Langsung ke konten utama

Story of Kale

Film ini adalah prekuel salah satu karakter dari universe NKCTHI, Kale. Let's do, to the point. Angga Sasongko sebagai sutradara rasanya cukup berhasil menarik mundur dan memulai rasa sakit pada diri Kale sebelum bertemu Awan, bagaimana proses sebelum Kale memiliki prinsip bahwa kebahagiaan setiap orang adalah tanggungjawab masing-masing, sebuah kalimat yang terus menempel di kepala saya ketika pertama kali menonton NKCTHI. 

Dalam prekuel ini, Kale dihidupkan sebagai seorang sweet talker yang penuh buaian, di sisi lain, juga sesekali dibumbui ketidakstabilan emosi dan agak meledak-ledak, bagus, tapi entah kenapa rasanya ada yang kurang.

Saya yang memposisikan diri sebagai penonton, merasa kurang dengan kedalaman cerita dan rasa itu sendiri, prekuel ini unggul dari aspek skenario, dengan kalimat-kalimat yang mungkin setelah kalian menonton bisa dijadikan quote di wallpaper hp atau tembok kamar.

Tapi, skenario saja rasanya juga tidak cukup menutup kompleksitas yang ada, sungguh, sepanjang film saya susah sekali meyakini akan kecintaan Kale pada Dinda, atau keterusterangan Dinda pada Kale bahwa Dinda telah dengan sadar melakukan kesalahan, entah karena kurangnya faktor penggalian rasa dan cerita, atau pemahaman saya yang minor akan menilai sebuah rasa dan cerita itu sendiri.

Saya juga tidak mengetahui apakah konsep 70% indoor scene yang membuat alur cerita nampak membosankan dan diakali dengan buaian metafora skenario, entah karena faktor keterbatasaan produksi, adaptif produksi karena pandemi, atau faktor teknis lain, saya tak cukup meyakini. Angga Sasongko berusaha menggali dan menarik rasa penasaran penonton melalui aspek skenario, bukan aspek kedalaman cerita, atau dari segi sinematografi.

Entahlah, saya tak tahu pasti, jika memang karena faktor keterbatasan produksi sehingga tidak bisa memiliki kebebasan menentukan scene out door atau mengeksplorasi kedalaman cerita dengan flashback lebih jauh ke belakang tentang Kale, sehingga dikuatkan di skenario, maka saya bisa pahami.

Keseluruhan, ini prekuel yang menarik, tapi belum wahhhh. 
Skenario yang indah, namun agak kurang rasa, tapi, terimakasih banyak Angga Sasongko telah memulai perjalanan universe NKCTHI.

Dan mohon, dengan sangat, hidupkan Aurora.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akrab Dengan Keasingan

Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?  Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda. Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya. Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian. Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah...

Cara Bijak Bersosial Media

Zaman sekarang kebebasan dalam bersosial media sudah sangat luar biasa dan tak terbendung, semua orang bebas dan berhak berkomentar serta menyumbang opini mereka masing-masing tanpa adanya filter atau aturan teknis yang mengikat, jika dalam hal ini berkomentar dan beropini secara bebas diartikan sebagai " tukang nyinyir dan tukang ikut campur urusan orang " maka kesannya jadi negatif sekali, tapi tak bisa dipungkiri faktanya juga demikian.  Sekarang orang begitu mudahnya mencibir, mencela, mencaci/menghina di sosial media, Perbedaan visi ribut, Perbedaan pandangan, adu argumen siapa yang lebih benar dengan nada nada menjatuhkan dan meremehkan, Merasa seolah pendapat mereka yang paling benar dan mengkerdilkan pendapat yang lain, Tak usahlah perkara perkara besar semacam perbedaan pandangan politik atau perbedaan agama, Hal hal kecil dan sepele aja bisa ngebuat kita ribut dan adu mulut, sesederhana siapa yang lebih hebat antara messi atau ronaldo, atau sesederhana : apa yang...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...