Putri Marino invasion. Mari kita mulai dari situ.
Tak berlebihan rasanya jika saya bilang kualitas akting Putri Marino sebagai Mbak Pur luar biasa meyakinkan secara meta maupun emosi, saya berhasil dibawa ke realita fiksi dalam dunia yang dialami mbak Pur tentang seberapa miris dan memilukan kisah asmaranya yang ternyata berdampak sedemikian signifikan sepanjang film, kemarahan dan kesedihannya barang tentu adalah sesuatu yang banyak dieksploitasi secara verbal maupun metafor di banyak scene, tapi saya menyoroti satu hal, matanya, sungguh sangat menyiratkan banyak pesan yang lebih kuat dari sekadar tangis atau kemarahan yang dia keluarkan.
Bagi saya, mbak Pur adalah kebanyakan dari kita, yang lebih banyak memendam rasa dibandingkan mengutarakan, yang lebih baik menghindari daripada melawan, pada akhirnya itu hanya jadi bom waktu yang akan meledak tanpa tanding, berbeda dengan adiknya, Sri, yang cukup fluktuatif dalam mengeluarkan emosi yang dirasakannya, tawa tangis redam perlawanan silih berganti dikeluarkan Sri, untuk membuktikan bahwa dia manusia merdeka.
Ini film keluarga, dengan konflik yang mungkin tak umum dialami kebanyakan keluarga.
Hampir keseluruhan plot ditopang oleh karakter wanita, namun juga tidak saja menempatkan pria dengan porsi yang minor, pas.
Ini film yang saya rekomendasikan untuk ditonton, shot shot nya menyejukkan dengan tone warna yang juga asik, ditambah scoring yang membuat film ini tetap belum sempurna tapi sangat kuat dengan ensemble cast yang solid.
"Aku ndak papa jadi bayang bayangnya Sri, tapi ibu harus tau kalo aku juga udah usaha," satu line dialog dari Mbak Pur yang memilukan.
Komentar