Langsung ke konten utama

Hidup dan Analogi

Jadi, sebenernya hidup tuh kayak apa? Tujuannya apa dan yang dikejar juga apa?

Pas udah mulai dewasa, baru ngerti kan sama dunia yang sebenarnya tuh kayak gimana, ternyata gak seindah cerita dongeng atau rekaan bahagia masa kecil, iyaa, kita semua cukup lama terkurung dalam ilusi perfect life yang sebenernya penuh delusional. 

Ternyata, hidup bisa getir banget dan minta di anjing-anjingin, kayak roller coaster aja gitu, ya gak sih?, naik turun, sekalinya naik seneng banget banget karena bisa dapet angin dan space nafas banyak, juga bisa liat view yang oke, di titik teratas pun bisa jadi spot foto yang estetis. Tapi, sekalinya turun, juga curam dan nyeremin banget, bikin teriak teriak kadang juga bikin gak berani ngeliat keadaanya.

Atau, hidup sebenernya tuh kayak sebuah perlombaan, yaa, perlombaan yang sebenernya gak pengen lo ikutin tapi mesti. rasanya kayak tiba-tiba aja gitu lo jadi peserta di track lomba, gak ada persiapan apalagi rencana. Kalo mau puter balik startnya udah jauh banget, tapi kalo tetep lanjut juga garis finishnya belom keliatan.

Semua orang seolah-olah jadi peserta lomba dan menganggap hidup adalah tentang persaingan soal angka yang harus diraih di akhir, lomba jadi yang paling fame, jadi yang paling hype, jadi yang paling tinggi, semua serasa butuh piala, yaitu pengakuan dan validasi dari orang lain.

Padahal ya, capek banget tau.

Gak tau apa yang lo kejar dan lo mau, yang penting ngikut aja biar kayak lainnya.

dan, mau sampek kapan? mau sampek kapan hidup di ekspektasi orang lain?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20an

Barangkali, hidup emang sengaja menempatkan manusia pada tiap-tiap masa usia untuk dinikmati secara pol-polan, mau seneng seneng, sedih, chaos, brutal, juga main aman sepanjang masa, barangkali, memang selalu ada masanya bagi setiap hal, masa merasa menjadi gerombolan bermain paling asik diantara generasi atau kelompok lainnya, masa merasa harus mendobrak stigma juga menabrak aturan main, juga banyak lain lah yang kita sama-sama tau juga alami kan. Coba kroscek mundur, yang terbiasa selalu ramai bersama akan disuguhi situasi dalam kesendirian dan sepi, yang biasanya selalu ada backup plan tiba-tiba saja stagnan di momen yang membuat kita membatin "Bangsat, dulu kayaknya momen kayak gini bisa dilewati dengan gampang deh, punya plan b c d juga bisa improve sana-sini meskipun kemungkinannya kecil, tapi kenapa sekarang jadi berat dan beda banget". Banyak yang berubah juga berganti, ada yang bertahan tapi juga banyak sekali yang pergi. Masa-masa kayak gini sih emang anjing banget,...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...