Langsung ke konten utama

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah?

Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin

Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan 

Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang

Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa 

Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa

Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah

Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan 

Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, hanya harus mengusahakan, dan ku ingat kamu pun setuju

Kali lain kamu juga memberi penegasan, dua orang yang bertemu karena hatinya sama-sama patah bisa jadi juga tidak salah

Kali ini, aku mau memastikan, bahwa dua hati patah ini butuh berbenah, bukan masing-masing, tapi bersama

Soal ini, ku harap rasa kita sama

Komentar

Anonim mengatakan…
Boleh.
Anonim mengatakan…
Let’s being mature, dunno u will ignore me again or not. But let’s meet to talk about everything, kita ketemu dengan baik maka akhiri dengan baik juga (setidaknya itu akan membuat aku lebih tenang). Added ur instagram (H)

Postingan populer dari blog ini

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...

Bangun, Bajingan

Ya, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Rasanya saya sudah dimenangkan oleh film ini sejak scene pertama barangkali, yang membuat saya berujar what the fuck, yang nyatanya jadi kalimat repetisi yang sering saya ulangi di scene scene ke belakangnya. Sejujurnya, saya bingung harus darimana mengulas dan menilai film ini, ini film yang benar-benar brengsek, luar biasa liar, eksotis nan erotis, gelap namun juga berkilauan di banyak layer, skenario dan cast nya solid dan kokoh bukan main. Menyoal production designer dan art director, artistik dan dunia yang dibangun di film ini adalah mahakarya, luar biasa indah dengan suguhan 80-90an sampai-sampai saya bisa merasa hidup di jaman yang bahkan belum tau rasanya hidup. Saya disuguhi banyak sekali rasa dalam film ini, kegetiran, kengerian, haru pilu tentu, juga kepuasan yang berlebih. Luar biasa, salah satu film yang rasanya akan susah keluar dari ingatan kepala saya. Film ini membawa sedemikian banyak isu penting dan dikuliti hingga spek...