Langsung ke konten utama

Merespon Duka

Saya selalu penasaran, juga menyimpan sebuah pertanyaan tanpa jawab setidaknya 3 tahun belakangan, benar-benar 3 tahun, sebenarnya sampai mana limitasi perasaan manusia bisa diuji?

Pertanyaan itu datang tak lama setelah Ibu meninggal 2020 lalu, saya yang tadinya merasa selalu punya safe place atas setiap kesalahan juga kegagalan dalam hidup, secara serta merta runtuh dengan mudahnya.

Pada titik itu, saya mencapai rasa sedih dan marah yang teramat, saya kira, saya sudah sampai di limitasi rasa duka terjauh yang bisa saya rasakan juga keluarkan.

Tak sampai dua tahun setelah kepergian Ibu, nenek saya berpulang, dan benar saja, rasa sedihnya tak sedahsyat kehilangan Ibu, saya berkontemplasi, apakah iya limitasi terjauh saya dalam mengungkapkan juga meluapkan rasa sudah lebih dulu tumpah ruah saat melepaskan mendiang Ibu.

Atau, justru ada bagian-bagian dalam diri saya yang entah bagaimana caranya dan bagaimana mendeskripsikannya mengalami perubahan, sederhananya belakangan saya menyebutnya mati rasa.

Sebenarnya, saya tidak pernah benar-benar bisa memahami konsep berdamai dengan duka dan kehilangan, bahkan saya merasa tak perlu berdamai, yang saya lakukan sejauh ini adalah dengan terus menjaga perasaan duka itu agar selalu berkelindan, sebagai manusia saya merasa butuh punya rasa duka.

Seringkali, saya dengan sengaja menciptakan suasana tak mengenakkan juga menyesakkan bagi diri saya sendiri dengan menarik ragam memoar duka yang terjadi pada hidup saya, saya melakukannya dengan sengaja, karena teramat susah rasanya menunggu rasa itu datang sendirinya secara naluriah.

Saya mungkin aneh, anggaplah saya aneh, tapi justru sebenarnya saya takut, takut diri saya mati atas beberapa rasa yang seharusnya bisa saya rasakan secara naluri, setidaknya, tiga tahun ini saya tidak pernah merasakannya secara alami.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

20an

Barangkali, hidup emang sengaja menempatkan manusia pada tiap-tiap masa usia untuk dinikmati secara pol-polan, mau seneng seneng, sedih, chaos, brutal, juga main aman sepanjang masa, barangkali, memang selalu ada masanya bagi setiap hal, masa merasa menjadi gerombolan bermain paling asik diantara generasi atau kelompok lainnya, masa merasa harus mendobrak stigma juga menabrak aturan main, juga banyak lain lah yang kita sama-sama tau juga alami kan. Coba kroscek mundur, yang terbiasa selalu ramai bersama akan disuguhi situasi dalam kesendirian dan sepi, yang biasanya selalu ada backup plan tiba-tiba saja stagnan di momen yang membuat kita membatin "Bangsat, dulu kayaknya momen kayak gini bisa dilewati dengan gampang deh, punya plan b c d juga bisa improve sana-sini meskipun kemungkinannya kecil, tapi kenapa sekarang jadi berat dan beda banget". Banyak yang berubah juga berganti, ada yang bertahan tapi juga banyak sekali yang pergi. Masa-masa kayak gini sih emang anjing banget,...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...