Bagaimana pun, tidak semua hasil selalu lewati proses yang sama, tidak dengan situasi yang selalu senang, tidak pada kondisi yang pasti tenang. Mungkin banyak luka lara, rubuh runtuh, kelam kejam.
Sepertinya, hidup memang demikian, dan juga harusnya berjalan demikian, serupa ruang-ruang yang tidak serupa, berbagai medium warna yang selalu konsisten untuk berubah ubah.
Pada ruang ruang tersebut, kita dekat dengan perpindahan, kebisingan lalu keasingan, kesenangan dan mungkin kesengsaraan.
Tetap saja, tidak akan pernah sama antara satu dua dan lainnya.
Rasanya, satu satunya cara terbaik yang bisa selalu dilakukan makhluk bernama manusia adalah berkompromi. Pada situasi yang terjadi, pada ego diri sendiri, dan pada kompromi itu sendiri.
Kita mungkin lelah, ingin pasrah atau berserah dan memilih kalah.
Tapi kita juga bisa kuat, dikuatkan dan menguatkan.
Dari semua paradoks yang tak terjawab, dan semua asumsi yang kontemplatif.
Kita seharusnya berkesimpulan utuh pada satu kepercayaan, diri sendiri.
Diriku, mu.
Beri dia kewarasan, jaga dan pelihara.
Jangan dominasi dengan kebencian, ego butuh makan, tentu.
Tapi sadari juga bahwa, kebencian itu yang akan membunuhmu dari dalam.
Fahmi Fahriza, dengan ego.
Komentar