Langsung ke konten utama

Haruskah mahir di semua bidang ?

Tulisan ini membahas tentang ekspektasi dan harapan orangtua kepada anak, apakah semua ekspektasi yang diberikan orangtua kepada kita harus kita realisasikan atau kita punya hak dan pilihan untuk tidak peduli serta hanya fokus menjalani hal hal yang kita senangi saja ? Mari baca dan bahas bersama.

Begini. Bukannya mau sok bijak apalagi menggurui. Ini hanya opini dan sudut pandang pribadi saya tentang bagaimana realita yang terjadi pada saat ini. Saya juga tak mempermasalahkan bila kalian berbeda atau malah malah menentang pendapat saya. 

Okee. Sekarang begini. Apa iya kepuasan terbesar orang tua adalah ketika anaknya paham dan mengerti betul tentang matematika, fisika, geografi? Atau ketika sang anak rangking 1 dalam kelasnya? Atau tak pernah ada absensi A selama masa sekolahnya? Saya belum tau rasanya jadi orang tua dan belum sepenuhnya paham. Tapi mungkin kelak ketika saya sudah jadi orang tua kepuasan terbesar saya pada anak saya rasanya juga bukan hal hal diatas. Dan. Ini hanya pemikiran saya saat ini. Siapa tau 5/10 tahun lagi akan berubah.


Kelak. Tak masalah bagi saya jika anak saya tak masuk rangking 3/5 besar dalam kelasnya. saya juga tak mengharuskan anak saya untuk ikut les/tambahan pelajaran jika itu tak membuat dia senang, nyaman atau malah hanya menjadikan beban dan akhirnya menjalani dengan ogah ogahan. Biarkan dia menjalani dan melakukan hal hal yang membuatnya senang, nyaman, bahagia tanpa paksaan dan kekangan dari manapun tapi tetap dalam pengawasan dan pengendalian saya. Rasanya. Itu kepuasan terbesar saya kelak.


Lalu bagaimana dari sudut pandang sang anak ?. Mungkin ini yang saya dan teman teman alami. Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Pasti. Tapi terkadang para orang tua hanya berfikir dari sudut pandang mereka yang kadang tak sesuai dengan sang anak dan dengan realita kehidupan saat ini. Memaksa anak untuk masuk les privat, mengharuskan anak untuk selalu rangking, mewajibkan anak untuk hapal mulai rumus fisika sampai hitungan njlimet matematika. 

Ayolah. Bahwa dalam kehidupan sesungguhnya kelak. Yang menentukan bahagia dan enaknya hidup bukan cuma hal hal diatas. Kan setiap anak cerdas dan unik dengan caranya masing-masing dan juga setiap anak punya selera dan bakat sendiri. Jadi buanglah pikiran pikiran kolot yang mengharuskan anak harus sempurna dan mampu mahir di semua bidang, mustahil.

Jadi biarkan mereka melakukan hal yang benar benar disenangi. Biarkan fokus dan serius serta tetap beri support dan hal hal yang membangun.

Jangan paksa mereka untuk melakukan ini itu harus sama plek plekan tapi mereka merasa terbebani. 

Semoga menjadi renungan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akrab Dengan Keasingan

Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?  Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda. Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya. Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian. Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah...

Cara Bijak Bersosial Media

Zaman sekarang kebebasan dalam bersosial media sudah sangat luar biasa dan tak terbendung, semua orang bebas dan berhak berkomentar serta menyumbang opini mereka masing-masing tanpa adanya filter atau aturan teknis yang mengikat, jika dalam hal ini berkomentar dan beropini secara bebas diartikan sebagai " tukang nyinyir dan tukang ikut campur urusan orang " maka kesannya jadi negatif sekali, tapi tak bisa dipungkiri faktanya juga demikian.  Sekarang orang begitu mudahnya mencibir, mencela, mencaci/menghina di sosial media, Perbedaan visi ribut, Perbedaan pandangan, adu argumen siapa yang lebih benar dengan nada nada menjatuhkan dan meremehkan, Merasa seolah pendapat mereka yang paling benar dan mengkerdilkan pendapat yang lain, Tak usahlah perkara perkara besar semacam perbedaan pandangan politik atau perbedaan agama, Hal hal kecil dan sepele aja bisa ngebuat kita ribut dan adu mulut, sesederhana siapa yang lebih hebat antara messi atau ronaldo, atau sesederhana : apa yang...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...