Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2019

Nadir

Diambang batas waras Diantara sekat yang mengikat Kacau dan rumit sekali Hancur lebur hilang bentuk Kesal disertai bermacam sesal Menyatu menyeru Merasa hilang asa Serta sibuk merasa rasa Menuju satu jawaban Selalu tanpa beda Menghadapi ragam persoalan Seolah tanpa jeda Rasanya ini akhir Dari semua kehendak takdir Aku melihat kegelapan Pekat dengan banyak penderitaan Aku menjumpai malam Berkutat dengan sang waktu Aku di titik nadir Penuh penyesalan tak terbalas Diujung jalan sana Yang sejatinya tak berujung Kisah baru dimulai Tentang apa dan siapa aku ini sebenarnya

BUMI MANUSIA

Nyai Ontosoroh, Darsam, dan Jean Marais. Tiga karakter yang melambungkan ekspektasi saya ketika selesai membaca buku Bumi Manusia, jelas, tanpa mengesampingkan karakter lainnya tentu. Namun ketiganya jadi sorotan bagi saya pribadi Saya menginterpretasi dan membangun visualisasi tentang ketiganya sedemikian kompleks dalam bayangan saya, dengan harap ketika ketiganya muncul dalam film akan sama atau paling tidak masih kuat korelasinya dengan apa yang ada di kepala saya.  Dan, kenyataan di filmnya adalah...... .. . .. .. . .. Luar biasa, sejujurnya saya sampai lupa kapan terakhir kali benar benar bisa menikmati sebuah film, benar benar bisa merasakan emosi dari setiap adegan, benar benar dibawa masuk, merasuk ke dalam alur cerita. Semua itu saya rasakan, tuntas, klimaks, dan teramat sentimentil. Sampek nangis lhooo Bumi Manusia, sebuah film adaptasi dari buku dengan judul yang sama, satu dari empat mahakarya pak Pram yang terangkum dalam Tetralogi Pulau Buru. 2jam5...

Arus Idealisme Dan Banyaknya Tai

Bagi beberapa orang idealisme adalah hal yang teramat penting, sangat penting. Seolah idealisme adalah satu satunya hal yang diagungkan sampai nalarnya lupa bahwa ada yang namanya pragmatisme dan kompromi. Begini, bagi saya setiap orang punya idealisme masing masing dalam dirinya, setiap orang idealis akan suatu hal, yang membedakan hanya kadar dan interpretasinya, serta caranya bersikap. Justru aneh rasanya ketika seseorang sama sekali tidak idealis, bahkan selain idealis harusnya setiap orang juga skeptis dalam beberapa hal, harusnya. Namun tidak demikian ternyata, mereka mereka yang begitu mengagungkan idealisme seringkali melabeli orang orang yang tidak menunjukkan idealisme nya seperti mereka, banyak terjadi. Merasa besar, merasa tahu segala, merasa, fakklah. Hingga pada akhirnya ada sebuah fase dimana orang orang yang sebelumnya tidak peduli dan bodo amat dengan idealisme mulai mencari, membangun, dan menunjukkan idealisme nya masing masing. Idealisme yang mulanya terkes...