Langsung ke konten utama

Kita Akan Bercerita Hari Ini

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, satu dari sedikit film yang saya merasa secara pesan tersampaikan dengan sangat baik kepada penonton, termasuk saya pribadi. Saya merasa NKCTHI sangat personal dan dekat sekali, juga dari sana pada akhirnya saya berhenti pada satu kesimpulan utuh terhadap film ini, yaitu "Mengagumkan". Berlebihan ? Tidak sepertinya, saya menyadari setidaknya ada tiga poin krusial dalam film ini yang menjadikannya kian mengagumkan, adalah skenario, alur, dan detailing.

Saya berani vokal bahwa ini adalah salah satu film dengan skenario terbaik yang pernah saya tonton, saya meyakini beberapa atau bahkan banyak penonton yang merasa teramat sentimentil dengan skenario yang dibangun dan direpresentasikan dalam film ini, begitu mendalam, berkesan, namun tidak dengan porsi yang berlebihan. 

Dalam film ini juga, alur adalah salah satu hal yang paling menjadi sorotan ketika saya menonton, bayangkan saja, dalam satu film dengan alur maju mundur dan dengan karakter yang sama namun di tiga masa yang berbeda, tailahhh, itu begitu menakjubkan. Saya meyakini tidak banyak filmmaker atau sutradara yang mau dan mampu memikirkan, mendesain, serta mengeksekusi alur semacam itu, karena juga bukan suatu hal yang mudah dan murah. Maka dari itu dalam hal ini saya mengapresiasi sekali kepiawaian Angga Sasongko dalam merepresentasikan buku menjadi sebuah audiovisual dan dengan alur yannggg....... edaannn.

Detailing, Angga Sasongko sangat terperinci terhadap hal hal kecil yang mungkin tidak banyak penonton sadari. Banyak sekali, mulai pemilihan dan penempatan soundtrack, pengadeganan sampai blocking karakter, terbukti bagaimana Aurora digambarkan begitu dingin dan penuh pertanyaan serta rahasia dalam dirinya, itu semua digambarkan melalui mata. Atau contoh lain bagaimana Angkasa yang kerap diposisikan diantara pintu dan ruang, untuk membangun sebuah imaji dan kesan bahwa Angkasa adalah penjaga yang setia (Perhatikan bagaimana cara Angkasa saat masuk ke kamar Aurora dan Awan, atau saat scene anggota keluarga berpelukan di kamar) Contoh lain lagi ketika Aurora menyiapkan kado untuk Awan, dengan posisi sinar matahari pas ditengah dan menyinari studio(bukan bengkel) dengan sempurna, Hal sedetail itu terpikirkan, dan memang sengaja di pikirkan.

Rasanya, film ini adalah film yang pas untuk dijadikan benchmark sebuah film yang secara penyampaian pesan sangat tersampaikan dengan apik, karena saya percaya film itu bukan soal bagus atau jelek. Melainkan perihal sampai atau tidaknya pesan kepada penonton.

Doa dan harapan saya di akhir tulisan ini, semoga nanti, entah kapan, Angga Sasongko akan membaca tulisan ini, saya ingin berterima kasih, atas banyak sekali muatan yang terkandung dan disampaikan dalam film ini, mulai dari segi kreatif sampai teknis, sangat membuka pikiran saya yang juga berkeinginan membuat film sendiri kelak, terimakasih banyak.

Dan terakhir, terimakasih telah menghidupkan Aurora.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh Cinta Sendirian

Alvin kembali bercerita, dari informasi baru yang didapatkannya entah dari mana. Kini ia tahu es krim favorit Rara adalah Vanila, film kesukaannya Before Sunrise, akhir pekannya banyak dihabiskan di kamar untuk journaling atau ke gigs, Rara cinta mati dengan LANY dan Reality Club, serta aktor idolanya adalah Tom Hiddleston. Layaknya detektif pencari fakta, Alvin tahu banyak soal Rara, sayangnya, Rara tidak sedikitpun tahu perihal Alvin, setidaknya hingga kini. Alvin hanya bisa mengagumi dari kejauhan, yang katanya sedang mengumpulkan niat, tapi tak kunjung penuh untuk sekadar bertegur dan memperkenalkan diri. "Aneh, kok bisa orang mendam rasa gitu lamanya, tapi kenalan aja gak berani?" desakku pada Alvin sekali lagi, karena aku memang sebegitu penasaran. "Gimana ya caranya? Gue takut ini gak berbalas" keluhnya padaku yang lagi-lagi sama. "Anggap aja ini kesempatan sekali dan satu-satunya," aku berusaha meyakinkannya dengan nada tidak yakin. Rara adalah tem...

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...