Langsung ke konten utama

Satria Dewa : Gatotkaca

Gue bingung harus mulai darimana, intinya gue happy nonton Gatotkaca, film pembuka yang asik dari Satria Dewa Universe. 


Gue ngerasa Gatotkaca punya potensi yang sebenernya bisa dieksplor dan dieksekusi lebih baik lagi, mengingat budget produksi mencapai 24m gue ngerasa keseluruhan aspek filmnya harusnya bisa lebih, gue jelasin apa-apa aja yang terasa minor dari sudut pandang gue sebagai penonton, yang pertama dan utama tentu aspek fighting yang intensitas munculnya padet di sepanjang jalannya film, gue awalnya cukup berekspektasi tinggi karena ada nama-nama macam Yayan Ruhian, Cecep Arif Rahman, dan Max Metino yang selain jadi aktor juga bisa jadi koreografer fighting. Gak ada yang salah dengan scene fighting ketiganya, cuma pr besarnya adalah beban fighting bukan cuma di mereka, tapi ya ensemble cast, dan gue ngerasa beberapa pemain kurang luwes atau kurang pd buat eksekusi scene fighting, keliatan dari gimana mereka bergerak, dan makin keliatan lagi dari transisi shot fighting yang kurang dinamis, beberapa kali jumping juga, dan ya emang cukup ganggu.


Menyoal storyline filmnya cukup enak diikuti, Pace nya gak bertele-tele tapi juga gak buru-buru pengen sampek ke klimaks konflik, gue ngerasa pas, pun di beberapa scene mas Hanung lebih milih menyiasati plot lewat monolog dibanding ekseskusi secara visual, yang menurut gue fine-fine aja, monolog jelas bisa meringkas durasi biar gak over mengingat durasi filmnya sendiri udah lebih dari 2 jam dan monolog bisa jadi jalan buat langsung ke point apa yang mau diomongin, treatment yang sama dia pake di Bumi Manusia, karena gue langsung keinget sama monolog Minke. 


Buat lo yang emang suka sama pewayangan atau bahkan ngulik karakter dan dunianya, lo akan dengan mudah buat ngalir sama plotnya, pun kalo lo awam soal wayang dan dunianya, gue rasa juga gak sesusah itu buat nikmati cerita, karena plotnya cukup linear dan seperti yang gue bilang, gak buru-buru atau bertele-tele, pas. 


Kalo ada satu hal yang beneran ganggu buat gue adalah product placement, tipikal film-film mas Hanung, hampir pasti ada product placement, cuma disini banyak banget dan kurang smooth eksekusinya.


Soal set kota fiksi Astinapura juga kurang believable buat gue, masih kerasa dan keliatan banget Jogja nya, karena kelar nonton gue lewat jalan Malioboro nengok kanan-kiri sambil coba mind mapping set yang dipake shooting mana aja, ya walaupun agaknya kekurangan dari tim production design ini bisa gue kesampingkan karena harusnya shooting di empat kota dan terpaksa di satu kota doang akibat pandemi.


Gatotkaca sebagai pembuka universe Satria Dewa emang belum bisa kalo dibilang bagus banget, tapi juga jauh dari kata jelek. 


Design kostumnya bagus, bagus banget malah menurut gue, dan proporsional, bukan karena kostumnya bagus dengan budget mahal lantas dikeluarin mulu di semua scene, gak, disesuaikan banget sama ceritanya dan menurut gue malah pas, scoring nya juga asik, gue gak ngeh itu lagu siapa-siapa aja, tapi feeling gue lagu baru semua dan emang asik-asik.


Gue optimis, film-film selanjutnya bakal lebih berkembang secara eksekusi, bakal muncul banyak hero yang masyarakat awam (termasuk gue) gak nyangka kalo kita punya sejarah sebesar dan sekompleks itu, jelas Pandawa Lima akan jadi momentum besar filmnya dan gue cukup yakin akan narik penonton penonton baru, selain itu gue sangat menunggu Adipati Karna, sangat. 


Selamat menonton, selamat ketemu beceng yang ditodong beceng, dude!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20an

Barangkali, hidup emang sengaja menempatkan manusia pada tiap-tiap masa usia untuk dinikmati secara pol-polan, mau seneng seneng, sedih, chaos, brutal, juga main aman sepanjang masa, barangkali, memang selalu ada masanya bagi setiap hal, masa merasa menjadi gerombolan bermain paling asik diantara generasi atau kelompok lainnya, masa merasa harus mendobrak stigma juga menabrak aturan main, juga banyak lain lah yang kita sama-sama tau juga alami kan. Coba kroscek mundur, yang terbiasa selalu ramai bersama akan disuguhi situasi dalam kesendirian dan sepi, yang biasanya selalu ada backup plan tiba-tiba saja stagnan di momen yang membuat kita membatin "Bangsat, dulu kayaknya momen kayak gini bisa dilewati dengan gampang deh, punya plan b c d juga bisa improve sana-sini meskipun kemungkinannya kecil, tapi kenapa sekarang jadi berat dan beda banget". Banyak yang berubah juga berganti, ada yang bertahan tapi juga banyak sekali yang pergi. Masa-masa kayak gini sih emang anjing banget,...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...