Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?
Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda.
Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya.
Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian.
Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah benar-benar terlihat. Namun, di saat yang sama, saya juga tahu, pengalaman seperti ini tidak bisa dihindari. Ia akan selalu ada, dalam bentuk apa pun.
Pada titik ini, saya sempat berpikir bahwa hanya ada dua jenis manusia yang mampu benar-benar terbiasa dengan keasingan, yakni mereka yang sepenuhnya bertumpu pada logika, dan mereka yang menanggalkan perasaan. Dua ekstrem yang terasa asing bagi saya sendiri.
Saya bukan keduanya, dan mungkin tidak perlu menjadi salah satunya.
Dalam batas kewarasan yang saya pahami, keasingan, meskipun sering kali mengganggu, bahkan kadang berdampak buruk pada apa yang saya lakukan atau ucapkan, justru adalah sesuatu yang saya butuhkan. Saya perlu terus merasakannya.
Saya percaya, entah dari apa yang pernah saya baca atau dengar, keasingan adalah medium yang memungkinkan seseorang mengenali dirinya lebih dalam. Ia seperti ruang kosong yang memaksa kita berhenti sejenak, melihat ulang, dan menyadari apa yang sebenarnya berubah, di luar sana, maupun di dalam diri sendiri.
Jika begitu, maka setiap keasingan adalah harga yang harus dibayar. Dan sejauh ini, rasanya harga itu masih sepadan.
Namun, ada satu hal yang terasa lebih aneh lagi.
Keasingan ternyata tidak hanya dirasakan oleh mereka yang mengalaminya secara langsung. Ia juga menyentuh orang-orang yang bahkan tidak terlibat di dalamnya.
Tukang bakso yang dulu terbiasa menyajikan dua mangkok, kini hanya menaruh satu. Penjaga bioskop yang dulu merobek dua tiket, kini hanya satu. Tukang parkir yang dulu menepikan dua helm, kini hanya perlu menggeser satu.
Mereka tidak tahu cerita di balik perubahan itu. Tapi mereka melihatnya. Mereka menyaksikan pergeseran yang sama, berulang kali, dari banyak orang.
Bayangkan berapa banyak keasingan yang mereka hadapi, bukan karena pilihan mereka sendiri, melainkan karena perubahan yang terjadi pada orang lain.
Di titik itu, keasingan terasa sekaligus lucu dan ironis.
Karena pada akhirnya, keasingan tidak pernah benar-benar milik satu orang. Ia menyebar, diam-diam, dan sering kali tanpa disadari.
Komentar