Langsung ke konten utama

Theater of Mind

Kadang, di situasi tertentu saya berkontemplasi cukup lama dan dalam sekali, saya coba menyusun pikiran-pikiran liar di kepala dan mencoba menjadikannya kerangka utuh, yang walaupun seringkali tidak mendapatkan konklusi yang memuaskan dari kontemplasi yang saya lakukan, paling tidak dapat mengajak otak saya berputar dan semakin mengenali diri saya sendiri. Tentu, ada kalanya berpikir teramat melelahkan, memuakkan, juga menjengkelkan.

Saya tak tau sejak kapan tepatnya, di kepala saya selalu ada dark voice dan semacam alter mind yang terus-terusan menabrak logika saya yang selama ini saya anggap logika waras, ketika saya memikirkan satu hal, otak saya menjadikannya dua cabang bahkan lebih, tentu, banyak perspektif yang muncul, tapi percayalah, itu menyiksa. Semacam ada banyak sekali suara di kepala sendiri yang bahkan kita tidak sepenuhnya yakin atas semua suara yang ada, susah dan bias sekali mencari kebenaran yang mutlak di kepala sendiri.

Namun, di sisi lain saya juga merasa mendapat keuntungan dari sana, saking banyaknya cabang pikiran dan perspektif, saya merasa cukup bisa memahami karakter seseorang, tentu dengan kesotoyan dan hipotesis asbun di kepala saya.

Satu saat saya bisa merasa bersosial dengan orang lain adalah sesuatu yang sangat seru, bertukar dan saling bertutur, haha hihi tanpa henti, seru, saya menikmati sekali momen semacam itu tanpa ketakutan, namun, di lain masa, saya juga bisa sangat benci dengan society, dengan perkumpulan dan kultur bersosial yang saya anggap tidak penting dan saya merasa tidak harus menjadi bagian di dalamnya, bingung kan? tentu, semua kebingungan dan inkonsistensi tersebut ada di kepala saya.

Sejauh ini, setidaknya 20 tahun, saya tidak benar-benar yakin atas diri saya sendiri, saya tak cukup kenal, saya tak mampu menguasai, saya belum bisa.

Apa iya ini proses, proses mengenali dan menjadi diri sendiri, jika iyaa, kenapa saya tidak sepenuhnya menikmati proses ini, bukankah menjadi diri sendiri adalah keinginan semua orang?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...