Langsung ke konten utama

Lo juga?

Gue belakangan ngerasa banyak banget buang-buang waktu, bukan buang-buang waktu buat ngelakuin hal yang gak penting, tapi buang-buang waktu buat gak ngelakuin apa-apa bahkan.


Rasanya kayak gak ada tujuan yang mau gue kejar, padahal jelas-jelas keliatan depan mata, rasanya juga kayak gak ada motivasi buat ngelakuin sesuatu, padahal juga lagi gak bermasalah sama sesuatu.


Brengsek banget, bermalam-malam gue ngabisin waktu buat mikir, sebenernya gue kenapa sih, apa sih yang sebenernya gue mau, pertanyaan yang gue anggap simpel ternyata belom juga nemu jawaban yang bikin gue lega, atau seenggaknya bikin gue berhenti kontemplasi.


Gue sih capek ya sebenernya, kesel juga sama diri sendiri.


Gue gak mau terlalu mendramatisir ini jadi sesuatu yang terus-terusan ngusik di kepala, tapi gue juga belum tau cara escape nya. 


Ada yang bilang sih, katanya udah harusnya berhenti lari dari sesuatu yang kita anggap gak nyaman, barangkali bener, gue harusnya udah mulai belajar buat berhenti lari dari semua hal yang bikin gue gak nyaman, hadapin aja, walaupun, pertarungan paling berat tuh emang sama diri sendiri.


Gue berharap lo baca, bukan buat kasih lo motivasi, jelas bukan kapabilitas dan tujuan gue, gue cuma berharap lo juga berhenti lari dari semua hal yang bikin lo gak nyaman, itu aja.


Karena gue mengilhami, terus-terusan lari gak lantas bikin lo bebas dari semua hal itu, ketakutan lo pada akhirnya jadi makin besar, ketika beneran udah makin besar, makin susah lo handle dan mungkin juga gak akan bisa lo kalahin. 


Gue berharap, semoga sesegera mungkin gue berhenti lari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akrab Dengan Keasingan

Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?  Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda. Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya. Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian. Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah...

Cara Bijak Bersosial Media

Zaman sekarang kebebasan dalam bersosial media sudah sangat luar biasa dan tak terbendung, semua orang bebas dan berhak berkomentar serta menyumbang opini mereka masing-masing tanpa adanya filter atau aturan teknis yang mengikat, jika dalam hal ini berkomentar dan beropini secara bebas diartikan sebagai " tukang nyinyir dan tukang ikut campur urusan orang " maka kesannya jadi negatif sekali, tapi tak bisa dipungkiri faktanya juga demikian.  Sekarang orang begitu mudahnya mencibir, mencela, mencaci/menghina di sosial media, Perbedaan visi ribut, Perbedaan pandangan, adu argumen siapa yang lebih benar dengan nada nada menjatuhkan dan meremehkan, Merasa seolah pendapat mereka yang paling benar dan mengkerdilkan pendapat yang lain, Tak usahlah perkara perkara besar semacam perbedaan pandangan politik atau perbedaan agama, Hal hal kecil dan sepele aja bisa ngebuat kita ribut dan adu mulut, sesederhana siapa yang lebih hebat antara messi atau ronaldo, atau sesederhana : apa yang...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...