Langsung ke konten utama

Lo gak akan bener bener sendirian

Disini gue mau bahas soal kesedihan, depresi, stress, dan ya cara cara orang buat sembuh atau menikmati rasa sedih itu sendiri. Langsung aja baca deh

Pertama, gue tau dan sangat meyakini bahwa semua orang punya masalah, punya rasa sakit, punya kesedihan yang entah mereka tunjukin atau disembunyiin dengan topeng mereka masing-masing, yakinn, karena gue juga percaya bahwa emang gak ada orang yang bener bener fearless dan ignore dengan hal hal yang bikin hidup dia gak nyaman, dalam banyak hal, temen bangsat yang suka minjem duit atau barang seenaknya, antri di tempat makan yang ramenya udah kayak bubaran pabrik, atau ketika lo udah di kampus rumah lo jauh ternyata kelas kosong, kita dekat dengan hal hal yang bikin kita gak nyaman dan pada akhirnya juga bikin kita sedih dan terlebih sampai di fase depresi, dalam banyak konteks, sesederhana contoh diatas itu tadi atau hal lain yang lebih kompleks dan personal kayak uang bulanan lo abis sebelum waktunya dan lo ngerasa jadi anak durhaka kalo mau minta dikirimin duit lagi, atau lo gak relate dan nyaman di circle temen kampus lo karena merasa ada kesenjangan secara visi atau gaya hidup, banyak banget hal yang bisa bikin kita sedih, bikin gak nyaman sampai akhirnya muncul asumsi bahwa diri kita aneh dan emang gaada yang mau deket sama kita.

Perasaan perasaan takut semacam itu seringkali muncul aja tiba-tiba tanpa perintah atau tanda-tanda, yang pada akhirnya bikin diri sendiri sakit, bikin mental lo gak sehat, walaupun ya sebenernya sedih itu perlu, menurut gue orang perlu sedih, bahkan nyiptain kesedihan itu sendiri. Fact, gue adalah tipe orang yang kadang di situasi tertentu emang sengaja nyari kesedihan, ketika gue lagi ngerasa gak nyaman atau ngerasa capek karena tugas atau ngejalanin hidup, gue akan nyari kesedihan, biar pol sekalian, gue sering buka youtube nyari video video yang emang punya potensi bikin gue nangis, dan itu sengaja gue lakuin. Karena menurut gue kesedihan itu gak seharusnya ditutupin, yang seharusnya lo lakuin adalah nikmatin dulu itu kesedihan, sesedih mungkin sampai di titik nadir lo, tapi juga janji sama diri lo bahwa setelah itu lo akan sembuh dan baik baik aja, sambil berucap : gapapa, gapapa, gapapa.

Semua orang gue rasa ingin didengar, tentang kesedihan yang mereka rasain atau hal apapun, cuma menurut gue juga gak semua orang mampu menceritakan, dengan alasan takut dicuekin lah, takut dianggap baper lah, atau ya takut dicengin. Walaupun dalam penafsiran gue itu adalah cara pandang yang salah, gue ada satu kalimat yang entah kenapa nempel banget di kepala gue, kurang lebih begini "Gak peduli akan sebangsat dan se gak adil apapun dunia ini ke kamu, kamu gak pernah bener bener sendirian, selalu ada satu orang yang bisa kamu hubungi kapanpun buat diajak diskusi dan gila gilaan".

Dari sana pada akhirnya gue bisa narik kesimpulan bahwa, semua orang perlu sedih, butuh sedih, dan wajar sekali untuk sedih, tapi jangan kelamaan, sedih itu lo nikmati secara pol polan sampai lo nangis, tapi abis itu juga komitmen buat sembuh dan lupa, ada banyak cara buat sembuh, lo bisa ibadah sesuai dengan apa yang lo percaya dan yakini, atau mungkin dengan lo teriak teriak di sawah atau di pinggir danau sendirian, atau dengan naik motor sendirian sambil nangis, juga mungkin lo bisa coret coret tembok kamar, banyak hal yang bisa lo lakuin.

Semua orang punya cara masing-masing untuk sembuh dan membaik sesuai dengan ideal dirinya masing masing. Karena gue yakin itu adalah salah satu indikasi bahwa lo bisa berdamai dengan diri lo sendiri

Penting, berdamai dengan diri sendiri itu penting. dan cara yang gue lakuin adalah dengan menulis.

Buat lo semua, nikmati kesedihan lo dan segera bangkit, gapapa, gapapa, gapapa.

Komentar

Ruang bercerita mengatakan…
Sumpah.. Itu semua yang gua rasain mi.. Dinamika hidup yang relate bgt sama yang gua rasain skarang

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...