Kadang, di situasi tertentu saya berkontemplasi cukup lama dan dalam sekali, saya coba menyusun pikiran-pikiran liar di kepala dan mencoba menjadikannya kerangka utuh, yang walaupun seringkali tidak mendapatkan konklusi yang memuaskan dari kontemplasi yang saya lakukan, paling tidak dapat mengajak otak saya berputar dan semakin mengenali diri saya sendiri. Tentu, ada kalanya berpikir teramat melelahkan, memuakkan, juga menjengkelkan.
Saya tak tau sejak kapan tepatnya, di kepala saya selalu ada dark voice dan semacam alter mind yang terus-terusan menabrak logika saya yang selama ini saya anggap logika waras, ketika saya memikirkan satu hal, otak saya menjadikannya dua cabang bahkan lebih, tentu, banyak perspektif yang muncul, tapi percayalah, itu menyiksa. Semacam ada banyak sekali suara di kepala sendiri yang bahkan kita tidak sepenuhnya yakin atas semua suara yang ada, susah dan bias sekali mencari kebenaran yang mutlak di kepala sendiri.
Namun, di sisi lain saya juga merasa mendapat keuntungan dari sana, saking banyaknya cabang pikiran dan perspektif, saya merasa cukup bisa memahami karakter seseorang, tentu dengan kesotoyan dan hipotesis asbun di kepala saya.
Satu saat saya bisa merasa bersosial dengan orang lain adalah sesuatu yang sangat seru, bertukar dan saling bertutur, haha hihi tanpa henti, seru, saya menikmati sekali momen semacam itu tanpa ketakutan, namun, di lain masa, saya juga bisa sangat benci dengan society, dengan perkumpulan dan kultur bersosial yang saya anggap tidak penting dan saya merasa tidak harus menjadi bagian di dalamnya, bingung kan? tentu, semua kebingungan dan inkonsistensi tersebut ada di kepala saya.
Sejauh ini, setidaknya 20 tahun, saya tidak benar-benar yakin atas diri saya sendiri, saya tak cukup kenal, saya tak mampu menguasai, saya belum bisa.
Apa iya ini proses, proses mengenali dan menjadi diri sendiri, jika iyaa, kenapa saya tidak sepenuhnya menikmati proses ini, bukankah menjadi diri sendiri adalah keinginan semua orang?
Komentar