Langsung ke konten utama

Losmen Bu Broto

Putri Marino invasion. Mari kita mulai dari situ.

Tak berlebihan rasanya jika saya bilang kualitas akting Putri Marino sebagai Mbak Pur luar biasa meyakinkan secara meta maupun emosi, saya berhasil dibawa ke realita fiksi dalam dunia yang dialami mbak Pur tentang seberapa miris dan memilukan kisah asmaranya yang ternyata berdampak sedemikian signifikan sepanjang film, kemarahan dan kesedihannya barang tentu adalah sesuatu yang banyak dieksploitasi secara verbal maupun metafor di banyak scene, tapi saya menyoroti satu hal, matanya, sungguh sangat menyiratkan banyak pesan yang lebih kuat dari sekadar tangis atau kemarahan yang dia keluarkan.

Bagi saya, mbak Pur adalah kebanyakan dari kita, yang lebih banyak memendam rasa dibandingkan mengutarakan, yang lebih baik menghindari daripada melawan, pada akhirnya itu hanya jadi bom waktu yang akan meledak tanpa tanding, berbeda dengan adiknya, Sri, yang cukup fluktuatif dalam mengeluarkan emosi yang dirasakannya, tawa tangis redam perlawanan silih berganti dikeluarkan Sri, untuk membuktikan bahwa dia manusia merdeka.

Ini film keluarga, dengan konflik yang mungkin tak umum dialami kebanyakan keluarga.

Hampir keseluruhan plot ditopang oleh karakter wanita, namun juga tidak saja menempatkan pria dengan porsi yang minor, pas.

Ini film yang saya rekomendasikan untuk ditonton, shot shot nya menyejukkan dengan tone warna yang juga asik, ditambah scoring yang membuat film ini tetap belum sempurna tapi sangat kuat dengan ensemble cast yang solid.

"Aku ndak papa jadi bayang bayangnya Sri, tapi ibu harus tau kalo aku juga udah usaha," satu line dialog dari Mbak Pur yang memilukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20an

Barangkali, hidup emang sengaja menempatkan manusia pada tiap-tiap masa usia untuk dinikmati secara pol-polan, mau seneng seneng, sedih, chaos, brutal, juga main aman sepanjang masa, barangkali, memang selalu ada masanya bagi setiap hal, masa merasa menjadi gerombolan bermain paling asik diantara generasi atau kelompok lainnya, masa merasa harus mendobrak stigma juga menabrak aturan main, juga banyak lain lah yang kita sama-sama tau juga alami kan. Coba kroscek mundur, yang terbiasa selalu ramai bersama akan disuguhi situasi dalam kesendirian dan sepi, yang biasanya selalu ada backup plan tiba-tiba saja stagnan di momen yang membuat kita membatin "Bangsat, dulu kayaknya momen kayak gini bisa dilewati dengan gampang deh, punya plan b c d juga bisa improve sana-sini meskipun kemungkinannya kecil, tapi kenapa sekarang jadi berat dan beda banget". Banyak yang berubah juga berganti, ada yang bertahan tapi juga banyak sekali yang pergi. Masa-masa kayak gini sih emang anjing banget,...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...