Langsung ke konten utama

Jeda, Pisah dan Terselip

Seperti yang ku ucapkan dulu beberapa menit sebelum berpamitan, aku kembali di peron yang sama seperti 3 tahun silam saat kamu antar. Ternyata stasiun tak terlalu banyak berubah ya, WC belakang dekat parkiran motor tetap kotor dengan bau khas nya, bahkan sekarang tambah bau dan bersahutan dengan suara jangkrik serta kodok selepas hujan sore tadi. 

Aku mematung beberapa saat, mengamati sekitar sembari berpikir keras mengumpulkan ragam memori yang pernah terjadi di stasiun ini. 

Aku memutuskan pergi, mencari tempat yang bisa leluasa untuk meluruskan kaki sembari merokok dan memantau tarif ojek online, aku sengaja tak memberi kabar untuk minta dijemput, aku yang biasanya tak suka dengan kejutan kali ini sedikit ingin mengejutkan.

Ternyata juga, Angkringan mbah Mo dekat pertigaan stasiun masih buka ya, aku sempatkan mampir sebentar, mbah Mo makin tua ya, katarak nya juga makin parah.

Dia tak seberapa ingat denganku walaupun sudah kuceritakan hal-hal yang sekiranya bisa mengingatkannya, apalagi denganmu, justru lebih tak punya ingatan meski sudah ku ingatkan dengan agak paksa.

"Itu lho mbah, mbak-mbak yang dulu sering anter-jemput aku ke stasiun, tapi emang jarang mau dia kalo diajak makan di sini, cuma pernah beli jahe beberapa kali, biasanya nunggu di mobil aja dia," aku masih semangat menjelaskan soal kamu ke mbah Mo, sia-sia, tetap saja tak ingat hahaha.

Sejujurnya, banyak sekali yang ku rindukan dari kota ini, teramat banyak, dan namamu ada di list atas.

Aku tidak akan lama di sini, aku juga sudah buat list tujuan agar perjalanan ini efektif dan tak buang-buang waktu, seperti yang sering kamu ulang-ulang dulu. 

"Kamu kalo pergi tuh bikin list atau itenarery lah, biar terstruktur mau ke mana jam berapa blablaba,". Sudah ku lakukan, dan aku ingin berterima kasih, secara langsung.

Oiya, aku akan menengok rumah, juga berziarah ke makam Ibu, sudah lama tidak, durhaka rasanya.

Ku harap kamu senantiasa didominasi sehat dan senang, jika boleh aku ingin berkunjung untuk berbincang lagi di bawah pohon rambutan mu seperti dulu.

Lalu, selamat ya, selamat atas pertunangan mu, maaf baru sekarang memberi kabar, maaf juga atas jawabanku dulu yang mungkin tak enak didengar.

Sekarang aku sudah rela juga mencoba biasa saja, ditinggalkan secara tiba-tiba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...