Langsung ke konten utama

Merayakan Imajinasi

Semua orang harus berkarya ? atau tidak, pada akhirnya berakhir pada satu kesimpulan, terserah. Mau berkarya silahkan, bagus malah, tidak juga tak mengapa. Tapi pada akhirnya saya memilih iya, dengan banyak alasan dan pertimbangan di belakangnya. Entah mengapa saya selalu merasa bahwa semua orang butuh pengakuan dan atensi, dan saya rasa juga berkarya adalah salah satu jalan terbaik untuk mendapatkan atensi dan pengakuan, atau paling tidak kebanggaan bagi diri sendiri dulu lah.

Terlepas dari apapun karya yang dihasilkan dan dengan medium apa karya itu dibuat, saya pikir setiap karya selalu akan memiliki sisi emosional dan sentimentil bagi pembuatnya, tentang bagaimana mumetnya proses kreatif, tentang seperti apa bangsatnya proses teknis, semua hal tersebut rasanya selalu akan memunculkan kenangan dan nilai historis yang bahkan tak ternilai. 

Bagi saya berkarya adalah media untuk merayakan imajinasi dan menjaga kewarasan.

Setiap orang rasanya punya dan akan selalu dihinggapi dengan perasaan dan situasi dimana dirinya tidak nyaman, dan saya menuangkan ketidaknyamanan saya dengan cara menerapkannya menjadi sebuah karya, tulisan seperti yang kalian sedang baca, film yang nanti akan kalian tonton, dan podcast yang akan segera hadir, siapa tahu juga ke depan akan ada media serta jenis karya lain yang bisa saya hasilkan, poin penting nya adalah, mulai aja dulu lalu bikin yang lebih baik. Masalah akan diterima atau direspon seperti apa itu bukan urusan utama, jelek atau bagus, laku atau tidak, itu subjektif dan tak seberapa penting. Hal yang lebih penting dari serangkaian proses itu adalah kepuasan bagi diri sendiri, yang penting diri sendiri seneng dulu baru nyenengin orang lain.

Maka kesimpulan warasnya adalah, kalo mau berkarya ya mulai aja dulu, berkarya itu medium tepat untuk merefleksikan dan menuangkan keresahan, juga yang harus dijadikan pedoman, berkarya untuk merayakan imajinasi dan menjaga kewarasan.

Semoga tetap waras dengan imajinasi yang tak terbatas, sat...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akrab Dengan Keasingan

Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?  Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda. Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya. Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian. Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...