Pernah membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa ada ketersinggungan? Tanpa ada yang marah-marah? Tanpa ada yang somasi dan persekusi? Bisa dan bebas untuk nulis, ngomong, berekspresi atau melakukan hal lainnya tanpa harus memikirkan perasaan orang lain. Enak dan damai ya pasti, tapi apa iya demikian? Nahh mari bahas dan telaah bersama di sini.
Bagi saya justru akan sangat aneh rasanya jika tidak ada ketersinggungan dan yang tersinggung, beneran, yang terjadi ya datar aja, gaseru, gaasik. Justru ketersinggungan itu dibutuhkan, namun, namun dengan substansi yang jelas dan dasar yang rasional, jangan asal tersinggung akan semua hal yang tidak sejalan dengan apa yang dipikirkan dengan alasan tidak sejalan saja, itu kan goblok.
Itu kan yang terjadi sekarang, semua orang rasanya terlalu cepat marah dan tersinggung akan suatu hal tanpa mau berdialog dan mencari tahu lebih lanjut mengenai apa yang terjadi, apa yang menjadi sorotan, atau sederhana nya mempertanyakan maksud, orang banyak tidak mau melakukan hal itu, pokoknya marah marah aja, dan orang orang bangsat semacam ini skala nya besar sekali, bukan satu dua saja. Saya sendiri sebenarnya juga tipikal orang yang terkadang di situasi tertentu bisa sangat lantang menyampaikan ketersinggungan saya akan apa yang ditulis atau disampaikan seseorang jika itu sifatnya sangat mengganggu atau tidak etis, namun apa yang saya lakukan juga berdasar, saya tersinggung dan mengkritisi subjeknya bukan menyerang atau mengkritisi secara personal kepada orangnya mengatasnamakan subjektivitas saya kepadanya, karena ya kalo yang lo kritik orangnya hanya karena emang lo benci itu kan berarti elo nya yang goblok sat.
Juga, ini penting, buat kamu kamu yang idealis, vokal, reaksioner dan semacamnya lah. Selalu niatkan sedari awal bahwa memang intensi mu tidak untuk menyinggung seseorang atau pihak manapun, karena jika kau menulis, ngomong, membuat ilustrasi, atau menyampaikan apapun yang langsung diterima oleh publik kau juga harus tau apa konsekuensi yang mungkin bisa saja kau dapatkan, tersebutlah ketersinggungan orang lain, kau harus mau dan mampu menjelaskan intensi dan tujuanmu.
Terakhir, buat lo lo pada yang emang gampang tersinggung, marah, sebel, ya silahkan. Tapi bisa dong menyampaikan ketersinggungan dengan cara baik dan etis, tidak dengan somasi dan ngancem ngancem bunuh? Bisa dong sedikit kompromi dengan berdialog atau membuka ruang diskusi, tidak dengan frontal mengkafirkan orang yang tak sepaham, bisa dong?
Bagi saya justru akan sangat aneh rasanya jika tidak ada ketersinggungan dan yang tersinggung, beneran, yang terjadi ya datar aja, gaseru, gaasik. Justru ketersinggungan itu dibutuhkan, namun, namun dengan substansi yang jelas dan dasar yang rasional, jangan asal tersinggung akan semua hal yang tidak sejalan dengan apa yang dipikirkan dengan alasan tidak sejalan saja, itu kan goblok.
Itu kan yang terjadi sekarang, semua orang rasanya terlalu cepat marah dan tersinggung akan suatu hal tanpa mau berdialog dan mencari tahu lebih lanjut mengenai apa yang terjadi, apa yang menjadi sorotan, atau sederhana nya mempertanyakan maksud, orang banyak tidak mau melakukan hal itu, pokoknya marah marah aja, dan orang orang bangsat semacam ini skala nya besar sekali, bukan satu dua saja. Saya sendiri sebenarnya juga tipikal orang yang terkadang di situasi tertentu bisa sangat lantang menyampaikan ketersinggungan saya akan apa yang ditulis atau disampaikan seseorang jika itu sifatnya sangat mengganggu atau tidak etis, namun apa yang saya lakukan juga berdasar, saya tersinggung dan mengkritisi subjeknya bukan menyerang atau mengkritisi secara personal kepada orangnya mengatasnamakan subjektivitas saya kepadanya, karena ya kalo yang lo kritik orangnya hanya karena emang lo benci itu kan berarti elo nya yang goblok sat.
Juga, ini penting, buat kamu kamu yang idealis, vokal, reaksioner dan semacamnya lah. Selalu niatkan sedari awal bahwa memang intensi mu tidak untuk menyinggung seseorang atau pihak manapun, karena jika kau menulis, ngomong, membuat ilustrasi, atau menyampaikan apapun yang langsung diterima oleh publik kau juga harus tau apa konsekuensi yang mungkin bisa saja kau dapatkan, tersebutlah ketersinggungan orang lain, kau harus mau dan mampu menjelaskan intensi dan tujuanmu.
Terakhir, buat lo lo pada yang emang gampang tersinggung, marah, sebel, ya silahkan. Tapi bisa dong menyampaikan ketersinggungan dengan cara baik dan etis, tidak dengan somasi dan ngancem ngancem bunuh? Bisa dong sedikit kompromi dengan berdialog atau membuka ruang diskusi, tidak dengan frontal mengkafirkan orang yang tak sepaham, bisa dong?
Komentar