Langsung ke konten utama

20an

Barangkali, hidup emang sengaja menempatkan manusia pada tiap-tiap masa usia untuk dinikmati secara pol-polan, mau seneng seneng, sedih, chaos, brutal, juga main aman sepanjang masa, barangkali, memang selalu ada masanya bagi setiap hal, masa merasa menjadi gerombolan bermain paling asik diantara generasi atau kelompok lainnya, masa merasa harus mendobrak stigma juga menabrak aturan main, juga banyak lain lah yang kita sama-sama tau juga alami kan.


Coba kroscek mundur, yang terbiasa selalu ramai bersama akan disuguhi situasi dalam kesendirian dan sepi, yang biasanya selalu ada backup plan tiba-tiba saja stagnan di momen yang membuat kita membatin "Bangsat, dulu kayaknya momen kayak gini bisa dilewati dengan gampang deh, punya plan b c d juga bisa improve sana-sini meskipun kemungkinannya kecil, tapi kenapa sekarang jadi berat dan beda banget". Banyak yang berubah juga berganti, ada yang bertahan tapi juga banyak sekali yang pergi.


Masa-masa kayak gini sih emang anjing banget, duit gak punya banyak, skill juga rata-rata, mulai males buat bentuk koneksi baru sama orang-orang, harus kenal lagi, kasih filter lagi, seleksi lagi, waktunya cuma abis buat itu doang sama galau ke semua hal, lemah, tapi ya emang gitu lah.


Padahal nih ya, cut off hubungan sama orang-orang yang gak potensial dan punya benefit di hidup sih kayaknya gapapa, gapapa banget, itu racun sih, kayak zona nyaman aja gitu, situasi yang menurut kita safe dan ada ilusi di kepala ' everything wil be okay' padahal gak men, gue percaya hidup perlu tujuan sih, entah dengan cara apa juga seberapa lama lo sampai di titik itu, tapi ya perlu punya.


Sebenernya gue sebel banget sama diri sendiri kalo udah ngerasa di titik kayak "Anjing sok bener dan sok pinter banget sih, tai tai," sejujurnya ya kayak momen pas nulis ini, gue baru sadar banyak hal belakangan dan semoga juga makin banyak sadar ke banyak hal lainnya, dahhh.


Gue juga lagi bingung sama hidup gue sendiri, fak.

Komentar

Unknown mengatakan…
Aduh relate bgt, lg ngrasain yg namanya “dlu bisa nglewatin masa kek gini knp skng susah bgt”
Anonim mengatakan…
aku 19an tapi gatau yg mbo tulis udah ta rasain semua.

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...