Langsung ke konten utama

Arus Idealisme Dan Banyaknya Tai

Bagi beberapa orang idealisme adalah hal yang teramat penting, sangat penting. Seolah idealisme adalah satu satunya hal yang diagungkan sampai nalarnya lupa bahwa ada yang namanya pragmatisme dan kompromi.

Begini, bagi saya setiap orang punya idealisme masing masing dalam dirinya, setiap orang idealis akan suatu hal, yang membedakan hanya kadar dan interpretasinya, serta caranya bersikap. Justru aneh rasanya ketika seseorang sama sekali tidak idealis, bahkan selain idealis harusnya setiap orang juga skeptis dalam beberapa hal, harusnya.

Namun tidak demikian ternyata, mereka mereka yang begitu mengagungkan idealisme seringkali melabeli orang orang yang tidak menunjukkan idealisme nya seperti mereka, banyak terjadi. Merasa besar, merasa tahu segala, merasa, fakklah. Hingga pada akhirnya ada sebuah fase dimana orang orang yang sebelumnya tidak peduli dan bodo amat dengan idealisme mulai mencari, membangun, dan menunjukkan idealisme nya masing masing. Idealisme yang mulanya terkesan begitu esensial dan prinsipil lambat laun menjadi sebuah aliran yang begitu universal.

Adil, karena memang semua orang berhak idealis. Tapi yang begitu tai dari fenomena ini adalah banyak orang yang hanya sekedar ikut arus dan main idealis-idealis an, demi status sosial, demi kesan orang lain, demi diterima di lingkar pertemanan. Tai, asli.

"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda". Salah satu kutipan yang cukup tersohor dari Tan Malaka, intinya idealisme adalah hal yang memang diperlukan dan dimiliki, terlebih oleh generasi muda, poinnya, idealis lah, namun dengan porsi yang pas dan tempat yang sesuai.
 Idealisme harus berdasar juga berakar, yang tak kalah penting, idealisme harus berakal. 


Bagaimana, sudah se idealis apakah dirimu ? sudahkah sesuai porsi dan tempatnya ? juga, banyak kah tai tai di sekitarmu yang ikut arus ?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sialnya, Kita Tidak Pernah Sepakat Soal Rasa

Jadi, sebenarnya apa benang merah yang mempertemukan kita di titik tengah? Kamu yang cinta mati dengan manis, kerap mengalah karena rasa paling enak bagiku selalu asin Atau, kamu yang selalu berhati-hati untuk tidak menyinggung perasaan, harus memahami aku yang suka bercanda jelek tak berperasaan  Aku tak menyangkal, kita memang tak korelatif soal selera musik, film, buku, tempat, hingga kebiasaan dan cara mengisi waktu luang Sialnya, contoh barusan hanya segelintir kecil dari yang besarnya kita pun sama-sama belum tahu akan seberapa  Barangkali, kita memang tidak pernah bertemu di tengah, kalaupun benar, aku pun tak mengapa Ideal itu satu hal, jujur saja kita belum. Tapi, masuk akal itu hal lain, ku harap kita sudah Entah rasa macam apa yang ku pakai juga percayai, yang jelas semua ketidaksepakatan ini terasa masuk akal. Masuk akal untuk dijalani, masuk akal untuk dirasakan, masuk akal untuk dipupuk dan dikuatkan  Aku pernah bilang, bahwa kita tidak perlu memaksakan, han...

Bangun, Bajingan

Ya, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Rasanya saya sudah dimenangkan oleh film ini sejak scene pertama barangkali, yang membuat saya berujar what the fuck, yang nyatanya jadi kalimat repetisi yang sering saya ulangi di scene scene ke belakangnya. Sejujurnya, saya bingung harus darimana mengulas dan menilai film ini, ini film yang benar-benar brengsek, luar biasa liar, eksotis nan erotis, gelap namun juga berkilauan di banyak layer, skenario dan cast nya solid dan kokoh bukan main. Menyoal production designer dan art director, artistik dan dunia yang dibangun di film ini adalah mahakarya, luar biasa indah dengan suguhan 80-90an sampai-sampai saya bisa merasa hidup di jaman yang bahkan belum tau rasanya hidup. Saya disuguhi banyak sekali rasa dalam film ini, kegetiran, kengerian, haru pilu tentu, juga kepuasan yang berlebih. Luar biasa, salah satu film yang rasanya akan susah keluar dari ingatan kepala saya. Film ini membawa sedemikian banyak isu penting dan dikuliti hingga spek...

Kita Ini Apa?

Kenapa hubungan harus selalu definitif? Kenapa pula harus selalu punya nama dan legalitas, apa tidak bisa dijalani begitu saja, apa adanya, kenapa? Jadi, hubungan kita ini apa? Kalimat singkat yang beberapa tahun belakangan jadi perang tak kunjung usai, entah secara batin atau logika. Sejujurnya, saya selalu keberatan menjawab pertanyaan barusan, alih-alih menjawab serius penuh kepastian, saya lebih suka memalingkannya dengan jawaban guyon yang tentu saja tidak memuaskan. Bagi saya, hubungan dua orang itu selalu dan terlalu kompleks, tak semua mau dan mampu menjalani komitmen dengan rasa yang penuh dan sama besarnya, seratus persen saya berani bertaruh untuk itu. Saya teringat, ada seorang kawan yang telah menjalani hubungan setidaknya sepuluh tahun lamanya, tentu itu hal yang jauh dari kata mampu untuk bisa saya lakukan hari ini. Saya pernah menanyainya dengan penuh absurditas, apa yang membuat dia bisa bertahan sedemikian lama, jawabannya valid, tapi tak memuaskan ego saya. Akhirnya ...