Langsung ke konten utama

BUMI MANUSIA

Nyai Ontosoroh, Darsam, dan Jean Marais. Tiga karakter yang melambungkan ekspektasi saya ketika selesai membaca buku Bumi Manusia, jelas, tanpa mengesampingkan karakter lainnya tentu. Namun ketiganya jadi sorotan bagi saya pribadi

Saya menginterpretasi dan membangun visualisasi tentang ketiganya sedemikian kompleks dalam bayangan saya, dengan harap ketika ketiganya muncul dalam film akan sama atau paling tidak masih kuat korelasinya dengan apa yang ada di kepala saya. 

Dan, kenyataan di filmnya adalah...... .. . .. .. . ..

Luar biasa, sejujurnya saya sampai lupa kapan terakhir kali benar benar bisa menikmati sebuah film, benar benar bisa merasakan emosi dari setiap adegan, benar benar dibawa masuk, merasuk ke dalam alur cerita. Semua itu saya rasakan, tuntas, klimaks, dan teramat sentimentil. Sampek nangis lhooo

Bumi Manusia, sebuah film adaptasi dari buku dengan judul yang sama, satu dari empat mahakarya pak Pram yang terangkum dalam Tetralogi Pulau Buru.

2jam56menit, setidaknya lama durasi film yang tercatat dalam timer di hp saya. Durasi yang cukup panjang untuk ukuran film indonesia, namun semua tak terasa karena begitu padat dan menariknya setiap adegan, begitu disayangkan rasanya untuk dilewatkan, bahkan hanya untuk satu kedipan.

Bumi manusia bukan sekedar film, lebih dari itu, lebih besar, lebih kompleks, rumit namun menarik, berat tapi bikin candu. Tentang bagaimana kisah cinta penuh liku antara dua insan yang penuh perjuangan, bukan perihal jarak, sering ngambek satu sama lain atau perihal receh semacam telat memberi kabar, perjuangan mereka, tentang banyaknya pertentangan, strata sosial, dan menyangkut jatidiri bangsa, kompleks dan penuh perjuangan, kan ?

Selain mengangkat cerita romansa, Bumi Manusia juga memaparkan bagaimana kehidupan sosial, hakikat budaya, dan implementasi kehidupan modern dan bebas yang dikemas dengan begitu menarik. Mengangkat bagaimana kejam dan dan tidak adilnya perbudakan, pergundikan serta membahas tentang strata kehidupan manusia, Pribumi - Indo - Eropa yang akhirnya membuat saya menyimpulkan satu hal, bahwa beruntungnya saya lahir, tumbuh, besar, dan hidup di jaman sekarang.

Kiranya, cukup membahas sinopsisnya, jika merasa kurang atau tak sependapat mari diskusikan secara langsung.

“Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” 

Kalimat singkat namun begitu bermakna dari Nyai Ontosoroh, salah satu kalimat terbaik dan favorit saya.

Nyai Ontosoroh (Sanikem) diperankan dengan begitu luar biasa oleh Ine Febriyanti, sumpah. Dia menjadi favorit saya dalam film, ekspektasi yang saya bangun terealisasi dengan begitu apik sekaligus epic, dia berhasil menjadi Nyai Ontosoroh, sangat.

Darsam dan Jean Marais, keduanya ditampilkan dengan bagus, meski tak cukup memuaskan ekspektasi saya, tapi tak mengapa, biarkan itu jadi kompromi antara otak dan hati saya sendiri.

Ini adalah film yang hebat, dan sangat saya rekomendasikan untuk ditonton bagi yang belum. Hanung Bramantyo sebagai sutradara harus diacungi jempol atas kelihaiannya meracik alur dan merepresentasikan cerita dari buku ke dalam bentuk audio-visual, sangat memanjakan mata dan berestetika.

Harus diakui juga, bahwa Iqbaal berhasil membuat karakter Minke hidup, dari intonasinya, mimik dan gesture nya serta bagaimana cara dia menjadi Minke itu sendiri. Untuk kalian yang skeptis, meremehkan atau bahkan menganggap Iqbaal tak pantas menjadi Minke, baiknya tonton dulu filmnya dan silahkan bandingkan dengan apa yang saya tulis diatas, setidaknya apa yang saya tulis berdasarkan apa yang saya lihat, rasakan, dan saya coba se objektif mungkin.

Dua scene yang terasa amat dalam dan bermakna, minimal bagi saya sendiri, pertama scene di pengadilan eropa surabaya dan yang kedua bahkan membuat saya meneteskan air mata, yaitu scene perpisahan sekaligus kepergian Ann, believe me, its so deep cuy, faklahhh, beneran bikin nangis a.k.a mrebebes mili.

Sebenarnya tulisan ini didasari atas keinginan pribadi saya untuk mendeskripsikan dan mereview filmnya semata, tak ada niatan untuk spoiler, karena memang pada dasarnya tulisan ini diperuntukan kepada mereka mereka yang sudah menonton film nya, atau paling tidak mereka yang sudah membaca bukunya, kalo belom nonton dan baca ?

Ya nonton lah

Ya baca lah

Ah elahh, tai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...