Langsung ke konten utama

Kesetaraan Gender



Kesetaraan gender, suatu hal yang selalu menarik untuk disimak dan didiskusikan, secara umum kesetaraan gender bisa diartikan sebagai sebuah pandangan yang berorientasi pada keadilan dan mempunyai dasar bahwa semua orang berhak mendapatkan perlakuan yang sama dan setara tanpa adanya perlakuan diskriminatif atau pengecualian berdasarkan identitas diri atau gender mereka. Semua orang dalam semua hal, sama, tak ada pengecualian, entah dalam konteks politik, kehidupan bermasyarakat, atau dalam lingkungan pekerjaan, secara teori itu adalah tujuannya, tapi apakah prakteknya sudah berjalan semestinya ? Mari kita bahas dan diskusikan bersama

Pertama, sadari bahwa kesetaraan gender ini bukanlah suatu hal yang baru baru ini menjadi pembahasan, ini adalah sebuah hal yang sudah sekian lama digaungkan oleh mayoritas mereka kaum perempuan yang merasa didiskriminasi atau diperlukan secara berbeda karena gender mereka, banyak kasus dan tragedi mengenai perlakuan tak mengenakkan terhadap mereka mereka kaum perempuan yang dilakukan oleh para lelaki dalam realitas sosial masyarakat karena para lelaki tersebut merasa secara gender lebih tinggi atau lebih unggul dibandingkan perempuan, banyak terjadi, dalam dunia kerja, dalam hal demokrasi, atau dalam suatu kebijakan tertentu. 

Padahal jika dipikir-pikir tak ada yang aneh dalam perjalanan hidup manusia, manusia diciptakan berbeda-beda, maka semestinya diniatkan pula untuk saling melengkapi bukannya malah merasa bahwa yang "berbeda darinya" itu sama dengan "di bawah derajatnya" dan entah kenapa, dalam realitas sosial yang ada kaum laki-laki merasa lebih tinggi dan menganggap perempuan lebih rendah darinya. Logika dan nalar yang entah darimana datangnya dan harusnya menjadi pertanyaan besar kenapa bisa sampai ada pemikiran semacam itu, intinya, memperjuangkan hak untuk sekedar kembali ke gagasan dan teori awal mengenai "berbeda itu untuk saling melengkapi" tak boleh dan tak seharusnya berhenti untuk disuarakan.

Ada berbagai polemik dan pro kontra yang terjadi mengenai isu kesetaraan gender sendiri, ada yang berpendapat bahwa laki-laki terdiri dari sembilan logika dan satu perasaan sementara perempuan adalah sembilan perasaan dan satu logika yang berarti bahwa perempuan seharusnya diperlukan dengan baik, dijaga perasannya, karena mereka rapuh, emosional dan butuh dilindungi, juga bermakna bahwa laki-laki itu pelindung bagi kaum perempuan, mereka bersikukuh untuk memposisikan perempuan sebagai pihak yang pasif dan laki-laki sebagai pihak yang dominan, dalam banyak konteks, mulai dari pekerjaan, kebijakan, pengambilan keputusan bahkan sampai kepemimpinan laki-laki merasa bahwa mereka harus mendapat peran dominan dan berdiri di front depan, sementara perempuan mereka tempatkan di pilar belakang sebagai sosok  pasif.

Tapi jika ditinjau dari realitas yang ada, apakah teori itu benar adanya ? Mari kita bahas salah satu, dalam konteks kepemimpinan atau pemimpin perempuan, apakah benar kaum laki-laki yang selalu dominan menjadi pemimpin dan perempuan hanya menjadi pilar pasif di belakang, faktanya ? Tidak juga. Disadari atau tidak dan percaya atau tidak sudah sedari dulu ada figur pemimpin perempuan, mulai dari Sultanah Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam yang memimpin kerajaan Aceh atau Tribuwana Wijayatunggaldewi yang didaulat menjadi raja ketiga kerajaan Majapahit sampai figur-figur pemimpin perempuan modern semacam Atifete Jahjaga yang merupakan mantan presiden kosovo tahun 2011 hingga 2016 sampai mantan presiden kita sendiri Megawati Soekarnoputri yang menjabat sebagai presiden periode 2001 sampai 2004. Lebih spesifik dan spesial untuk diapresiasi mengenai Aceh yang banyak melahirkan nama nama pejuang dan pemimpin perempuan yang tak bisa dipandang sebelah mata, tersebutlah figur-figur hebat semacam Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Cut Po Fatimah sampai akhirnya peradaban modern melahirkan figur-figur baru seperti Margaret Thatcher sampai Hillary Clinton.

Itu cukup sejalan dengan konsep keluarga modern, dimana peran laki-laki dan perempuan sudah sama dan setara, tak ada lagi pembagian wilayah dan tata kelola kerja, laki laki bisa mengerjakan tugas yang tadinya identik dengan kaum perempuan seperti memasak atau menyetrika pakaian, pun dengan perempuan, sekarang banyak lahan pekerjaan yang membuka pintu secara terbuka kepada perempuan untuk melakukan hal hal yang mereka inginkan atau yang mereka tekuni secara bebas dan tanpa hambatan, banyak contoh sekarang perempuan berprofesi sebagai montir, kepala proyek, atau pekerjaan lain yang tadinya sangat tabu dan dihindari oleh perempuan.

Dalam esensi keadilan dan kesetaraan gender yang terjadi saat ini, ada satu hal yang cukup menyita perhatian saya secara pribadi, yaitu masalah kekerasan seksual, pelecehan seksual, dan pemerkosaan. Miris sebenarnya melihat realita yang ada ketika ada sebuah tragedi pelecehan atau pemerkosaan pihak yang disalahkan dan dianggap sebagai pemicu timbulnya masalah adalah pihak perempuan, mulai dari menganggap perempuan terlalu membuka aurat sampai isu bahwa perempuan adalah pihak yang memang sepantasnya di objektifikasi, banyak ketimpangan, ketidakadilan yang menyudutkan pihak perempuan, yang mana ketika mereka bersuara dan meminta dukungan kepada publik justru mereka yang dianggap bersalah dengan tudingan tidak bisa menjaga diri atau terlalu mengumbar aurat, yang secara tidak langsung bisa saya simpulkan bahwa negara ini jomplang dan tidak cukup adil dalam menangani kasus ini, jadi pertanyaan besarnya sekarang adalah sudahkah kesetaraan gender itu benar terjadi ? Atau hanya sekedar teori dan pandangan yang disuarakan secara formalitas belaka ketika memperingati hari perempuan saja ? Secara personal saya pro dengan kesetaraan gender, saya mendukung adanya keadilan dan kesetaraan bagi mereka kaum perempuan, tapi saya kurang setuju dengan konsep feminisme dimana perempuan menuntut persamaan hak "sepenuhnya" antara kaum perempuan dan laki-laki.

Saya setuju dengan kesetaraan dan keadilan, tapi tidak dalam konteks "sepenuhnya", kenapa saya tidak setuju ? Karena saya pikir semandiri apapun perempuan, secerdas apapun perempuan, sehebat apapun, meski kemanapun sudah berani sendiri, pulang larut malam sendiri, membuat perjalanan jauh dengan percaya diri, atau sudah akrab dengan hal hal ekstrim dan berbahaya. Dalam satu masa perempuan akan selalu ada perasaan untuk dilindungi dan diayomi, sekuat apapun dia secara fitrah dan nalurinya dia ingin dilindungi, ingin menggantungkan diri pada sesuatu yang menurutnya lebih kuat, bukan karena perempuan lemah atau bukan karena dia tidak bisa, tapi lebih kepada perasaannya sendiri, ada rasa aman ketika dilindungi dan ada perasaan nyaman ketika diayomi.

Dalam penutup tulisan ini, saya ingin sedikit mengucap harap, harapan akan hal-hal baik semoga perempuan mendapatkan perlakuan adil serta menerima hak dan melakukan kewajibannya secara semestinya, harapan semoga laki-laki tidak berlaku seenaknya, tapi justru menjaga, mengayomi perempuan sebagaimana fitrahnya. Karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan itu satu, mereka diciptakan bukan untuk saling beradu, tapi untuk di bersamakan dalam doa didepan penghulu, terimakasih, dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...