SERASA
Awalnya, Kukira kita adalah medium yang beriring, yang mengekalkan tanpa mengelakkan
Kukira kita serupa kata yang tersusun menjadi kalimat pujangga, ternyata hanya sekumpulan huruf abstrak tak bermakna
Kukira kita adalah dua yang sengaja dipersatukan, ternyata hanya dua yang berusaha dipaksakan
Kukira kita dua dengan rasa yang sama besar, ternyata hanya rasa sepi yang menyamar
Kukira, aku terlalu terlalu banyak mengira hal baik tentang kita
Percayalah, sudah ku usahakan semampuku, juga ku iringi dengan banyak rasa
Sampai akhirnya, aku sadari, semesta tak selalu berbaik hati pada setiap insan yang jatuh hati
Semoga baik bagimu, juga ku
Semoga lega bagiku, juga mu
Semoga kau tetap tau
Aku pernah jatuh padamu, dalam sekali
MUNGKIN KITA PERLU
Barangkali kita butuh jeda sejenak
Dari semua bising, tanya dan ragu
Mungkin juga perlu kembali menata
Rasa dan kata-kata
Siratan dan pilihan
Mungkin kita perlu terima
Bahwa tak perlu ada kesempatan kedua
Mungkin kita perlu kembali
Pada keasingan masing masing
Mungkin kita perlu tersadar
Pada harapan yang lama pudar
Mungkin kita perlu percaya
Pada takdir yang tak sesuai rencana
Mungkin kita perlu mengamini
Pada hati yang tak lagi tersakiti
Mungkin kita perlu merayakan
Pada jujur yang lama tertahan
Mungkin kita perlu mengingat
Bahwa tak ada satupun yang perlu diingat
SESAL
Aku menyesali bahwa kita tidak pernah benar-benar selesai
Aku menyesali kita enggan untuk berpindah, berpindah pada ruang yang lebih melegakan masing-masing kita
Ruang yang kita jajaki dengan sepenuhnya keterbukaan hati masing-masing setelah kita terpaksa sama-sama
Sama-sama meninggalkan yang cukup untuk yang sepertinya lebih banyak, meninggalkan yang nyaman untuk yang barangkali lebih menyenangkan, meninggalkan yang satu untuk yang terlihat bisa menjadi padu, ternyata, aku menyesal
Aku menyesali dengan sangat
Meninggalkan semuanya
Meninggalkan kita
Meninggalkan diriku pada hubungan yang tidak selesai
Aku tidak sampai hati mengharap kau menyesal atas hal yang sama denganku, tapi aku sungguh merapal semoga kau sekali saja setidaknya, menyesal dengan rasa yang sama
Rasa yang kupikir akan reda seiring waktu berjalan, ternyata medium waktu tak cukup bisa menghentikan rasaku
Entah dengan medium apa aku bisa lupa, atau setidaknya reda, atau barangkali aku memang benar-benar enggan lupa
KALUT DAN NESTAPA
Sejauh apapun kita nanti, aku tetap ingin berhenti, sejenak saja
Duduk berdua, merapikan yang kalut dan memutar kembali yang terlewat
Selain itu, tentu, aku ingin memastikan
Bahwa kita masih akan bersama melanjutkan
Melewati ragam liku, melepaskan penat sendu
Ku harap, kamu segera terbiasa, dengan ragam nestapa dan rasa lain yang menyiksa
Entah akan berapa kali pemberhentian lagi, tapi ketahuilah bahwa aku menginginkan selalu, bersamamu
Lalu, kini
Aku ingin menuliskan, yang tak ingin kau baca
Bahwa aku tak bisa memberi janji untuk tidak ingkar
Aku tak bisa memberi seka pada air mata yang keluar
Aku tak bisa meyakinkan hal-hal yang tidak kau yakini
Aku tak bisa berterus-terang atas apa yang tidak kau ketahui
Juga ketahuilah
Aku tidak ingin mencintaimu dengan sederhana.
Komentar