Ada yang bilang, seseorang hanya jatuh cinta satu kali dalam hidupnya, sisanya hanya melanjutkan hidup.
Ada juga yang bilang, cinta itu seperti hantu, semua orang membicarakannya, tapi tidak semua orang mempercayainya.
Kali lain, ada lagi yang bilang, cinta itu sesederhana saya untuk kamu, dan kamu untuk saya, selesai.
Apapun itu, saya mengilhami dengan penuh kesoktahuan tingkat tinggi bahwa cinta memang entitas maha kompleks dan rumit.
Saya tidak percaya bahwa saya hanya jatuh cinta satu kali seumur hidup, namun juga tidak yakin bahwa saya bisa berkali-kali merasakan cinta dengan gairah, ambisi dan rasa yang sama besarnya.
Apa yang membuat seseorang jatuh cinta? Karena persamaan playlist? Persamaan preferensi liburan? Persamaan genre film? Buku favorit? Makanan kesukaan? Atau, karena obrolan yang nyaman dan sefrekuensi? Atau atau, karena memang dia orangnya?
Saya juga tidak sepenuhnya yakin, perasaan yang terjadi ketika saya menjalin dan menjalani hubungan dengan seseorang itu memang benar cinta atau kalkulasi, atau mungkin perasaan lain yang tak bernama tapi terdefinisi.
Katanya, cinta adalah manifestasi paling tinggi dari ungkapan rasa dari makhluk bernama manusia. Tapi, kalau pun iya, tujuannya apa? Apa iya manusia mau dan perlu menuju limitasi dirinya dan mengungkapkan seluruh perasaannya tanpa tapi dan tawar? Apa iya itu juga akan menjamin bahagia? Lalu, apa iya tujuan cinta membuat bahagia? Apa iya semua cinta berakhir bahagia?
Barangkali, yang selama ini saya percayai sebagai cinta hanyalah akal-akalan dari filsuf macam Aristoteles atau Kahlil Gibran untuk membuat generasi selanjutnya percaya atau memperdebatkannya, enak sekali ya mereka, mati lalu meninggalkan pertanyaan tanpa jawab.
Hari ini, saya masih tidak tahu dan mengerti, rasanya, saya juga tidak akan mau tahu dan mengerti.
Biarkan cinta tetap menjadi entitas tak terdefinisi.
Biarkan cinta konsisten untuk berubah menyesuaikan medium waktu, ruang, juga orang.
Biarkan cinta menemukan kesederhanaan dalam kompleksitasnya.
Komentar