Langsung ke konten utama

Akrab Dengan Keasingan

Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan? 

Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda.

Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya.

Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian.

Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah benar-benar terlihat. Namun, di saat yang sama, saya juga tahu, pengalaman seperti ini tidak bisa dihindari. Ia akan selalu ada, dalam bentuk apa pun.

Pada titik ini, saya sempat berpikir bahwa hanya ada dua jenis manusia yang mampu benar-benar terbiasa dengan keasingan, yakni mereka yang sepenuhnya bertumpu pada logika, dan mereka yang menanggalkan perasaan. Dua ekstrem yang terasa asing bagi saya sendiri.

Saya bukan keduanya, dan mungkin tidak perlu menjadi salah satunya.

Dalam batas kewarasan yang saya pahami, keasingan, meskipun sering kali mengganggu, bahkan kadang berdampak buruk pada apa yang saya lakukan atau ucapkan, justru adalah sesuatu yang saya butuhkan. Saya perlu terus merasakannya.

Saya percaya, entah dari apa yang pernah saya baca atau dengar, keasingan adalah medium yang memungkinkan seseorang mengenali dirinya lebih dalam. Ia seperti ruang kosong yang memaksa kita berhenti sejenak, melihat ulang, dan menyadari apa yang sebenarnya berubah, di luar sana, maupun di dalam diri sendiri.

Jika begitu, maka setiap keasingan adalah harga yang harus dibayar. Dan sejauh ini, rasanya harga itu masih sepadan.

Namun, ada satu hal yang terasa lebih aneh lagi.

Keasingan ternyata tidak hanya dirasakan oleh mereka yang mengalaminya secara langsung. Ia juga menyentuh orang-orang yang bahkan tidak terlibat di dalamnya.

Tukang bakso yang dulu terbiasa menyajikan dua mangkok, kini hanya menaruh satu. Penjaga bioskop yang dulu merobek dua tiket, kini hanya satu. Tukang parkir yang dulu menepikan dua helm, kini hanya perlu menggeser satu.

Mereka tidak tahu cerita di balik perubahan itu. Tapi mereka melihatnya. Mereka menyaksikan pergeseran yang sama, berulang kali, dari banyak orang.

Bayangkan berapa banyak keasingan yang mereka hadapi, bukan karena pilihan mereka sendiri, melainkan karena perubahan yang terjadi pada orang lain.

Di titik itu, keasingan terasa sekaligus lucu dan ironis.

Karena pada akhirnya, keasingan tidak pernah benar-benar milik satu orang. Ia menyebar, diam-diam, dan sering kali tanpa disadari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Bangun, Bajingan

Ya, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Rasanya saya sudah dimenangkan oleh film ini sejak scene pertama barangkali, yang membuat saya berujar what the fuck, yang nyatanya jadi kalimat repetisi yang sering saya ulangi di scene scene ke belakangnya. Sejujurnya, saya bingung harus darimana mengulas dan menilai film ini, ini film yang benar-benar brengsek, luar biasa liar, eksotis nan erotis, gelap namun juga berkilauan di banyak layer, skenario dan cast nya solid dan kokoh bukan main. Menyoal production designer dan art director, artistik dan dunia yang dibangun di film ini adalah mahakarya, luar biasa indah dengan suguhan 80-90an sampai-sampai saya bisa merasa hidup di jaman yang bahkan belum tau rasanya hidup. Saya disuguhi banyak sekali rasa dalam film ini, kegetiran, kengerian, haru pilu tentu, juga kepuasan yang berlebih. Luar biasa, salah satu film yang rasanya akan susah keluar dari ingatan kepala saya. Film ini membawa sedemikian banyak isu penting dan dikuliti hingga spek...