Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2021

Bangun, Bajingan

Ya, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Rasanya saya sudah dimenangkan oleh film ini sejak scene pertama barangkali, yang membuat saya berujar what the fuck, yang nyatanya jadi kalimat repetisi yang sering saya ulangi di scene scene ke belakangnya. Sejujurnya, saya bingung harus darimana mengulas dan menilai film ini, ini film yang benar-benar brengsek, luar biasa liar, eksotis nan erotis, gelap namun juga berkilauan di banyak layer, skenario dan cast nya solid dan kokoh bukan main. Menyoal production designer dan art director, artistik dan dunia yang dibangun di film ini adalah mahakarya, luar biasa indah dengan suguhan 80-90an sampai-sampai saya bisa merasa hidup di jaman yang bahkan belum tau rasanya hidup. Saya disuguhi banyak sekali rasa dalam film ini, kegetiran, kengerian, haru pilu tentu, juga kepuasan yang berlebih. Luar biasa, salah satu film yang rasanya akan susah keluar dari ingatan kepala saya. Film ini membawa sedemikian banyak isu penting dan dikuliti hingga spek...

Losmen Bu Broto

Putri Marino invasion. Mari kita mulai dari situ. Tak berlebihan rasanya jika saya bilang kualitas akting Putri Marino sebagai Mbak Pur luar biasa meyakinkan secara meta maupun emosi, saya berhasil dibawa ke realita fiksi dalam dunia yang dialami mbak Pur tentang seberapa miris dan memilukan kisah asmaranya yang ternyata berdampak sedemikian signifikan sepanjang film, kemarahan dan kesedihannya barang tentu adalah sesuatu yang banyak dieksploitasi secara verbal maupun metafor di banyak scene, tapi saya menyoroti satu hal, matanya, sungguh sangat menyiratkan banyak pesan yang lebih kuat dari sekadar tangis atau kemarahan yang dia keluarkan. Bagi saya, mbak Pur adalah kebanyakan dari kita, yang lebih banyak memendam rasa dibandingkan mengutarakan, yang lebih baik menghindari daripada melawan, pada akhirnya itu hanya jadi bom waktu yang akan meledak tanpa tanding, berbeda dengan adiknya, Sri, yang cukup fluktuatif dalam mengeluarkan emosi yang dirasakannya, tawa tangis redam perlawanan si...

Arsip rasa

Ketika memulai tulisan ini, saya coba menarik mundur dan memunculkan kembali perasaan paling sakit yang pernah saya rasakan, kehilangan. Berminggu-minggu atau beberapa bulan belakangan ini bahkan, rasanya saya tidak benar-benar mampu mendefinisikan sedemikian banyak rasa yang saya lewati, semuanya hampir terasa hampa, saya tak benar-benar bisa merasakan bagaimana rasa bahagia juga sedih setidaknya 3 bulan terakhir, padahal saya merasa itu sesuatu yang perlu. Semuanya terasa seolah baik-baik saja padahal jelas ini bukan sesuatu yang baik. Saya sampai di satu titik ketakutan bagaimana jika ternyata saya mati rasa di beberapa spektrum tertentu.  Melihat video-video dari orang yang filantropi dengan memberikan sumbangan kepada para fakir juga tak sampai hati memunculkan empati dalam diri saya, pun ketika melihat momen-momen kebahagiaan yang berseliweran di sosmed, biasa saja. Pertanyaan muncul berdatangan, bagaimana jika ternyata memang mati rasa, bagaimana jika ternyata memang perlu m...