Sekali lagi Wregas Bhanuteja membuktikan bahwa ia memang sutradara yang patut diperhitungkan dan layak mendapat atensi lebih.
Budi Pekerti jadi salah satu medium yang menegaskan kepiawaian Wregas dalam bertutur, brengsek memang, ia benar-benar ulung.
Saya puas secara personal karena Budi Pekerti berhasil menunaikan tugas utamanya sebagai karya yang bagus dan tidak terlena dengan pesan moral krusial.
Sebagaimana pun besar dan krusial pesan yang dibawa, saya selalu berpegang teguh kekaryaan dan kualitas film harus berada pada satu atau beberapa lapisan lebih baik di atasnya, dan Budi Pekerti berhasil untuk itu.
Skenarionya solid dan kaya, bisa dipahami bahwa skenario ini melewati proses panjang dan ditulis secara mendalam dengan kecintaan yang juga besar.
Lalu, diinterpretasikan dengan jajaran pemain yang juga sangat luwes dan terpercaya. Ketika menonton saya benar-benar larut dalam intrik keluarga bu Prani, saya tidak sedang melihat Sha Ine Febriyanti, Dwi Sasono, Prilly Latuconsina maupun Angga Yunanda. Saya hanya melihat keluarga bu Prani.
Saya dimenangkan oleh banyak sekali hal, departemen akting barang tentu tak perlu diragukan, seluruhnya benar-benar menjaga dan menyuguhkan performa memukau, seluruhnya. Setidaknya untuk saya yang tumbuh dan besar dengan kultur Jawa, saya tidak merasa aneh mendengar mereka berbahasa Jawa.
Sepanjang durasi, salah satu elemen penting yang paling memikat hati saya adalah 'mata'. Wregas banyak memilih shot Close-up yang intens dan menyesakkan untuk menunjukkan bahwa mata bisa sangat hidup kendati tanpa narasi sekalipun.
Jika kamu sudah menonton behind the scene Prilly yang berhasil mengeluarkan air mata hanya dari sisi sebelah kiri, ketika menonton kamu akan menemui lebih banyak, Wregas membuat mata bisa menyuarakan berbagai rasa dengan lantangnya, Sha Ine lewat bu Prani membuktikan itu berkali-kali.
Segeralah tonton, lebih baik tanpa ekspektasi apapun, dan saya cukup meyakini kepalamu akan penuh, entah dengan pertanyaan atau pujian.
Saya memetakan, ada beberapa titik kejut, titik tawa hingga titik tangis yang sebenarnya saya tidak siap dengan itu, terlebih pada final sequence, bersiaplah dan nikmatilah sedalam mungkin, selarut mungkin.
Ring light, kuburan, diantar pulang dan bakso adalah sedikit dari banyak sekali yang masih menempel jelas di kepala saya.
Sepanjang durasi, saya berkali-kali dibuat kagum dengan shot atau line yang akhirnya jadi favorit versi saya, nyatanya sepanjang film saya juga mengingkari dan beberapa kali merepetisi gumaman saya sendiri.
"Ahh bagus ini, favorit,"
"Eh ini sih keren banget ini,"
"Wahh yang ini sih anjing bagus banget,"
"Memang bajingan Wregas, bajingan bagus banget,"
Dari banyak yang membuat saya bergumam atau terperanjat, salah satu yang paling menohok bagi saya adalah sepenggal dari Muklas "Ini bulan yang paling berat bagi keluarga kita, tapi bagi orang lain ini hanya satu notifikasi,".
Komentar