Langsung ke konten utama

Berpindah Ruang

Bagi saya, hidup ini perihal perpindahan dari ruang satu ke ruang lainnya. Dalam setiap ruang selalu ada cerita, warna, kesan, pengalaman yang entah menyenangkan atau justru memuakkan, selalu. Karena tidak seharusnya juga makhluk bernama manusia stagnan dan menetap hanya di satu ruang yang sama selama hidupnya, tidak seharusnya, jadi, fakkkk to zona nyaman, itu bullshit. Orang yang bilang bahwa dia senang, aman di satu ruang yang dilabeli dengan zona nyaman adalah orang yang penakut dan pengecut menurut saya, iyaa, dia terlalu takut untuk berpindah dan mengeksplorasi ruang ruang baru dalam hidupnya, dengan alasan nyaman sebagai pembelaan, halahhh tai.

Memang tak ada jaminan bahwa di ruang baru ketika seseorang berpindah akan lebih baik, lebih seru, jelas tak ada jaminan dan yang ada malah hanya resiko, tapi bukankah resiko terbesar manusia adalah ketika dia tidak berani mengambil resiko ?

Lagipula saya juga percaya bahwa berpindah adalah sifat manusia yang alamiah, bukan dari pencarian atau sesuatu yang harus di biasakan. 

Setiap ruang satu dan lainnya selalu berkaitan meski tak mesti bersebelahan. 
Ruang ruang itu berupa, tapi tak selalu serupa. 
Ruang ruang itu bervariasi, soal jumlah, luas dan warna. 
Ruang ruang itu unik, tergantung interpretasi dan cara memaknai.

Ruangku, belum seberapa luas namun begitu berwarna-warni, sebab, banyak yang datang pergi memberi warna juga arti.

Ruang mu, bagaimana ?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...