Langsung ke konten utama

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston.

Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini.

Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri.

"Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran.

"Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama.

"Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin.

Rara adalah teman fakultas kami, Alvin pertama kali melihatnya saat ospek, setahun silam. 

Rara lari tergopoh dari ojek online karena telat datang, sementara Alvin bengong di sebelahku, matanya tajam mengamati perempuan itu saat kami dipanggang mentari di barisan belakang bersama para mahasiswa baru.

Harus kuakui, Rara memang cantik dan punya pesona yang entah bagaimana akupun bingung menjelaskannya. 

Setidaknya, itu terbukti dari desas-desus teman angkatan kami yang cukup banyak berusaha mendekatinya, termasuk para kakak tingkat yang kerap membahas Rara dalam obrolan tongkrongan mereka.

Alvin jelas bukan pesaing tunggal, ia sepenuhnya sadar, amunisinya untuk perang juga masih kalah banyak, di samping itu, mentalnya juga belum sepenuhnya siap untuk mati dalam pertempuran.

"Take it or leave it," aku memberinya penegasan.

"Kalo ternyata dia udah punya pacar gimana? Walaupun pas gue stalk di sosmed sih gak ada tanda-tandanya ya," kata Alvin dengan gamang.

"Atau kalo dia langsung nolak dan gak sudi buat diajak kenalan gimana?" kali ini dia skeptis, hal yang sebenarnya lebih sering ku lakukan.

"Kayaknya emang bakalan gagal sih, tapi yaudah. At least elo lega karena udah coba, daripada mati penasaran, atau elo mau penasaran sampek mati?," seperti biasa, satire ku tak tertahan menghadapinya.

Alvin menatap langit-langit kamarnya, sambil memainkan rokok di tangan kanan yang tak kunjung dibakar. Aku berusaha memahami kegelisahannya, walau sejujurnya aku tidak paham bagaimana rasanya.

Sebenarnya, Alvin punya beberapa kesempatan insidental untuk berkenalan dengan Rara, tapi sayang, manusia moron ini selalu punya kilah yang aku tak pernah bisa menerimanya. 

Suatu siang, selepas kelas, Rara pernah berada di depan kelas kami, dia menunggu untuk menemui Astri, yang belakangan aku tahu dialah informan Alvin untuk mengulik Rara, dengan iming-iming bantuan menyelesaikan beberapa tugas.

Kali lain, Astri pernah datang ke kosku untuk mengambil kamera, beberapa kawan kebetulan juga sedang singgah main PS bersama, termasuk Alvin. 

Dan betul, Astri datang bersama Rara. Aku sengaja membuat skenario agar keduanya bertahan sejenak, Alvin malah tak berani menampakkan batang hidungnya, tiba-tiba dia mules dan mengunci diri di kamar mandi, entah, apakah jatuh cinta juga bisa memengaruhi metabolisme seseorang?

Berulang kali, aku mendebatnya atas kesempatan-kesempatan yang ia lewatkan dengan sengaja. Aku sendiri, tidak pernah percaya kebetulan, dan dia, entah bagaimana selalu diberi kesempatan insidental penuh kebetulan oleh tuhan, lagi dan lagi.

Beberapa minggu lalu, Alvin akhirnya bisa mendengar langsung suara Rara dengan jarak kurang dari setengah meter. Kami berdua berjalan menuju kelas, melewati simpang tengah fakultas tempat para UKM menawarkan program kegiatan pada mahasiswa baru.

Rara ada di sana, sedang tanya jawab soal UKM musik. Aku tahu Alvin buta nada, jarinya juga payah memainkan instrumen, tapi dia menyeret ku menuju posisi Rara berdiri. 

Kini ia persis berdiri di sebelahnya, alih-alih mencairkan suasana, kehadirannya yang hanya mematung justru membuat suasana canggung tak karuan. 

Aku inisiatif melakukan salah satu hal yang secara naluriah aku mahir melakukannya, yakni sok asik. Syukur, suasana canggung mereda, dan nasib Alvin terselamatkan dari kesan pertama yang akan dikenang Rara sebagai cowok freak yang entah datang dari mana dan tiba-tiba berdiri mematung tanpa sepatah kata pun.

"Ternyata suara Rara aslinya lembut banget, nyaman didengerin," katanya, yang lagi-lagi belum berani berkenalan.

Rasa marahku, kini berubah bentuk jadi kasihan padanya. 

Aku tidak paham rasa takut macam apa yang membelenggunya, bagiku dan beberapa kawan lain, Alvin masih dalam standard normal secara tampang, isi kepalanya juga ku asumsikan cukup encer untuk berdialog soal akademik maupun pop culture.

Latarbelakang keluarganya juga tak bermasalah, secara pribadi, dia tak teramat religius, tapi masih jauh mendingan dibanding kami kawan-kawan nya.

Sekali waktu, aku pernah memergokinya sedang memandangi foto Rara, dalam dan lama sekali.

Ku asumsikan dia sedang membayangkan, soal hubungan yang mungkin tak melulu berjalan manis dan indah dengan Rara, tapi sepadan untuk dijalani.

Membayangkan, mereka akan menciptakan banyak momen, membuat kesepakatan juga kenangan satu sama lain.

Alvin yang referensi filmnya lebih banyak gore dan art house, mungkin akan berkompromi untuk lebih banyak menonton film romcom seperti kebiasaan Rara.

Kecanggungan sosial Alvin juga mungkin akan berkurang, karena akan banyak berkelindan dengan manusia di konser musik seperti yang Rara kerap lakukan.

Lalu, Alvin juga mungkin akan melatih dirinya untuk terbiasa melakukan words of affirmation, ia tahu itu love language yang disukai Rara.

Bahkan mungkin, palet lidah Alvin akan makin tajam karena eksplorasi kudapan hasil rekomendasi Rara.

Semua kemungkinan itu sangat mungkin, untuk dibayangkan oleh orang yang jatuh cinta sendirian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...