Langsung ke konten utama

Silakan Tersinggung

Pernah membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa ada ketersinggungan? Tanpa ada yang marah-marah? Tanpa ada yang somasi dan persekusi? Bisa dan bebas untuk nulis, ngomong, berekspresi atau melakukan hal lainnya tanpa harus memikirkan perasaan orang lain. Enak dan damai ya pasti, tapi apa iya demikian? Nahh mari bahas dan telaah bersama di sini.

Bagi saya justru akan sangat aneh rasanya jika tidak ada ketersinggungan dan yang tersinggung, beneran, yang terjadi ya datar aja, gaseru, gaasik. Justru ketersinggungan itu dibutuhkan, namun, namun dengan substansi yang jelas dan dasar yang rasional, jangan asal tersinggung akan semua hal yang tidak sejalan dengan apa yang dipikirkan dengan alasan tidak sejalan saja, itu kan goblok.

Itu kan yang terjadi sekarang, semua orang rasanya terlalu cepat marah dan tersinggung akan suatu hal tanpa mau berdialog dan mencari tahu lebih lanjut mengenai apa yang terjadi, apa yang menjadi sorotan, atau sederhana nya mempertanyakan maksud, orang banyak tidak mau melakukan hal itu, pokoknya marah marah aja, dan orang orang bangsat semacam ini skala nya besar sekali, bukan satu dua saja. Saya sendiri sebenarnya juga tipikal orang yang terkadang di situasi tertentu bisa sangat lantang menyampaikan ketersinggungan saya akan apa yang ditulis atau disampaikan seseorang jika itu sifatnya sangat mengganggu atau tidak etis, namun apa yang saya lakukan juga berdasar, saya tersinggung dan mengkritisi subjeknya bukan menyerang atau mengkritisi secara personal kepada orangnya mengatasnamakan subjektivitas saya kepadanya, karena ya kalo yang lo kritik orangnya hanya karena emang lo benci itu kan berarti elo nya yang goblok sat.

Juga, ini penting, buat kamu kamu yang idealis, vokal, reaksioner dan semacamnya lah. Selalu niatkan sedari awal bahwa memang intensi mu tidak untuk menyinggung seseorang atau pihak manapun, karena jika kau menulis, ngomong, membuat ilustrasi, atau menyampaikan apapun yang langsung diterima oleh publik kau juga harus tau apa konsekuensi yang mungkin bisa saja kau dapatkan, tersebutlah ketersinggungan orang lain, kau harus mau dan mampu menjelaskan intensi dan tujuanmu.

Terakhir, buat lo lo pada yang emang gampang tersinggung, marah, sebel, ya silahkan. Tapi bisa dong menyampaikan ketersinggungan dengan cara baik dan etis, tidak dengan somasi dan ngancem ngancem bunuh? Bisa dong sedikit kompromi dengan berdialog atau membuka ruang diskusi, tidak dengan frontal mengkafirkan orang yang tak sepaham, bisa dong?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akrab Dengan Keasingan

Apa kemungkinan terburuk dari seseorang yang terus-menerus enggan membiasakan diri dengan keasingan?  Keasingan bisa hadir dalam banyak bentuk, pada objek, ruang, orang, momen, hingga kebiasaan. Suka atau tidak, siap atau enggan, rasanya kita semua pada akhirnya akan berhadapan dengannya. Keasingan bukan sesuatu yang bisa dihindari, melainkan sesuatu yang akan terus datang, dengan cara yang berbeda-beda. Masalahnya, meskipun saya sudah berulang kali berada dalam situasi yang serupa, saya tetap saja terasa pandir dalam mengelola perasaan yang muncul darinya. Aneh rasanya ketika kembali ke rumah makan yang sama, duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama, tetapi bersama orang yang berbeda. Atau keanehan lain yang muncul ketika harus memulai percakapan yang canggung dengan seseorang yang dulu begitu dekat, yang pernah menjadi pendengar sekaligus pencerita dalam keseharian. Hal-hal seperti itu selalu terasa ganjil untuk dijalani. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tapi tidak pernah...

Cara Bijak Bersosial Media

Zaman sekarang kebebasan dalam bersosial media sudah sangat luar biasa dan tak terbendung, semua orang bebas dan berhak berkomentar serta menyumbang opini mereka masing-masing tanpa adanya filter atau aturan teknis yang mengikat, jika dalam hal ini berkomentar dan beropini secara bebas diartikan sebagai " tukang nyinyir dan tukang ikut campur urusan orang " maka kesannya jadi negatif sekali, tapi tak bisa dipungkiri faktanya juga demikian.  Sekarang orang begitu mudahnya mencibir, mencela, mencaci/menghina di sosial media, Perbedaan visi ribut, Perbedaan pandangan, adu argumen siapa yang lebih benar dengan nada nada menjatuhkan dan meremehkan, Merasa seolah pendapat mereka yang paling benar dan mengkerdilkan pendapat yang lain, Tak usahlah perkara perkara besar semacam perbedaan pandangan politik atau perbedaan agama, Hal hal kecil dan sepele aja bisa ngebuat kita ribut dan adu mulut, sesederhana siapa yang lebih hebat antara messi atau ronaldo, atau sesederhana : apa yang...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...