Langsung ke konten utama

Covid-19 : Dikotomi Minor dan Mayor

Pandemi covid-19 ini jelas bukan situasi yang menyenangkan, malah malah menyebalkan. Entah bagaimana caranya virus ini menyebar sedemikian cepat? kenapa bisa terjadi ? siapa yang harus bertanggung jawab ? mana vaksin dan penawarnya ? dan berbagai pertanyaan lain menyeruak tanpa jawab. Sekira hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan virus ini menyebar dan menjadi momok yang menakutkan di berbagai wilayah di hampir semua negara sampai statusnya berubah menjadi pandemi, lebih besar dari sekadar epidemi. 

Indonesia tak terkecuali, negara yang sedang berusaha menuju maju dari berkembang ini mencatat kasus positif covid-19 yang tak bisa dikatakan sedikit, dari berbagai kalangan, usia, jenis kelamin dan cara penyebaran. 

Harus diakui pandemi ini berdampak dalam banyak sekali aspek. Tersebutlah pendidikan, berbagai institusi pendidikan negeri maupun swasta mengambil langkah serentak, meliburkan atau menyelesaikan proses belajar mengajar lebih awal, sekira mulai maret dan sampai waktu yang belum dipastikan, damn, this is a shit situation. Dalam hal lain, perekonomian melemah, hampir semua terdampak, UMKM, pariwisata, manufaktur, bahkan perekonomian skala kecil semacam pasar dan usaha perorangan. Aspek krusial lain yang juga terkena imbasnya adalah pemerintahan dan sosial budaya, banyak instansi pemerintahan yang meminta karyawannya untuk bekerja dari rumah masing-masing atau kini kita sebut work from home. Sosial budaya barang tentu adalah aspek yang paling signifikan terlihat perbedaanya, jalanan menjadi sepi, interaksi sosial berkurang, berkumpul dilarang, dan penerapan social distancing dan physical distancing yang dianjurkan pemerintah yang membuat kita pada akhirnya tersadar bahwa, semua kalangan terdampak dalam pandemi ini. Entah minoritas maupun mayoritas, entah marjinal atau komunal.

Ini situasi yang berat. Namun kita tidak seharusnya kehilangan entitas dan rasa kemanusiaan pada sesama. 

Untuk yang berlebih barang tentu bisa sedikit menyisihkan.

Untuk yang paham barang kali bisa sukareka mengedukasi.

Untuk yang berwenang harap arif mengambil kebijakan.

Menghadapi pandemi ini, kita masih butuh nafas yang panjang.

Untuk mengakhiri pandemi ini bersama sama , dan saling menguatkan antar sesama.

Komentar

Anonim mengatakan…
Waa bagus bangettt. Tetap produktif dan jaga kesehatan walaupun hanya di rumah. Jangan lupa makan dengan makanan yang bergizi seperti sayur, buah, daging, susu, telur dan lainnya.

Postingan populer dari blog ini

Akrab Dengan Keasingan

Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?  Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda. Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya. Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian. Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...