Apa ya kemungkinan terburuk dari orang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?
Keasingan pada objek, ruang, orang, momen hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, saya percaya sejatinya kita semua dekat dengan keasingan.
Tapi, saya sendiri yang sudah berulang kali berada dalam situasi sama, juga masih pandir dalam mengelola perasaan pada keasingan.
Aneh rasanya, berkunjung ke rumah makan yang sama, dengan pilihan meja dan menu serupa, tapi dengan orang yang berbeda.
Atau, keanehan lain karena harus memulai obrolan super canggung dengan orang yang tadinya tidak pernah lepas jadi pendengar sekaligus pencerita setiap hari, setiap waktu.
Bagi saya, hal-hal tersebut selalu terasa aneh untuk dirasakan, untuk dijalani. Namun, saya juga meyakini dengan pasti hal-hal serupa memang perlu ada dan akan selalu ada.
Pada titik ini, saya merasa membiasakan diri pada keasingan hanya bisa dilakukan oleh dua jenis manusia. Mereka yang sepenuhnya menggunakan logika, atau mereka yang sama sekali tidak menggunakan hati, hanya dua.
Tentu, saya bukan dan merasa tidak perlu jadi salah satunya. Menurut kewarasan yang saya ilhami, keasingan, meskipun seringkali menyebalkan dan berimplikasi negatif pada hal-hal yang saya lakukan juga ucapkan, adalah entitas yang saya butuhkan, saya perlu untuk terus bisa merasakan keasingan.
Entah apa yang saya baca, atau siapa yang saya dengar, saya yakin keasingan adalah medium yang membawa saya untuk bisa mengenali diri lebih dalam. Jadi, banyak keasingan yang terjadi adalah harga yang harus saya bayar untuk bisa mengenali diri lebih dalam, cukup sepadan.
Namun, yang lucu adalah, entah bagaimana caranya keasingan juga dirasakan oleh mereka yang tak terlibat langsung pada momen, ruang, objek dan kebiasaan.
Tukang bakso yang dulu menyajikan dua mangkok, penjaga bioskop yang dulu merobek dua tiket, tukang parkir yang dulu menepikan dua helm. Bayangkan, berapa banyak keasingan yang mereka harus lihat dan hadapi karena keasingan yang sejatinya dilakukan oleh orang lain, lucu nan ironi, kan?
Komentar