Langsung ke konten utama

Lebaran dan Antusias yang Bergeser

Saya tadinya sempat sepakat, semakin dewasa seseorang, entah bagaimana dan kenapa lebaran jadi entitas yang makin biasa saja dan kehilangan marwah sekaligus kemegahannya.

Dalam budaya timur, setidaknya lingkungan dan budaya saya, bertambahnya usia seseorang dari fase anak menuju remaja sampai akhirnya menjadi dewasa penuh, berarti juga kehilangan pundi-pundi THR dari sanak famili, itu juga yang terjadi pada saya. 

Tapi, apa iya itu yang membuat saya kehilangan antusias menyambut lebaran? Atau karena ketika dewasa, saya tidak lagi punya waktu dan momen untuk melakukan serangkaian kegiatan selama ramadan dan lebaran, tersebutlah buka bersama, main petasan, jalan-jalan pagi, atau antusias berbelanja baju baru dan kue lebaran. Atau, memang dasarnya saya saja yang makin dewasa ternyata juga makin jauh dari agama, entahlah.

Saya cukup lama denial dan tidak mau menerima fakta bahwa saya harus merelakan diri tidak bisa terlibat di banyak acara buka bersama, sahur on the road, memainkan meriam bambu, atau sekadar membangunkan orang sahur. Serentetan kegiatan tersebut ternyata jadi memoar penting bagi saya.

Hal-hal tersebut yang saya rasa akan selalu ada dan terjaga, namun memang perlu penyesuaian yang tidak semua orang siap.

Yang menarik adalah, saya akhirnya menarik kesimpulan baru hasil kontemplasi beberapa malam yang lewat, kendatipun sudah dewasa, antusiasme lebaran itu ternyata tidak hilang, ia hanya bergeser.

Antusiasme saya sekarang adalah perasaan menggebu untuk bertemu keluarga dan teman-teman, karena saya memang merantau beberapa tahun belakang. Selain itu, antusiasme lain adalah kini saya bisa dan di posisi memberikan THR kepada ponakan dan sepupu, karena saya juga sudah bekerja kini.

Tapi, saya juga tak mau terlalu berpikir positif, saat sedang menulis ini, saya kembali berkontemplasi. Jangan-jangan, antusiasme tersebut memang benar bisa hilang dan bukan hanya bergeser, setidaknya bagi saya, kepergian ibu membuat saya kehilangan antusias.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akrab Dengan Keasingan

Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?  Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda. Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya. Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian. Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...