Langsung ke konten utama

Perempuan tanpa nama

Jogja memang benar kota istimewa dengan berbagai kejutan yang tak henti-hentinya, tidak melulu soal destinasi, makanan, atau keramahan orang orangnya. Tapi lebih dari itu, tentang nilai dan pelajaran baru yang kutemui dan dapat di jogja. 

Suatu saat nanti aku ingin pindah dan hidup di jogja, kataku sekali waktu sewaktu SMP kepada diri sendiri, atau jika tak bisa tinggal dan menetap paling tidak bisa kuliah dan singgah, iyaa, beruntung, sejauh ini impian untuk berkuliah di jogja sudah tercapai, hanya tinggal menghitung tahun dan menunggu waktu untuk menetap dan menjadi bagian dari kota ini.

Cerita berikut adalah pengalaman dan kejadian nyata yang terjadi sewaktu kelas 2 SMA, tepatnya bulan april dua tahun lalu, cerita ini juga sebenarnya sudah pernah di posting di Instagram(dan masih ada) @fahmiisme, sekarang saya coba menuliskannya kembali disini dengan versi yang lebih lengkap dan lebih runut, selamat membaca.

Sekitar setengah 5 sore kala itu, sisi lain jogja, terminal giwangan diguyur hujan sore itu, tidak seberapa deras namun juga bukan pilihan yang tepat untuk tidak meneduh, rencana melipir ke warung makan sembari menunggu hujan reda ku urungkan karena transjogja sudah
tampak dari kejauhan. 
Setengah berlari aku menghindari hujan dan segera mengincar deret kursi paling belakang, ternyata belum ada penumpang dan aku segera meunuju arah pojokan, tak seberapa jauh dari tempatku duduk kulihat dua perempuan muda yang sedang berlarian menghindari hujan.

Sungguh aku berharap mereka juga akan naik transjogja sama sepertiku, dan benar saja, semesta baik sekali sore itu, mereka berdua naik dan duduk berdampingan dekat pintu.
 
Pandangan ku sungguh tak bisa lepas menatap salah satu dari mereka, rambut hitam pekat sebahu dengan kuncir rambut kecil di belakang, air max tampak jadi perpaduan yang cocok kala itu dengan baju putih lengan panjang dan celana hitam pendeknya. "kenapa harus gue sih yang disuruh buat dateng, kan lo tau sendiri rumah gue jauh dari bintaro" katanya dengan nada sedikit kesal tapi lucu. Yaa, kucoba mendengarkan obrolan mereka dengan seksama sambil curi curi pandang untuk menatap matanya.

Obrolan lo gue khas anak gaul jakarta yang begitu kental dengan gadget yang tak lepas dari genggaman, dan bukan hanya sekali, tapi benar benar seringkali aku mencuri pandang dan berharap dia menyadarinya, agar keinginan bertegur sapa atau saling menanyakan akun instagram tak hanya jadi angan.

Sepanjang jalan, mataku tak berhenti dan seolah tak mau berhenti untuk melirik parasnya. Sayangnya nyaliku terlalu ciut kala itu, bahkan untuk sekedar basa basi semacam dia mirip dengan artis idolaku atau salah satu temanku, yang tentu saja bohong pun aku tak berani melakukannya.

Aku hanya bisa menebak secara acak siapa kira kira namanya, yang kudengar, temannya hanya memanggil ca,ca dan ca. Entah Icha, Ocha, Acha atau Caca, atau jangan jangan namanya anca, entahlah. 

Otakku terus berputar memikirkan nama yang sekiranya cocok untuknya.
Kupikir dia seumuran denganku kala itu, 17/18 tahunan, tinggi semampai, dengan senyum kecil yang begitu indah dan terlihat tulus sekali. Tak terasa aku hampir sampai di tujuanku, rasanya panik dan pengen mencret karena sedari tadi hanya berani mengagumi secara diam diam tanpa melakukan apapun. Bodohnya, beberapa saat sebelum transjogja berhenti dan sampai di tujuan pemberhentianku, aku masih terduduk dan tak melakukan apapun. 

Dan, luar biasa, semesta seolah mendukung dan memberiku kesempatan kedua karena ternyata kami sama sama berhenti dan turun di tujuan yang sama. Halte 1 malioboro, tengah kota, di pusat keramaian kota jogja. Rasanya ingin sekali menghampiri dan memperkenalkan diri, tapi rasanya langkahku seperti terhenti, apa apa saja yang ingin kuucapkan seolah tertahan, nyaliku ciut tak karuan. GOBBBLOOOKKKK !!!!!! Teriakku pada diri sendiri, benar, aku baru saja melewatkan momentum tersebut, iyaa, aku menyesal dan menyalahkan diri sendiri. Andai saja aku berani menegurnya, mungkin aku akan dapatkan nomernya atau paling tidak tau namanya.
 
Sayangnya aku terlalu takut, terlalu takut menerima resiko penolakan atau diabaikan. Tentu, aku benci penolakan. Dan sampai saat ini, dia masih tetap jadi perempuan tanpa nama dalam hidupku. Dia yang rambutnya hitam indah sebahu. Dia yang gadgetnya tak lepas dari genggaman. Dia yang senyumnya kubilang tulus dan indah sekali. Dia yang hidupnya tidak bertambah atau berkurang suatu apapun karena gagal kutaklukkan dan kuajak berkenalan. Dia yang hilang dalam kerumunan wisatawan jogja.

Dia, ca. Sang perempuan tanpa nama, yang parasnya terbayang lekat di penjuru kepala, yang karena nya, aku dibuat tak bisa berkata kata.

Jogjakarta, 12 April 2017


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...