu, semua orang membicarakannya, tapi tidak semua orang mempercayainya.

Kali lain, ada lagi yang bilang, cinta itu sesederhana saya untuk kamu, dan kamu untuk saya, selesai.

Apapun itu, saya mengilhami dengan penuh kesoktahuan tingkat tinggi bahwa cinta memang entitas maha kompleks dan rumit. 

Saya tidak percaya bahwa saya hanya jatuh cinta satu kali seumur hidup, namun juga tidak yakin bahwa saya bisa berkali-kali merasakan cinta dengan gairah, ambisi dan rasa yang sama besarnya.

Apa yang membuat seseorang jatuh cinta? Karena persamaan playlist? Persamaan preferensi liburan? Persamaan genre film? Buku favorit? Makanan kesukaan? Atau, karena obrolan yang nyaman dan sefrekuensi? Atau atau, karena memang dia orangnya? 

Saya juga tidak sepenuhnya yakin, perasaan yang terjadi ketika saya menjalin dan menjalani hubungan dengan seseorang itu memang benar cinta atau kalkulasi, atau mungkin perasaan lain yang tak bernama tapi terdefinisi.

Katanya, cinta adalah manifestasi paling tinggi dari ungkapan rasa dari makhluk bernama manusia. Tapi, kalau pun iya, tujuannya apa? Apa iya manusia mau dan perlu menuju limitasi dirinya dan mengungkapkan seluruh perasaannya tanpa tapi dan tawar? Apa iya itu juga akan menjamin bahagia? Lalu, apa iya tujuan cinta membuat bahagia? Apa iya semua cinta berakhir bahagia?

Barangkali, yang selama ini saya percayai sebagai cinta hanyalah akal-akalan dari filsuf macam Aristoteles atau Kahlil Gibran untuk membuat generasi selanjutnya percaya atau memperdebatkannya, enak sekali ya mereka, mati lalu meninggalkan pertanyaan tanpa jawab.

Hari ini, saya masih tidak tahu dan mengerti, rasanya, saya juga tidak akan mau tahu dan mengerti. 

Biarkan cinta tetap menjadi entitas tak terdefinisi.
Biarkan cinta konsisten untuk berubah menyesuaikan medium waktu, ruang, juga orang. 
Biarkan cinta menemukan kesederhanaan dalam kompleksitasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...