Langsung ke konten utama

PERAN MEDIA DALAM MEREPRESENTASI ENTITAS MAYORITAS DAN MINORITAS DALAM PUBLIK

Menjadi mayoritas rasa rasanya adalah keinginan semua orang juga kalangan, sayangnya kita juga tak bisa memilih terlahir dari keluarga dengan suku apa, agama apa, ras apa, juga memilih menjadi golongan mayoritas ataupun minoritas, hal hal tersebut muncul dari keturunan bukan pencarian, beruntung bagi mereka yang sedari lahir sudah memiliki keistimewaan menjadi mayoritas yang mutlak, dan petaka bagi mereka yang terlahir menjadi bagian dari minoritas apalagi yang ter marjinal kan, apakah hal itu valid dan memang selalu demikian adanya ? Atau mungkin ada juga orang orang yang tidak menikmati menjadi mayoritas dan ada pula yang mensyukuri sepenuh hati menjadi minoritas ? Juga, apakah media berperan dalam mendistribusi serta membranding entitas mayoritas dan minoritas ini ? Baiklah, mari bahas dan diskusikan bersama sama.
Pertama, Saya akui bahwa saya adalah orang yang cukup beruntung karena sedari lahir termasuk dalam golongan mayoritas, secara tidak langsung saya memiliki tiga entitas keistimewaan yang berasal bukan dari pencarian saya. Keistimewaan pertama adalah saya laki-laki, hal itu menurut saya adalah salah satu keistimewaan yang saya dapatkan dimana juga berkaitan dengan stigma yang kadung berkembang dalam kehidupan sosial bahwa laki-laki lebih unggul dan lebih superior dibandingkan perempuan. Kedua, saya terlahir dari orang tua muslim yang berarti secara hukum dan aturan saya juga muslim, itu adalah keistimewaan kedua yang lagi lagi bukan berasal dari pencarian, tapi turunan. Dan ketiga yang juga krusial adalah saya lahir di jawa, orang tua asli jawa dan saya otomatis menjadi suku jawa, itu adalah keistimewaan yang tidak bisa dipungkiri karena jawa sendiri merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia, gayung bersambut, juga jawa terfasilitasi dalam pembangunan, pendidikan, juga perekonomian. Jadi kesimpulan yang sebenarnya bisa saya simpulkan adalah saya beruntung sedari lahir dengan triple majority yang melekat dalam diri saya.
Lantas, apakah dengan keistimewaan yang saya dapat tersebut menjadikan saya semena mena dan berlaku diskriminatif terhadap orang orang yang tidak seberuntung saya ?
Jawabannya, tidak juga.
Bukannya sok baik atau ingin menyombongkan diri sendiri, saya pun merasa tidak punya hak untuk mendiskriminasi atau berlaku seenaknya kepada orang lain hanya karena saya mayoritas. Jelas itu tidak bisa dijadikan alasan untuk berlaku bebas dan tanpa aturan, justru harusnya menjadi mayoritas membuat seseorang semakin toleran, karena banyaknya jumlah, kekuatan, juga back up, bukannya malah seenaknya mendiskriminasi atau berlaku rasial.
Media dalam konteks ini juga punya peran penting dalam hubungan mayor dan minor ini secara kompleks, tapi apakah iya media sudah objektif dan kredibel serta menjalankan perannya secara semestinya ? Jawabannya tidak atau belum. Seringkali dan masih sering diulangi media justru berpihak hanya pada satu golongan dan mendiskreditkan golongan lainnya, dan dari interpretasi yang dibuat oleh media tersebut menjadikan stigma dan pandangan umum, yang sebenarnya salah namun pada akhirnya menjadi wajar dan maklum karena dilakukan secara terus menerus dan berulang kali. Memahami mayor dan minor rasanya tak cukup hanya dari satu sumber, harus dari banyak sudut pandang, tersebutlah buku, jurnal, literature dan juga yang krusial adalah membaur bersama dengan golongan orang orang yang berbeda dengan kita.
Dalam buku berjudul Teroris Visual karya Aji Prasetyo membahas tentang media yang tidak kunjung memediasi, bagaimana media justru mendiskriminasi minoritas melalui beberapa spektrum seperti tontonan televisi yang merendahkan dan mengobjektifikasi minoritas, dalam hal ini adalah perempuan, selain itu juga ada media yang memang terencana menjual rasa iba dari kemiskinan dan kekurangan seseorang untuk mengais rasa simpati dari publik.
Dari buku lain berjudul Politik Kuasa Media juga membahas bagaimana media secara sengaja membuat propaganda, konteksnya pun sangat luas, bukan lagi masalah mayoritas dan minoritas, tapi juga propaganda antar Negara.
Contoh lain yang mudah ditemui adalah artikel dari portal portal online yang dari headline saja sudah jelas menggunakan kata kata yang bersifat multitafsir dalam konteks mayor dan minor itu sendiri.
Dari berbagai data dan fakta diatas rasanya bisa ditarik kesimpulan bahwa media memang belum menjalankan perannya secara objektif dan kredibel, atau memang disengaja untuk tidak objektif dan kredibel, entahlah.
Satu hal yang ingin saya tekankan sebelum mengakhiri tulisan ini, bahwa tak masalah menjadi mayoritas ataupun minoritas, itu tak cukup esensial, yang lebih esensial adalah kita semua harus punya pemahaman bahwa bertoleransi, menghargai, dan berlaku adil kepada semua orang adalah hal yang harus dilakukan.
Bukan karena kita mayoritas atau minoritas, tapi itu adalah hal yang memang harus dilakukan.
Mari bersama, bersama sama, menjaga toleransi
Berbeda itu biasa
Berdebat tanpa memutus ikatan silaturahmi itu bisa
Sekian, Fahmi Fahriza

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...