Ingat dan catat namanya, Raphael Wregas Bhanuteja.
Saya sudah teramat antusias dengan proyek ini sejak pertama kali diumumkan bahwa Wregas akan menggarap film panjang pertamanya, bahkan ketika judul film, genre, pemain dan semua kompleksitasnya belum terkuak, sama sekali belum ada petunjuk, tapi saya meyakini dengan sangat bahwa ini akan jadi sebuah karya yang penting berbekal menilik karya-karya film pendek Wregas sebelumnya, dan antusiasme juga penantian saya akhirnya berbalas sajian 130 menit yang benar-benar memikat nan mengikat.
Sesaat setelah menonton, saya akhirnya benar-benar bisa mengilhami ungkapan bahwa film tidak saja sekadar, tapi jauh lebih dari itu, jauh lebih kompleks, medium bernama film nyatanya bisa ditarik ke spektrum yang sangat jauh, dan saya menginterpretasikan Penyalin Cahaya sebagai bentuk perlawanan serta pernyataan sikap.
Penyalin Cahaya, sebuah film yang bagi saya hampir sempurna secara keseluruhan, skenario dan development masing-masing karakter sungguh sangat gila, lapisan dan eskalasi konflik juga plot tiap karakter benar-benar disajikan dengan apik, tak ada yang menyia-nyiakan screentime yang diberikan.
Menyoal sinematografi dan komposisi warna, ini mahakarya, indah bukan main, saya sudah takjub sejak scene pertama, saya agaknya beruntung bisa menyaksikan terlebih dulu, pun lewat layar besar, pengalaman sinematik yang memuaskan.
130 menit durasi, tidak lantas membuat film ini membosankan atau kehilangan atensi dari penonton, tidak sama sekali, entah bagaimana proses kreatif kepala Wregas bekerja sehingga bisa bertutur dengan sangat baik, intens dan benar-benar bisa mengikat penonton.
Pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa Penyalin Cahaya nyatanya memang layak untuk 12 Piala Citra, saya memunculkan banyak reaksi spontanitas yang sebelumnya tak pernah terjadi ketika saya menikmati sebuah film, saya marah juga demikian geram di beberapa scene, saya terpaku dan meringis ngilu di beberapa scene lainnya.
Saya cukup meyakini bahwa akan banyak reaksi jujur dan spontan yang akan kalian lakukan, kalian akan marah bahkan mungkin menangis menontonnya.
Selamat bertemu dengan Suryani dan dunia di sekelilingnya.
Selamat menyelami dunia sinema dari kepala Wregas Bhanuteja.
Persiapkan hati juga mental untuk menonton film ini, banyak yang tidak siap dengan apa yang akan disajikan, termasuk saya.
Ketika film selesai dan credit naik, seolah seperti sudah direncanakan dan berulang kali dilatih, kami yang menonton secara spontan dengan sukarela dan bersama-sama melepaskan standing ovation yang panjang, meriah, magis, power of cinema, pengalaman yang baru pertama kali saya rasakan.
Scene rooftop kampus agaknya akan menjadi scene yang sering saya repetisi juga akan susah keluar dari kepala saya, menakjubkan!
Komentar