Langsung ke konten utama

Tai Banget Yaa

Gak tau ya, sampai mana limitasi perasaan manusia bisa diuji, bisa bertahan, bisa tetap waras dengan semua hal yang kalo dipikir kadang sebenernya gak manusiawi banget, tapi kalo dipikir lagi, sampai mana juga limitasi manusia di tahap manusiawi itu sendiri? gak jelas juga.

Tulisan ini adalah sedikit dari sekian pikiran liar yang ada di kepala, saya tak tahu medium yang paling tepat untuk mengungkapkan, entah melalui lukisan, coretan, atau coba saya diskusikan untuk mencari titik temu, nyatanya saya tetap tidak menemukan kesimpulan terbaik.

Saya lelah sekali, dengan apa yang ada di kepala saya sendiri.

Terlalu banyak hal yang tidak saya mengerti, terlalu banyak ruang yang tidak mampu saya singgahi, terlalu banyak rasa yang tidak dapat saya rasakan, rasanya, saya serasa mati rasa untuk merasa.

Walaupun, saya percaya bahwa hidup ini memang dekat dengan hal-hal yang tidak kita mengerti, malah malah ketidaktahuan kita justru mendominasi dan mengikiskan hal yang sebelumnya amat prinsipil bagi kita.

Kadang, kita beranjak, lalu merangkak, ke atas menuju satu titik yang semua orang ingin gapai, nyatanya ketika sampai, justru bukan sesuatu yang kita butuhkan.

Kadang, kita di titik terbawah, nadir, sendirian, di titik yang semua orang takutkan, nyatanya tak seburuk itu juga, itu hanya situasi yang perlu dilewati dengan kepercayaan.

Lantas, dalam hidup, manusia harusnya berpindah ruang dan menjajaki titik baru, atau hanya perlu di satu area, dan menguatkan pijakan serta kenyamanan, entah, toh manusia juga beragam, tak ada teori hidup juga yang bisa diterapkan.

Ahhh hidup

Tai banget

Komentar

Unknown mengatakan…
Bener bgt satu satunya jalan adalah menguatkan pijakan, mau maksa orang lain biar ngrasain apa yg kita rasa ga mungkin juga

Postingan populer dari blog ini

Akrab Dengan Keasingan

Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?  Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda. Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya. Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian. Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...