Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Membunuh mimpi

Seringkali, yang terjadi, seringkali juga, yang dilakukan tanpa sadar, atau bahkan dengan kesadaran penuh. Setiap orang adalah pembunuh bagi mimpinya masing-masing. Tentu, bukan orang lain, bukan semesta, bukan juga situasi, tapi ya memang diri sendiri saja. Saya baru saja melakukanya, Saya membunuh salah satu mimpi untuk memperluas jangkauan pembaca tulisan saya, dan tentu, saya melakukannya penuh kesadaran.  Sebagai seorang yang kerap menulis, ada dan besar sekali keinginan untuk tulisan saya dibaca, sebanyak-banyaknya orang pun tak mengapa, hanya saja, saya masih terlalu naif dan belum bisa mengesampingan ego dalam diri saya.  Saya menginkan tulisan saya dibaca banyak orang, namun saya juga sangat mengedepankan konsep idealisme, bahwa saya mau menulis apa yang memang ingin saya tulis, tanpa filter, tanpa kurasi, tanpa pola, bebas saja, semau saya. Di situasi ini, perang batin terjadi, antara harus tetap idealis demi memberi makan ego, atau kompromi dan mencoba realistis. Ko...

Sudah

Aku menyendiri  Dengan beragam tanya tanpa jawab Dengan beragam pilu tanpa tawar Dengan beragam penat tanpa jeda Dengan beragam tangis tanpa seka Ini semua, karenanya Yang pernah berdua Yang pernah bahagia Yang pernah memadu Yang pernah merindu Namun, sirna semua sudah  Kini hanya sisakan kenang, dan mungkin sedikit senang Padanya, entah bagaimana caranya, entah kenapa Pernah dalam sekali ku jatuhkan hati Tanpa ragu dan pikir dua kali Bagiku, dia adalah pelengkap dari yang kurang Penyelesai dari yang buntu Penawar dari yang getir Penenang dari yang gaduh Bagiku, dia selalu bagian diriku Hingga kini, dan aku tidak mau menyudahi.

Story of Kale

Film ini adalah prekuel salah satu karakter dari universe NKCTHI, Kale. Let's do, to the point. Angga Sasongko sebagai sutradara rasanya cukup berhasil menarik mundur dan memulai rasa sakit pada diri Kale sebelum bertemu Awan, bagaimana proses sebelum Kale memiliki prinsip bahwa kebahagiaan setiap orang adalah tanggungjawab masing-masing, sebuah kalimat yang terus menempel di kepala saya ketika pertama kali menonton NKCTHI.  Dalam prekuel ini, Kale dihidupkan sebagai seorang sweet talker yang penuh buaian, di sisi lain, juga sesekali dibumbui ketidakstabilan emosi dan agak meledak-ledak, bagus, tapi entah kenapa rasanya ada yang kurang. Saya yang memposisikan diri sebagai penonton, merasa kurang dengan kedalaman cerita dan rasa itu sendiri, prekuel ini unggul dari aspek skenario, dengan kalimat-kalimat yang mungkin setelah kalian menonton bisa dijadikan quote di wallpaper hp atau tembok kamar. Tapi, skenario saja rasanya juga tidak cukup menutup kompleksitas yang ada, sungguh, sepa...