Langsung ke konten utama

Antologi pt 1

SERASA

Awalnya, Kukira kita adalah medium yang beriring, yang mengekalkan tanpa mengelakkan

Kukira kita serupa kata yang tersusun menjadi kalimat pujangga, ternyata hanya sekumpulan huruf abstrak tak bermakna

Kukira kita adalah dua yang sengaja dipersatukan, ternyata hanya dua yang berusaha dipaksakan

Kukira kita dua dengan rasa yang sama besar, ternyata hanya rasa sepi yang menyamar

Kukira, aku terlalu terlalu banyak mengira hal baik tentang kita

Percayalah, sudah ku usahakan semampuku, juga ku iringi dengan banyak rasa

Sampai akhirnya, aku sadari, semesta tak selalu berbaik hati pada setiap insan yang jatuh hati

Semoga baik bagimu, juga ku

Semoga lega bagiku, juga mu

Semoga kau tetap tau

Aku pernah jatuh padamu, dalam sekali





MUNGKIN KITA PERLU

Barangkali kita butuh jeda sejenak

Dari semua bising, tanya dan ragu

Mungkin juga perlu kembali menata

Rasa dan kata-kata

Siratan dan pilihan

Mungkin kita perlu terima

Bahwa tak perlu ada kesempatan kedua

Mungkin kita perlu kembali

Pada keasingan masing masing

Mungkin kita perlu tersadar

Pada harapan yang lama pudar

Mungkin kita perlu percaya

Pada takdir yang tak sesuai rencana

Mungkin kita perlu mengamini

Pada hati yang tak lagi tersakiti

Mungkin kita perlu merayakan

Pada jujur yang lama tertahan

Mungkin kita perlu mengingat

Bahwa tak ada satupun yang perlu diingat





SESAL

Aku menyesali bahwa kita tidak pernah benar-benar selesai

Aku menyesali kita enggan untuk berpindah, berpindah pada ruang yang lebih melegakan masing-masing kita

Ruang yang kita jajaki dengan sepenuhnya keterbukaan hati masing-masing setelah kita terpaksa sama-sama

Sama-sama meninggalkan yang cukup untuk yang sepertinya lebih banyak, meninggalkan yang nyaman untuk yang barangkali lebih menyenangkan, meninggalkan yang satu untuk yang terlihat bisa menjadi padu, ternyata, aku menyesal

Aku menyesali dengan sangat

Meninggalkan semuanya

Meninggalkan kita

Meninggalkan diriku pada hubungan yang tidak selesai

Aku tidak sampai hati mengharap kau menyesal atas hal yang sama denganku, tapi aku sungguh merapal semoga kau sekali saja setidaknya, menyesal dengan rasa yang sama

Rasa yang kupikir akan reda seiring waktu berjalan, ternyata medium waktu tak cukup bisa menghentikan rasaku

Entah dengan medium apa aku bisa lupa, atau setidaknya reda, atau barangkali aku memang benar-benar enggan lupa






KALUT DAN NESTAPA

Sejauh apapun kita nanti, aku tetap ingin berhenti, sejenak saja

Duduk berdua, merapikan yang kalut dan memutar kembali yang terlewat

Selain itu, tentu, aku ingin memastikan

Bahwa kita masih akan bersama melanjutkan

Melewati ragam liku, melepaskan penat sendu

Ku harap, kamu segera terbiasa, dengan ragam nestapa dan rasa lain yang menyiksa

Entah akan berapa kali pemberhentian lagi, tapi ketahuilah bahwa aku menginginkan selalu, bersamamu

Lalu, kini

Aku ingin menuliskan, yang tak ingin kau baca

Bahwa aku tak bisa memberi janji untuk tidak ingkar

Aku tak bisa memberi seka pada air mata yang keluar

Aku tak bisa meyakinkan hal-hal yang tidak kau yakini

Aku tak bisa berterus-terang atas apa yang tidak kau ketahui

Juga ketahuilah

Aku tidak ingin mencintaimu dengan sederhana.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akrab Dengan Keasingan

Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?  Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda. Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya. Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian. Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...