Langsung ke konten utama

Tujuan Hidup

Pernah mikir gak sebenarnya tujuan hidup tuh buat apa? buat nyenengin orang lain? buat nyenengin diri sendiri? atau justru hidup adalah ajang persaingan dengan orang lain? 

Gue ngerasa semakin dewasa justru banyak bitter truth dalam hidup yang terungkap dan mulai harus diterima secara realistis, pait emang, tapi ya gitu adanya. Analoginya nih ya, hidup tuh semacam perlombaan yang lo sebenarnya gak pengen ikutin, tapi mesti. Kadang lo cuma pengen jalanin hidup lo secara santai dan nikmatin semua momen momen kecil di sekitar lo, tapi karena banyak temen lo yang kelewat ambisius dan anggep hidup sebenar-benarnya persaingan, hingga lo secara tidak sadar memilih melupakan kebahagiaan dan hal-hal yang sebelumnya lo nikmatin karena lo ngerasa juga harus compete sama dia, harus bisa bersaing buat sampai finish. Padahal ya, start orang beda-beda, track yang dilalui beragam, tujuannya pun beda juga, jadi ya sebenernya lo gak harus compete, lo gak harus apa-apa cepet kok, yang penting lo nikmatin. 

Penting buat sadar bahwa hidup bukan cuma tentang lo, apa yang lo suka, dan apa yang bikin lo nyaman, gak men, itu semua cuma ada di kepala lo doang. 

Gue juga gak bisa kasih lo jawaban hidup ini tujuannya apa, gak ada rumus pastinya juga. Cuma yang harus lo pegang adalah, berhenti denial bahwa semua akan baik-baik aja, semua akan sesuai sama apa yang lo mau, semua orang akan support lo ketika lo di bawah, juga, lo gak harus compete sama orang lain, sama siapapun. The best winning adalah saat lo gak harus compete sama siapapun, yaudah aja gitu, jalanin hidup lo, nikmati yang lo punya, di titik itu lo justru udah menang.

Karena menurut gue ya, ambisi berlebih tuh justru ngebunuh rasa bahagia lo sendiri, lo butuh fame, lo kejar validasi, lo ngincer buat jadi front man, tapi sebenernya yang lo kejar bukan yang lo butuh.

Lo cuma capek menuhin ekspektasi orang lain yang gak ada habisnya, lo capek buktiin buat dapet validasi ke orang lain, padahal itu gak perlu, bukannya yang lebih penting kebahagiaan buat diri lo sendiri dulu?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...