Langsung ke konten utama

Cara Bijak Bersosial Media

Zaman sekarang kebebasan dalam bersosial media sudah sangat luar biasa dan tak terbendung, semua orang bebas dan berhak berkomentar serta menyumbang opini mereka masing-masing tanpa adanya filter atau aturan teknis yang mengikat, jika dalam hal ini berkomentar dan beropini secara bebas diartikan sebagai " tukang nyinyir dan tukang ikut campur urusan orang " maka kesannya jadi negatif sekali, tapi tak bisa dipungkiri faktanya juga demikian. 

Sekarang orang begitu mudahnya mencibir, mencela, mencaci/menghina di sosial media, Perbedaan visi ribut, Perbedaan pandangan, adu argumen siapa yang lebih benar dengan nada nada menjatuhkan dan meremehkan, Merasa seolah pendapat mereka yang paling benar dan mengkerdilkan pendapat yang lain, Tak usahlah perkara perkara besar semacam perbedaan pandangan politik atau perbedaan agama, Hal hal kecil dan sepele aja bisa ngebuat kita ribut dan adu mulut, sesederhana siapa yang lebih hebat antara messi atau ronaldo, atau sesederhana : apa yang lo denger : Yanny atau Laurel. Semua orang seakan merasa punya kebebasan berkomentar seenaknya, bahkan ketika belum memahami betul apa permasalahannya.

Sekarang, batasi diri dalam bersosial media, jika tetep mau berkomentar ya berkomentar lah yang positif. Juga posting dan suguhkan konten yang positif, walaupun sekiranya tidak atau belum bisa mengedukasi tapi minimal juga tidak memposting hal hal negatif dan berujar kebencian. 

Karena itu, menurut saya perlu ada batasan dalam bersosial media, yang seharusnya membatasi ya diri kita sendiri, ketika kita ngerasa gak ngerti ngerti banget pada suatu permasalahan, yaudah lah mending gausah ikut nyumbang komentar, apalagi komentar yang berisi cacian dan komentar yang menjatuhkan, sederhana nya nih ya, "mending diem dan kelihatan goblok, daripada banyak komentar dan gobloknya keluar". Kelak dan semoga segera kita akan paham, bahwa menahan diri untuk tidak membuat seseorang tersinggung karena lisan kita itu lebih mulia daripada mengutarakan isi kepala.

Intinya, mari manfaatkan dan bagikan hal hal yang positif dalam sosial media. 
Serta, bijak dalam bersosial media.

Saya menulis ini dengan niatan baik, agar anak anak yang baru mulai mengunakan sosial media juga para generasi generasi orang tua kita yang baru mulai mengenal sosial media, yang mereka liat ya akun akun dengan konten positif dan mengedukasi, itu aja. 
Semoga bermanfaat dan berkenan membaca sampai selesai.

Terimakasih, Cheer up

    Komentar

    bagascn mengatakan…
    Nah bener banget itu. Kadang orang berpikiran bahwa komentar komentar negatif di sosial media adalah bentuk dari kebebasan berpendapat namun, kenyataannya hal itu adalah salah. Hate speech is not freedom of speech!
    Anonim mengatakan…
    Setuju sekali, sekarang orang harus bijak menggunakan sosmed, selain ada aturan norma juga ada UU ITE yang mengintai
    Anonim mengatakan…
    Keren sih pembahasannya, terus menulis fahmi :)
    Anonim mengatakan…
    Benar itu, sosmed memang harus bisa digunakan secara bijak. Karena dari sosmed yang harusnya bisa untuk sarana bersosialisasi malah jadi sarana membenci karena penggunaan yang tidak bijak tadi.
    Desta Aritya mengatakan…
    Setuju mas, kalo memang tidak paham mengenai permasalahan mending tidak ikut berkomentar. Nanti malah keliatan begonya hehe
    Unknown mengatakan…
    Sayangnya beberapa orang tidak menggunakannya dengan bijak. Mungkin apabila bisa diminimalisir sosmed bisa jadi sarana yang baik untuk berdiskusi.
    AMERICANO&SENJA mengatakan…
    Bener banget, harusnya bisa belajar dari idol kpop yang sampai bunuh diri karna hujatan bullying pdhal tau orangnya aja engga tapi ngatain. Intinya sih inget aja kalo "mulutmu itu harimaumu"
    Dp mengatakan…
    Tidak ada batasan untuk berekspresi di dunia maya selain dari diri sendiri. Apa yang kamu tanam itulah yang kamu tuai, ekspresikan dirimu dengan positif maka energi positif akan mengelilingimu.
    Patrycia Milla mengatakan…
    Setuju,sosial media emang jadi tempat dimana bisa mengekspresikan apa pun yang kita mau namun kebebasan berekspresi dalam sosial media juga perlu kebijakan penggunanya. Berpikirlah sebelum mengetik, jempolmu bisa berakibat fatal untuk orang lain.

    Postingan populer dari blog ini

    Jatuh Cinta Sendirian

    Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

    Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

    Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

    Kita Ini Apa?

    Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...