Saya tadinya sempat sepakat, semakin dewasa seseorang, entah bagaimana dan kenapa lebaran jadi entitas yang makin biasa saja dan kehilangan marwah sekaligus kemegahannya.
Dalam budaya timur, setidaknya lingkungan dan budaya saya, bertambahnya usia seseorang dari fase anak menuju remaja sampai akhirnya menjadi dewasa penuh, berarti juga kehilangan pundi-pundi THR dari sanak famili, itu juga yang terjadi pada saya.
Tapi, apa iya itu yang membuat saya kehilangan antusias menyambut lebaran? Atau karena ketika dewasa, saya tidak lagi punya waktu dan momen untuk melakukan serangkaian kegiatan selama ramadan dan lebaran, tersebutlah buka bersama, main petasan, jalan-jalan pagi, atau antusias berbelanja baju baru dan kue lebaran. Atau, memang dasarnya saya saja yang makin dewasa ternyata juga makin jauh dari agama, entahlah.
Saya cukup lama denial dan tidak mau menerima fakta bahwa saya harus merelakan diri tidak bisa terlibat di banyak acara buka bersama, sahur on the road, memainkan meriam bambu, atau sekadar membangunkan orang sahur. Serentetan kegiatan tersebut ternyata jadi memoar penting bagi saya.
Hal-hal tersebut yang saya rasa akan selalu ada dan terjaga, namun memang perlu penyesuaian yang tidak semua orang siap.
Yang menarik adalah, saya akhirnya menarik kesimpulan baru hasil kontemplasi beberapa malam yang lewat, kendatipun sudah dewasa, antusiasme lebaran itu ternyata tidak hilang, ia hanya bergeser.
Antusiasme saya sekarang adalah perasaan menggebu untuk bertemu keluarga dan teman-teman, karena saya memang merantau beberapa tahun belakang. Selain itu, antusiasme lain adalah kini saya bisa dan di posisi memberikan THR kepada ponakan dan sepupu, karena saya juga sudah bekerja kini.
Tapi, saya juga tak mau terlalu berpikir positif, saat sedang menulis ini, saya kembali berkontemplasi. Jangan-jangan, antusiasme tersebut memang benar bisa hilang dan bukan hanya bergeser, setidaknya bagi saya, kepergian ibu membuat saya kehilangan antusias.
Komentar